Thursday, 27 May 2021

Reuni Kecil Dengan Teman Putih Merah Idul Fitri 1442 H

Idul Fitri 1442 H masih dirundung Covid-19, sehingga situasinya jadi kurang exitinglah. Sholat di rumah, apa-apa di rumah. Bahkan silahturahmipun jadi gak bisa. Terlebih lagi akhir-akhir ini pandemi Covid-19 di Sumatera melonjak tinggi. Di kantor terhitung 60 orang karyawan terpapar Covid. Komplek perumahanku juga menjadi zona merah parah. Jadi benar-benar terbelenggu dan ada rasa khawatir juga. Teman dekat, rekan kerja, tetangga ada yang meninggal karena Covid membuat aku sangat hati-hati.

Aku memang sangat patuh dengan aturan pemerintah semua aku ikuti. Benar-benar mantep di rumah saja. Eh...ndilalah tiba-tiba salah seorang teman alumni SD chat ke WA. Bilang mau ke rumah dengan seorang teman SD yang baru datang dari Jakarta. Waduh... betapa khawatirnya aku. Mau kutolak gak enak, toh tidak setiap hari mereka datang. Jadi serba salah... sampai malam hari aku masih gelisah memikirkannya. Serba salah...serba gak enak. Akhirnya menjelang tidur malam baru aku jawab. Oke. Jum'at aja. Nanti kita kulineran.

Jadi singkat cerita sampailah hari Jum'at. Sebelum berangkat saat sholat Dhuha do'aku panjang sekali, minta dilindungi oleh Allah. Takut sekali aku... namun segala ikhtiar sudah dilakukan seperti PROKES.   Kami kulineran ke Pindang mbok Dal. Wisata kuliner yang sudah lama sekali aku inginkan. Lokasinya keren. Design interiornya penuh pernik antik dan vintage keren. Rupanya dijual. dan aku hampir tergoda kalau gak inget rumahku sudah penuh.







Monday, 5 April 2021

TAMAN PAKRI

Libur Paskah di hari Jum'at tanggal 2 April 2021 hmmm...panjang angan-angan berandai andai jika ini bukanlah zaman pandemi. Hehheee.. tapi sudahlah tak perlu meratapi kondisi, bukankah masih tetap bisa memanfaatkan situasi. Seperti biasa janjian lagi dengan Atun dan Ratna. Pada awalnya cuma ingin nongkrong dan kulineran saja. Dan seperti biasa pula otakku ini selalu menangkap kesempatan baik di setiap moment. Jika hanya kulineran saja, sepertinya terlalu cepat deh janjian jam 10 OTW. Kenapa tidak cari-cari spot menarik buat nyampah di instagram.

Hahaaaa... tadinya aku ingin ke Graha Tanaman Kaktus di daerah Sangkuriang Sako, karena sempat melihat timeline seorang teman di Facebook. Keren banget dah nuansanya seperti di daerah Timur Tengah gitu. Dan akupun mulai browsing mengulik-ngulik ada apa saja disana? Pertama berusaha DM dengan Dhora yang pernah posting foto disitu di FB nya. Dari Dhoralah dapat informasi lokasinya dimana, apa saja yang ada disana. Hmmmm...ternyata disana adalah graha jualan kaktus dan pot-pot teracota. Itu aja! Aku jadi mikir, meskipun cuma numpang foto-foto doang tidak enaklah kalau tidak beli. Minimal beli 1 atau 2. Terus aku browsing lagi. Ternyata untuk 1 tanaman kaktus itu harganya sekitar 300 ribuan. Itupun sudah diskon. Ah...mahal kalau cuma buat iseng beli. Lagipula di rumahku sudah banyak kaktus (3 buah). Space sudah tak ada lagi. Batal ahhh... kesini!

Otak mulai mikir lagi mau kemana. Ahay....aku inget Atun pernah cerita tentang Taman Pakri. Hmmm... kenapa tak coba kesitu aja. Sudah deh kesitu aja. Tempatnya dekat ini! Malam-malam aku coba kontak Atun memaparkan rencanaku. Dan dia setuju. Okelah... Ratna tidak aku ceritakan tentang rencana ini, kayaknya dia bakal setuju deh! Bener saja pas hari H begitu dia sampe rumahku Ratna setuju.

