Friday, 22 November 2019

PANTAI WATU DODOL

Hari ketiga di Banyuwangi, pagi jam 7 setelah sarapan di hotel Slamet, Mas Nanang menjemput kami untuk memulai trip hari ini. Tujuan utama adalan Taman nasional Baluran alias Afrika Van Java. Sekali jalan kami mampir dulu di pantai Watu Dodol.

Pantai Watu Dodol terletak di kawasan pelabuhan Ketapang, tepatnya berada di Jl. Banyuwangi – Situbondo, Ketapang, Kec. Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jarak yang harus ditempuh dari pelabuhan Ketapang ke Watu Dodol kurang lebih 2 km. Sedangkan Jarak yang harus di tempuh dari Banyuwangi Kota ke wisata ini kurang lebih 15 km. 

Karena letaknya di pinggir jalan perlintasan Situbondo – Banyuwangi jadi sangat mudah digapai. Kami sendiri kaget ketika sang driver memberhentikan mobilnya dan menyuruh kami turun. Loh kok berhenti? Kita ke pantai Watu Dodol dulu bu....! Kami akhirnya turun. Suasana masih sangat sepi, hanya ada petugas pembersih taman, mungkin karena ini bukan week end jadi sama sekali tak ada pengunjung selain kami berempat. 

Watu Dodol, salah satu pantai yang menawarkan panorama alam yang menawan. Mengingat lokasinya yang berada di perbatasan antara Situbondo dan Banyuwangi, Pantai Watu Dodol kerap dianggap sebagai gerbang masuk menuju Kabupaten Banyuwangi. Nama Watu Dodol sendiri diambil dari batu karang besar yang berada tepat di pinggir pantai. Batu karang berukuran tinggi sekitar 5 meter tersebut berbentuk panjang menyerupai jajanan tradisional yaitu dodol. 

Karakteristik unik dari Pantai Watu Dodol adalah pantainya yang tidak berpasir, melainkan dipenuhi bebatuan coral dan karang. Meski demikian, air di Pantai Watu Dodol masih sangat jernih dan memiliki panorama pemandangan alam yang sangat menawan. Mengingat ombaknya yang besar, pengunjung Pantai Watu Dodol tidak diperkenankan untuk berenang, namun di pinggir pantai terdapat beberapa kedai yang menjual berbagai kuliner khas pesisir. 

Menariknya, di pantai ini terdapat dekorasi patung penari Gandrung yang berada di atas bangunan. Sambil memegang kipas, penari ini seolah-olah sedang meliuk-liukan badannya memperlihatkan kelihaiannya menari dan memberikan salam selamat datang kepada pengunjung pantai. Pantai Watu Dodol memang kerap disinggahi oleh pengendara yang melintasi kawasan Situbondo – Banyuwangi. Lokasinya yang berada tepat di pinggir jalan menjadi alasan pantai ini kerap dijadikan persinggahan bagi pengunjung yang ingin bersantai sejenak. 

Dari pesisir pantai di seberang kejauhan terlihat pulau Bali. Karena kami sudah puas bahkan sudah kenyang melihat suasana pantai (Bayangkan Agustus lalu kami ke Bangka-Belitung dan semuanya wisata pantai. Lalu kemaren seharian penuh bermain di pantai Pulau merah) jadi kami agak kurang antusias berlama-lama di pantai ini, hanya ambil beberapa foto saja. Alhamdulillah fotonya keren-keren. Siluet dari efek backlight membuat fotonya bagus. Aku suka. 