Hari Sabtu tanggal 3 April 2021 jam 10 kami sudah OTW (enak nya janjian sama team bertiga ini adalah selalu ontime. Jadi tidak harus mengulur-ngulur waktu saling tunggu). Sampai di komplek Pakri kami masih meraba-raba lokasi pasnya dimana. Malah sampe ketemu dead end kok tak ada ya? Tadi memang ada gerbang besar yang pintunya cantik merah kuning putih coklat tua, sepertinya itu gerbang masuk ke taman yang secara selintas terlihat dari arah jalanan. Aku coba putar balik dijalan yang sempit. Kami melaju lagi dengan pakai perasaan alias intuisi, kami masuk ke jalan kecil yang mungkin tak akan mengira itulah pintu masuknya. Hanya karena kami melihat ada kedai minuman dijalan sempit itu instink kami memerintahkan masuk kesitu. Hahaaa... kayak detektif aja.

Kami parkir di depan gedung tinggi yang tertulis Rusunawa? Rumah susun?? Turun dari mobil diiringi matahari yang menyala kami masuk di sebuah halaman yang luas. Disana terdapat taman yang tertata rapi dan sangat bagus. Lantai, dinding warna-warni yang eyecatching. Juga spot-spot foto menarik. Seneng banget... bahagia aku meloncat, berlari sana-sini. Puas disatu tempat kami menulusuri lagi area ujung, dimana terdapat kolam ikan disana-sini, ikannya gede-gede dan lapar (pas kami melempar pelet yang kami beli dari anak kecil) ikan tersebut menyambar rakus. Lapar ya..?

Disana sini juga terdapat pondok-pondok dengan atap rumbia yang kekinian. Keren banget dah. Karena banyak kolam-kolam udara disini tidak begitu gerah meski matahari menyala. Angin juga sesekali berhembus kencang. Pokoknya tempat ini keren. Konsepnya bagus, tertata rapih, terawat. Aku tak tahu sebenarnya taman ini peruntukannya untuk apa? Taman bermain? Atau tempat pemancingan ikan? Atau apa? Apakah nantinya akan dibuka untuk umum? Atau hanya milik aset Kepolisian. Karena saat kami kesini, tak ada satu pengunjungpun, bahkan tak ada restribusi yang ditarik. Disana sini masih terlihat pekerja yang masih merapihkan atau finishing beberapa bagian dari taman ini.

Aku berharap tempat ini nantinya tetap terjaga dan terawat rapi, meski sudah dibuka buat umum. Tak ada kritik atau saran. Bener-bener keren. Konsepnya baik dan bagus. Kalau dari fasilitas yang tersedia aku menangkap bakal ada sejenis cafe atau kedai-kedai makanan, karena kursi-kursi, meja-meja, pondok-pondok sudah tersedia disana-sini. Alhamdulillah... bertambah 1 lagi fasilitas hiburan akhir pekan di Palembang. Great...!


Spot foto diawal pintu masuk

Kursi-kursi taman berjejer di pinggir kolam

Pondok-pondok juga dipinggir kolam

Spot foto

Bunga Matahari yang indah

Jembatan penyebarangan antara kolam, lihat tanamannnya belum jadi

Spot foto menarik juga nih

Pondok di atas kolam

Atap rumbianya menarik hati buat difoto

Ini pintu gerbang yang namapak dari jalan besar, tapi tertutup yang sempat bikin galau kirain gak buka

Taman-taman eye catching

Kursi-kursi diatas kolam

Aseeekkk bisa foto bertiga karena ditolongin anak kecil penjaul pelet ikan

Kasih makan ikan ...lihatlah ikannya gede-gede dan lapar..

Keren kan konsepnya

Antara ragu dan takut naik rumah rakit ini. Akhirnya tidak jadi naik

Asekkk foto ber3 lagi ditolongin bapak Brimob muda

Sudah mau pulang balik lagi pas lihat spot colorfull ini

Puas berkeliling akhirnya kami ngariung di Seoul Cafe di jalan pulang. Seoul Cafe tempatnya nyaman bersih dan saat kami masuk pengunjung tak begitu ramai. Baguslah... aman artinya. Citarasa masakannya lumayan enak. Harga relatiflah! Pelayanan sangat baik, ramah dan cepat. Alhamdulillah weekend ini sangat berkesan dan menyenangkan.

Seoul Cafe


Monday, 22 March 2021

DAPUR CINTA KULINER KAMPUNG BINGEN

Bermula dari tayangan promo di PalTV, lalu melihat postingan di berbagai medsos teman, lalu cerita teman, lalu saya pun mulai browsing di google. Semua sangat menarik. Aku orang yang memang suka menjelajah, travelling, menyukai etnik, tradisional dan kearifan lokal suatu daerah apalagi ini tentang "my city town" menjadi sangat antusias. Hasrat untuk sowan ke lokasi sudah dipendam sejak aku mendapat info dari berbagai sumber tersebut.