Morning sunshine yang membuat backlight dan jadi silhuet yang cantik
Sepi

Entrance

Kilau cahaya matahari menimpa air laut...cantik sekali

Airnya terlihat tenang tapi jika ombak datang besarrr...katanya

Pohon nyiur melambai di tepi pantai

Thursday, 21 November 2019

ALAS PURWO

Keluar dari De Djawatan Benculuk kami langsung menuju destinasi berikutnya Taman Nasional Alas Purwo. Informasi destinasi ini aku dapat dari itinerary yang disusun Eddy dan dari browsing di google. Dari informasi yang aku dapat sebenarnya aku agak kurang berkenan mampir disini. Banyak warning-warning yang sangat menyeramkan. Aku takut diantara kami ada salah ucap atau salah tangan, terlebih lagi disaat rencana pertama Iyun mau ikut. Aku tuh khawatir bangettt... karena sifat Iyun kan agak lancang tangannya buat ambil atau petik bunga atau pohon yang terasa asing, indah. Padahal banyak larangan yang harus ditaati yaitu salah satunya tidak boleh memetik atau mengambil apapun yang ada di taman ini. Bicara juga harus dijaga tak boleh asal nyeplos.

Terus keraguan menjadi bertambah-tambah setelah aku sempat mendengar tausiyah dari Syafiq Riza Basalamah tentang harus pandai-pandai memilih destinasi wisata apalagi foto-foto. Beliau mencontohkan berfoto dengan patung. Patung itu melambangkan kesyirikan. Hmmm... bukankah Alas Purwo ini ada lokasi untuk pesugihan. Waduhhhh.... ! Tapi apa boleh buat tak ada destinasi lain, lagipula hanya sambil lewat mampir saja kok. 

Kami sama sekali tak paham dengan destinasi wisata ini, tiba-tiba mobil kami berhenti. Eddy dan mas Nanang bilang ayo bu silahkan foto-foto aja dulu. Aku melihat memang viewnya sangat instagramable, jejeran pohon-pohon menjulang mengingatkan aku Nami Island di Korea, juga BBG di Bangka. Dan aku mengira sekalian istirahat sebentar maka kami disuruh foto-foto. Tak pula aku baca papan nama di atas kami. Maka turunlah kami apalagi aku selalu antusias bila lihat lokasi foto yang bagus. Rada susah sih untuk konsentrasi penuh berfoto di spot ini. Disamping terlalu banyak pengunjung yang melakukan kegiatan yang sama, mobil-mobil parkir sementara yang berjejer di sepanjang jalan mengakibatkan indahnya pohon-pohon menjulang ini tertutup dan juga mobil lalu lalang dengan kecepatan yang lumayan cepat. Jadilah kami jeprat jepret sekedarnya saja. 

Byangkanlah plang nama sebesar ini tak sempat terbaca olehku
Lokasi tak jauh setelah pintu masuk, lihatlah jejeran mobil yang berhenti sementara itu
Kami masuk lagi ke mobil dan perjalanan dilanjutkan. Pemandangan di kiri kanan jalan yang kami lalui adalah hutan dan pohon-pohon menjulang. Ditengah perjalanan terlihat sebuah pura dan ada beberapa orang berpakaian adat Bali sedang melakukan peribadatan. Tour guide kami menawarkan buat foto-foto di Pura tersebut, kami menolak. Karena kurang suka dan takut mengganggu mereka yang sedang melakukan peribadatan.

Setelah masuk lebih kedalam kami sampai di area parkiran. Parkiran penuh dan terlihat area tersebut penuh sesak dengan pengunjung. Setelah berhenti dan kami turun barulah aku tahu ternyata inilah yang disebut Alas Purwo itu. Matahari sangaattt terang benderang dan menyengat. Kami bertiga turun dan memandang sekitar dengan aneh... mana ya lokasi-lokasi yang dijelaskan di google itu. Kami ngeloyor saja jalan ke depan namun mentok karena lokasi di depan dipasang tanda "Forbidden".

Kami putar balik berusaha mencari tempat berteduh, tapi tak ada. Ada rumah-rumahan joglo tapi sudah penuh dengan manusia. Kulihat Eddy dan mas Nanang menyalami dan berbincang-bincang dengan seorang bapak yang mengenakan pakaian khas Jawa. Beskap lurik dan jarik, rambutnya terjuntai melebihi bahu ditutupi blangkon. Jenggotnya sedada. Aku melihatnya serem. Tiba-tiba Eddy dan mas Nanang memanggil kami mencoba memperkenalkan kami ke si bapak sekalian minta izin untuk masuk ke kawasan spesial sepertinya. Si bapak berpesan jalan hati-hati, jangan takut nanti makhluk halus yang berdiri di kiri-kanan jalan dan gua itu adalah anak buahnya semua tak akan mengganggu asal kami sopan dan terakhir dia bilang jangan lupa bawa bekal minum. Ehh alah... serem amat yak pesennya. Minum??? Malah kami tinggal di mobil karena berat klu dimasukkan tas. Ahhh... sudahlah tak haus ini, pikir kami.

Kami masuk ke dalam hutan melewati jalan setapak. Sebagian besar di kiri kanan kami adalah pohon bambu yang menjulang. Medan tempuh sebenarnya tidaklah terlalu sulit, tidak begitu menanjak dan juga jalan setapaknya relatif baik. Kami terus berjalan dengan semangat di tengah terik menyengat. Banyak juga pengunjung lain yang terihat berjalan ada yang sudah arah kembali ada yang sedang menuju seperti kami. Kami tak tahu bakal ada apa tempat yang kami tuju ini. Nafas sudah ngosngosan, sudah sangat jauh kami berjalan (30 menitan). Aku sempat bertanya pada Eddy "masih jauh gak?". Dia jawab sebentar lagi bu sekitar 400 meter lagi. Ohhh... deket artinya. Kami berjalan lagi.

Hutan bambu, auranya seram
Hutan bambu...

Aku dan Atik sudah ngos-ngosan terlebih lagi mas Nanang yang badannya gemuk perutnya buncit. Lebih menyedihkan ekspresinya dibanding kami. Rasanya aku tak sanggup lagi. Ditengah kelelahan ini kami berpapasan dengan kelompok ABG yang menuju jalan pulang. Iseng aku bertanya

"Masih jauh gak sih sampai kesana, nak?". Secara orang Jawa mereka menjawab sopan sekali. "Tidak bu... deket lagi".

"Oh kira-kira berapa kali jarak yang sudah kami tempuh?", dengan kritis aku bertanya.

" Ini sih baru seperempatnya bu" jawab mereka polos.

"AAAAAAppppaaaaa....???", aku terperanjat.

Yang lainpun kaget. Segini aja aku dan Atik termasuk Eddy dan mas Nanang sudah hampir pingsan. Hanya Kotada yang masih gagah dan baik-baik saja. Dengan tegas aku memutuskan balik aja lagi ah...! Qadarullah dengan segala kekhawatiran aku sebelum kesini, Allah tak mengizinkan kami sampai ke kawasan yang menyeramkan itu. Kami balik lagi dengan terengah-engah juga, karena memang sudah sangat jauh jarak yang sudah kami tempuh. Ketika sampai di pintu masuk yang ada bapak tua tadi dan beliau juga masih beridiri disitu, barulah aku membaca secara teliti plang dan penunjuk arah yang ada dipintu masuk. Aku terbaca angka 7,5 km. Subhanallah...!

Kami segera menuju rumah makan yang ada dilokasi. Yang paling penting harus beli minum. Sempat beli rujak juga bakso. Citarasa makanannya tak rekomended deh! Segera setelah itu kami menuju keluar dan sempat berhenti di tengah hutan jalan keluar buat foto-foto. Lumayanlah buat menghapus rasa kecewa.

Rindangnya pepohonan
Yaaa mereka bercanda di tengah jalan
Bercanda ditengah jalan..

Terlalu indah...
Taman Nasional Alas Purwo yang terletak di Semenanjung Blambangan, Kabupaten Banyuwangi,. Alas Purwo merupakan kawasan taman nasional yang berada di dalam wilayah administratif 2 kecamatan, Tegaldlimo dan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas 43.420 hektar dengan ketinggian 322 meter di atas permukaan laut. Konon, Taman Nasional Alas Purwo merupakan hutan dengan usia tertua di Pulau Jawa. Hutan tropis ini menjadi rumah bagi ratusan satwa dan flora.