Hingga datanglah kesempatan itu. Atun sahabat satu instansi tempat aku bekerja dulu mengontak aku via chat WA. Karena sudah lama gak ketemu sejak terakhir ke taman bunga Celosia Springhill. Aku menawarkan untuk refreshing di week end. Kebetulan dia juga kosong acara. Dicarilah tempat yang kira-kira pas. Pada awalnya Atun mengajak ke Pakri, ada sebuah lokasi yang katanya asyik buat refreshing. Tapi sayangnya cuma berupa tempat foto-foto doang. Hmmmm.... Kurang begitu antusias akunya, iseng aku tawarkan gimana kalau kita ke Kuliner Kampung Bingen yang di 13 Ulu aja. Eh.. dia setuju.

Maka akhirnya jam 10 pagi start dari rumahku menggunakan jasa Grab car kami meluncur. Kenapa kami pakai Grab dan gak nyetir sendiri aja, karena lokasinya kami belum tahu dimana dan belum pasti tingkat keamanannya seperti apa. Dari rumahku ke lokasi biaya untuk Grab hanya 27 ribu rupiah aja. Murah! Artinya lokasinya gak begitu jauh. Adanya Musi 4 memang sangat menguntungkan karena bisa memotong jalan dan praktis lebih singkat. Bayangkan kalau gak ada Musi 4 yang namanya daerah Seberang Ulu pastinya harus putar jauh dulu.

Meskipun alasanku naik Grab akan mudah mencari lokasi, ternyata tidaklah sesuai kenyataannya. Apakah memang sopirnya yang kurang paham baca peta ya? Saat sudah naik ke jembatan Musi 4 sang sopir justru bertanya ke kami, kanan atau kiri bu? Aku yang pernah sedikit dapat info langsung jawab aja kanan dengan yakin. Tapi sudah lumayan jauh kok tidak bertemu juga. Sopirnya malah protes. Kok salah ya bu... kata dia kalau di peta dia harusnya ke kiri. Hmmm... Aku jawab yah sudah.. kalau memang salah putar balik aja! Sebelum putar balik si sopir masih ragu juga berusaha turun dan berapa kali bertanya ke penduduk lokal. Tapi kok gak ada yang tahu ya??? Akhirnya diputuskan untuk putar balik. Ehhh... karena mataku menjadi awas membaca setiap nama lorong akhirnya terbaca juga spanduk Kuliner Kampung Bingen di sebuah lorong kecil. Tidak jauh dari setelah belok kanan Musi 4. Artinya tadi aku bener dong nyebutnya. Ehhh...si Abang Grab.. kok baca petanya kurang mahir ya??

Karena mobil tidak bisa masuk akhirnya kami turun di muka lorong. Terik matahari menyengat menyala. Dengan setengah ragu serta takut kami masuk gang tersebut. Kebetulan di gang alias lorong itu sedang ada pesta pernikahan, suasana jadi semrawut sekali. Lorong sempit ini hanya cukup 1 mobil saja. Karena pesta pernikahan itu menjadi kacau balau karena  mobil yang mau keluar masuk. Aku mulai sedikit pusing. Tak ada tanda-tanda ke mana kami harus menuju. Akhirnya aku bertanya kepada bapak yang menjadi panitia pernikahan. Aku bertanya dimana lokasi wisata Kuliner Kampung Bingen. Agak bingung si bapak? Itu loh pak yang jual makanan khas Palembang. Ohhhh... Dapur Cinta jawabnya. Iya pak...! Aku pernah baca postingan orang di instagram menyebutnya Dapur Cinta.

Lalu kami jalan lagi dengan tak pasti. Karena masih banyak beberapa lorong sempit juga. Kiri atau kanan?? Kami jalan berdasarkan instink aja. Alhamdulillah bener. Diujung jalan kami masuk ke pojokan dead end. Untung ada bapak-bapak tukang yang membawa kayu dan material bangunan lainnya. Dia bilang itu bu masuk ke sana kalau ke Dapur Cinta. Akhirnya kami masuk juga.

Kejutan pertama adalah saat akan masuk Dapur Cinta yang merupakan sebuah rumah panggung, kami harus membayar 5 ribu rupiah untuk menempatkan sepatu dalam sebuah box (seperti di masjid). Aku kaget dan protes "Kenapa harus buka sepatu dan sandal?" Dijawab sama pelayannya "Sudah peraturannya bu!" Ohhhh.... Apa boleh buat kami bayar dan buka sepatu. Masih setengah mimpi karena faktanya lokasi ini tak sesuai gambaran dan bayanganku. Begitu masuk aku langsung melihat sebuah counter penjual makanan dan minuman. 