Nama Alas Purwo diambil dari kata Purwo, yang dalam bahasa Jawa berarti kawitan atau permulaan. Sehingga Alas Purwo memiliki arti hutan pertama atau hutan tertua Pulau Jawa. Bagi masyarakat Banyuwangi tempat ini dikenal sangat angker dan termasuk tempat yang keramat, sehingga saat ini kondisi alamnya masih cukup terjaga.

Disamping terkenal dengan keindahan alamnya hutan ini juga memiliki sejuta kisah mistis. Kisah mistis ini bahkan diyakini masyarakat Alas Purwo satu di antara sejumlah tempat yang terangker di Pulau Jawa bahkan nusantara, selain kawasan Gunung Merapi, Gunung Lawu, Alas Roban yang terdapat di Jawa Tengah, serta Gunung Arjuno yang terletak di Jawa Timur.

Sebagai hutan hujan alami di Pulau Jawa, Alas Purwo menjadi rumah bagi 580 jenis flora dan 50 jenis fauna yang tersebar di seluruh penjuru hutan. Taman Nasional Alas Purwo terbagi menjadi empat zona, yaitu Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, dan Zona Penyangga. Meski dikenal penuh misteri, tempat wisata ini banyak menyimpan keanekaragaman hayati dengan objek penelitian dan wisata dengan pemandangan indah.

Pura Luhur Giri Salaka
Selain flora dan fauna, di Taman Nasional Alas Purwo juga terdapat bagunan peninggalan dari kerajaan Majapahit yang bernama Situs Kawitan. Setiap tahun situs ini digunakan untuk kegiatan keagamaan sejak tahun 1968.

Situs Kawitan ini terkenal sangat keramat dan dipercaya bukan sembarang situs. Karena banyaknya ritual yang sering dilakukan di Situs Kawitan, maka dibangunlah Pura Giri Salaka. Pura ini digunakan umat Hindu untuk melakukan acara keagamaan. Salah satunya upacara pager Wesi yang diadakan setiap 210 hari sekali. Lokasinya berada di jalan masuk menuju pantai Trianggulasi.

Pantai Triangulasi sendiri hanya berjarak 3 km dari Pura Giri Seloka. Pantai ini terbilang masih alami dengan pantai berpasir putih dan hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Sunset di pantai ini sangat cantik. Tapi jangan berenang di pantai ini ya, perairan laut selatan di kawasan ini sangat berbahaya.

Pantai Konservasi Penyu
Meski pamornya angker, Alas Purwo memiliki pantai-pantai tercantik di pesisir selatan Pulau Jawa. Seperti Pantai Cungur yang menjadi habitat puluhan jenis burung. Tak hanya burung lokal, pada waktu tertentu terdapat burung-burung yang bermigrasi dari Australia. Tercatat terdapat 39 jenis burung yang hidup di Pantai Cungur.

Tak jauh dari Pantai Cungur, terdapat Ngagelan yang berpasir hitam. Pantai yang sangat bersih ini menjadi surganya penyu di Banyuwangi karena digunakan sebagai tempat untuk konservasi penyu. Pengunjung dapat melihat berbagai jenis penyu di pantai ini. Kalau beruntung dan jadwalnya pas, bisa menyaksikan penyu-penyu bertelur dan proses pelepasan anak penyu di Pantai Ngagelan.

Alas Purwo juga memiliki pantai berpasir putih yang cantik, Pantai Pancur. Air sangat jernih dengan kontur pantai yang landai. Di sekitar pantai tersedia area Camping Ground. Pantai Pancur memiliki muara air tawar, yang diyakini oleh masyarakat setempat berkhasiat untuk membuat awet muda. Pantai ini tergolong aman untuk wisata air, lokasinya di dekat Pos pancur, pemberhentian terakhir dari Taman Nasional Alas Purwo menuju Pantai Plengkung atau G Land.