Karena masih lumayan pagi aku pikir nanti sajalah makan, kita survey lokasi dulu mengejar spot foto terbaik. Keluar dari counter makanan aku sedikit kaget lagi. Hmmmm... cuma sergini doang nih lokasinya. Jauh dibayanganku. Kupikir luas. Tapi memang segera terlihatlah lambang cinta yang terbuat dari besi di sepanjang lorong jalan yang menjorok kesungai. Spot foto yang instagramable banget.  Di sebelah kanan terdapat beberapa pondok kayu untuk duduk -duduk sambil makan. Dan di dermaga ujung yang sempit itu ada 2 set meja dan kursi buat makan juga. Matahari menyala menyengat. Aku dan Atun mulai foto-foto seadanya mengobati rasa kecewa karena semua tak sesuai expektasi. 

Pengunjung sepi. Hanya ada aku dan Atun serta sebuah keluarga yang terdiri dari 5 orang. Mereka juga sedang foto-foto. Sambil berjalan anak bungsunya menangis meringis ketika menginjak kayu jalan yang menjorok ke sungai yang sama sekali tak ada pelindung atapnya. "Kakinya panas". Ya iyalah dia gak pakai sandal dan juga gak pakai kaos kaki. Kami  yang pakai kaos kaki aja merasa panas meski tidak sampai meringis. Sambil aku berfoto-foto kulihat di sebuah pondok mangkok-mangkok makanan yang berisi tekwan, model, pempek yang sudah tersentuh tapi tidak dihabiskan. Jumlahnya banyak. paling cuma dimakan sepotong 2 potong. menurut asumsiku itu sajian makanan keluarga itu. memang belum selesai makan karena asyik foto-foto dulu. Tapi ternyata habis foto-foto kok itu keluarga langsung pulang. makanannya ditinggal. Aku sempat mikir... Kok?

Setelah selesai beberapa kali foto aku merasa haus sekali, muka juga memerah disengat matahari. Maka mulailah kami melihat jajanan makanan yang berjejer di counter tadi. Aku bertanya ada jual es gak. Ada beberapa jenis sih. Aku dan Atun memilih Es susu kurma. Saat aku memilih makanan aku merasa kurang tergiur dari penampilannya sama sekali tidak menarik. Entahlah.... Untuk menghargai pedagangnya aku mengambil 1 pempek telur kecil, adaan, otak-otak dan sarikayo. Itu aja. Atun juga mengambil 4 macam juga. Agak kaget ketika bayar dikasir totalnya 65 ribu rupiah. Hmmmm....

Sesudah kaget saat bayar, lebih kaget lagi saat mencicipi makanan itu. Sama sekali tak ada enaknya. Pempek adaan yang asiiiiinnn, bau kepik (binatang malam yang kecil dan bau busuk) dan keras sepertinya itu bukan pempek hari ini (sisa dagangan kemaren), otak-otaknya juga kisut dan kadar ikan yang sedikit sekali (kayaknya panasan sisa kemaren juga). Akhirnya yang termakan oleh aku hanya pempek rebus telor kecil dan sarikayo aja. Hmmmm... sangat kecewa dan diluar ekspektasi banget dah. Tadinya aku membayangkan yang disebut kuliner khas Palembang zaman bingen itu bakal ada celimpungan, laksan, engkak, maksuba, delapan jam, mie celor, nasi minyak. Atau apalah yang khas Palembang. Dengan citarasa khas Palembang yang berkualitas. Paling tidak seperti jajanan di warung Madinah di Kuto itu loh. Bukankah promo tentang tempat ini sempat disiarkan di media televisi dan berbagai medsos. Diresmikan pejabat daerah. Bukan mencela makanan tapi ini testimoni ya...

Sayang sekali yang mengelolanya tidak diberikan arahan atau dibimbing. Bagaimana aku bisa merekomandasikan ke sahabat-sahabatku dari luar kota untuk kesini kalau aku saja kapok? Ah... padahal ide pendirian spot wisata ini sebenarnya sudah sangat bagus. Sayang belum dikelola secara professional. Belum difasilitasi secara baik. Infrastruktur menuju lokasi juga kurang memadai. Lorong kecil yang sempit dan tak ada lahan parkir. Untung banget aku tidak bawa mobil sendiri kesini, kalau tidak  pasti bingung mau lewat dan cari tempat parkir. Penunjuk arah yang kurang. Yahhhh... sayangnya! Bukan aku mencela, ini kritik dan saran. Semoga dengan kritik dan saran ini bisa menjadi masukan agar menjadi lebih baik lagi. Aku sih ingin spot wisata ini tetap bertahan dan menjadi lebih baik.  Inshaa Allah bisa...!

Spot foto terbaik

Meja makan di teras anjunganberlatar belakang Jembatan Musi 4 dikejauhan

Gerbang Cinta

Jembatan Musi 4 dikejauhan

Ada 2 perahu yang sandar. Entahlah apakah bisa diuganakan atau hanya properti buat foto aja

Lorong masuk ke Dapur Cinta

Rumah yang menarik perhatianku saat masuk lorong sempit

Tempat penitipan sepatu berbayar

Tempat makan dalam teras rumah

Itu pondok yang tadinya ditempati keluarga yang menyisakan makanan

Counter makanan


Ini pilihanku

Ini pilihan Atun, dengan banyak sekali catatannya hehe....pempek adaan ada rambut dan asiiiin, otak-otaknya kisut, serundeng ketan bumbu tengik

Sejarah pempek

Spot foto 3D di dalam rumah

Counter minuman es

Lorong masuk

Pondok-pondok kayu seperti kedai terapung untuk tempat tempat makan

Deretan kursi di pojok dermaga

Meja makan di pojok dermaga beratapkan langit.. dan berpayung matahari. Hmmm...


Tuesday, 16 March 2021

REUNI TEMAN PUTIH MERAH

Reuni atau temu kangen dengan sahabat sekolah masa lalu. Banyak istilah yang dibuat tentang reuni teman sekolah. Teman putih merah untuk SD, putih biru untk SMP dan putih abu untuk SMA. Nah.. kemaren itu aku "mencoba mau" untuk reuni putih merah alias teman SD (padahal masa aku SD kami belum pake seragam sekolah alias gak ada seragam). Masa SD kami ke sekolah pakaian bebas, bahkan ada sebagian besar ke sekolah masih nyeker alias gak pake alas kaki. Ada yang pake sandal. alhamdulillah aku lebih beruntung ke sekolah sudah pake sepatu. Inget banget merk sepatu yang sangat hits saat itu adalah "Famous" dan tas yang ngetop banget merk "Echolac". Banyak syukurku kepada Allah semasa SD disaat orang masih nyeker aku sudah pake sepatu. Disaat orang bawa buku ditenteng aku sudah pake "Echolac".

Sebenarnya aku paling anti ikut reuni-reunian. Entahlah malas banget. Selama hidupku aku baru 2 kali reunian. Pertama buka puasa bersama teman biru putih di tahun 2011, kedua temu kangen teman putih merah sekitar 2018. Dari 2 kali ikut reunian itulah aku malas atau bisa dibilang "OGAH" ikut yang beginian. Kenapa? Gak suka aja situasi dan aroma pertemuan ini. Katanya temu kangen alias menyambung tali silahturahim, faktanya gak banget dah. 

Dalam setiap reunian selalu aku menemukan beberapa orang sikapnya agak arrogant. Mungkin karena merasa sudah hebat, kaya, punya jabatan hebat. Semua dipamer. bahkan sikapnya agak jaim terhadap yang lain. Sehingga dia ingin dihormati. Duh...bukannya bertemu kembali dengan teman masa kecil harusnya kita mengenang kelucuan, keluguan dan kegokilan kita pada masa kecil yang lalu. Sehingga kita bisa terbahak-bahak...lucu. Maka jika begini manfaat positif reuni bisa merefreshing diri.

Seperti reuni teman SD ini sebenarnya sudah beberapa kali terselenggara. Namun aku gak pernah ikut sejak pengalaman pertama kali ikut aku bener-bener gak berasa nyaman dan trauma. Berkali-kali ditawarkan aku menolak dengan berbagai alasan. Namun kali ini aku mentok gak mampu beralasan-alasan lagi. Terpaksa ikut.

So..tanggal 13 Maret 2021 kemaren aku ikut juga. Reuni diadakan di kolam pemancingan ikan milik Nelly  Yah... acaranya begitu-begitu aja. Lumayanlah! Situasinya masih ada beberapa orang (2 - 3 orang) yang berasa superior. Namun bagiku kali ini lebih nyaman karena yang ikut agak lebih banyak dan setara tingkat kehidupannya dengan aku, jadi masih ada teman ngobrol. Yah...lumayanlah ikut ngariung dan nyorein hari.

Para wanitanya

Dulu kami agak "Close friend"

 

Aksi foto gue yang ngarahin

Lumayanlah jadi fotografer kita

Giliran minta fotoin gini nih hasilnya