Gua Tersembunyi
Alas Purwo juga memiliki gua-gua tersembunyi yang masih alami. Ada tiga gua di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, yaitu Gua Istana, Gua Mayangkoro dan Gua Padepokan. Salah satu gua yang paling dikunjungi wisatawan adalah Gua Istana, karena lokasinya dekat dengan Pos Pancur. Sedangkan Gua Mayangkoro dan Gua Padepokan merupakan gua yang dianggap keramat. Pengunjungnya adalah orang-orang yang ingin bersemedi atau menyepi.

Wednesday, 20 November 2019

DE DJAWATAN BENCULUK

Hari kedua di Banyuwangi. Jam 7.30 kami mulai lagi melanjutkan perjalanan setelah ada sedikit insiden yang kurang berkenan. Waktu kami pamit dengan si penunggu homestay si bapak tua tiba-tiba minta tambahan bayaran jatah 1 kamar yaitu sebesar Rp. 250 ribu. Alasannya kami memakai 3 buah kamar yang ada. Astaghfirullah...! Emosi yang sudah kutahan sejak kemaren karena ditipu oleh si Eddy travel guide, jadi hampir meledak. Alhamdulillah masih bisa kutahan karena si bapak penjaga homestay ini sudah tua, kurang etis rasanya kalau mau berdebat. 

Aku tak paham apakah memang homestay itu bayarannya perkamar?? Karena asumsiku homestay itu disewa per rumah. Memang kami memakai 3 kamar yang ada namun bukan untuk tidur. Tidur kami tetap memakai 1 kamar untuk aku dan Atik. Sedangkan Kotada karena laki-laki dikamar terpisah. Kenapa kamar kami pakai??? Ukuran kamar sangat kecil dan sempit, dengan koper-koper kami jadi agak sulit bergerak. Sholatpun kami harus di ruang tamu. Kamar yang kami pakai cuma untuk meletakkan barang saja dan berdandan alias memakai kaca gantung agar bisa cepat dan tak saling menunggu. Oh iya kamar mandinya juga dipakai. Itu saja... lantas apa wajar minta tambahan bayaran sebesar itu? Padahal aku bukanlah orang yang pelit untuk urusan uang, aku sudah menyiapkan amplop berisi Rp. 100 ribu untuk tips si bapak, tetapi melihat caranya seperti ini uang tersebut batal kuberikan. Aku diam saja ketika bapak itu memaksa, kubilang tanyakan saja pada si Eddy kami sudah bayar semua ke dia. Langsung masuk mobil... hmmm kenapa ya tipe dan karakter orang di sini seperti itu. Bermain-main dengan uang yang tak jelas... ya Eddy gitu... semalam si ibu tukang pijat dan eh si bapak ini juga gitu... Asraghfirullah ! 

Kami melanjutkan perjalanan mungkin karena suasana hati agak kurang nyaman aku berasa agak sedikit lelah dan pusing. Sekitar 1 -2 jam sampailah kami ke sebuah kawasan wisata yang cukup terkenal yaitu Djawatan Benculuk. Hari masih pagi tapi pengunjung sudah ramai. Berasa ill feel karena kalau rame agak bete dengan pengunjung yang kurang saling toleransi. 

De Jawatan Benculuk merupakan wisata alam berupa hutan yang dikelola oleh Perhutani. Wisata ini menyajikan panorama keindahan rerimbunan pohon Trembesi. Pohon Trembesi yang sudah berusia ratusan tahun itu memiliki diameter pohon mencapai 3 meter memberikan pemandangan yang sangat menakjubkan. Tempat ini menawarkan pesona pemandangan yang bagus, sangat cocok untuk dijadikan tempat hunting foto maupun background pre-wedding dengan tema “Nature”. Saat yang tepat apabila ingin menikmati semilir angin yang sejuk dan panorama alam De Jawatan adalah pada sore hari. Karena pada sore hari sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah pepohonan menjadikan tempat ini tampak menakjubkan. Tak heran jika pada sore hari selalu dipenuhi pengunjung, baik hanya sekedar duduk duduk santai, bersepeda, dan berolahraga. 

Selain menawarkan panorama alam, wisata Jawatan juga menawarkan berbagai wahana seperti, memancing, bakar ikan, dan aksi menantang arum jeram. Apabila ingin menikmati wahana ini wisatawan harus membayar biaya tambahan, dan biaya tersebut sangat terjangkau. 

Ada berbagai jenis tanaman yang tumbuh di tempat ini, namun ada beberapa jenis tumbuhan yang populasi nya sudah mulai berkurang. Tanaman tanaman yang dapat di temukan di Jawatan Benculuk antara lain; 

1. Pohon Jati, Pohon jati yang ditanam di Area Jawatan Benculuk adalah saksi sekaligus bukti dari usia tempat wisata ini. Di lokasi wisata, terdapat beberapa jenis pohon jati dengan ukuran yang sangat besar. Dan usia dari pohon pohon ini mencapai puluhan tahun. 

2. Tumbuhan Wesah, Rasa dari buah tanaman Wesah mirip dengan Lengkuas. Tanaman ini juga memiliki khasiat menyembuhkan penyakit lambung. 

3. Jamur Kepong, Jamur jenis ini juga tumbuh di area Jawatan Benculuk. Namun sayang populasi dari tanaman ini sudah mulai jarang karena sudah banyak di cabut oleh beberapa pegawai perhutani. Namun, jika beruntung, Jamur ini masih dapat ditemukan di beberapa tempat di Jawatan. 

4. Tumbuhan Santinet, adalah tanaman yang banyak ditemukan di hutan hutan. Tanaman ini menghasilkan buah berwarna kemerahan. 

5. Salak liar/Salak alas, Buah ini tidak seperti tanaman atau buah salak pada umumnya, melainkan buah yang dihasilkannya sangat masam dan tidak enak untuk dimakan. 

6. Kelengkeng, Selain diambil buahnya, pohon kelengkeng di Jawatan juga berfungsi sebagai penangkal banjir. Pohon kelengkeng dapat menyerap air dengan volume yang sangat besar. 

Untuk jenis fauna yang paling banyak di jumpai di Jawatan Benculuk adalah Kalong/Lowo. Kalong merupakan jenis kelelawar dengan makanan utamanya adalah biji-bijiian dan juga serangga. Hewan ini lebih menyukai hidup ditempat tempat sepi yang jauh dari jangkauan tangan manusia. Persinggahan utamanya adalah Goa-goa, dan bahkan tidak sedikit dari hewan ini yang membangun sarang di bangunan bangunan tua di kawasan Jawatan Benculuk. 

Kami tidak begitu lama singgah di lokasi ini, karena view di berbagai lokasi hampir sama. Disamping itu pengunjung semakin ramai sehingga agak rada sulit untuk ambil posisi foto. 

Begitu masuk terpana dan langsung semangat buat foto disini
Lorong dikejauhan tak terlihat seperti lorong

Keren banget penampilan pohon Trembesi itu
Disuruh fotographer gaya tutup mulut.
Laosnya besar

Rindangnya
Di pintu keluar

PANTAI PULAU MERAH


Menempuh perjalanan lewat darat yang cukup panjang dan melelahkan dari bandara Juanda - Banyuwangi, jam 5 pagi (jam segini matahari sudah mencorong sekali sudah seperti jam 9 pagi di Palembang) kami langung di drop ke sebuah homestay. Tanpa pesan apapun sang driver dan travel wisata hilang tak tahu rimbanya. Seharian kami ditelantarkan di sini, sehingga harus cari makan dan apa-apa sendiri. Beruntung kami sudah sering sekali travel jadi agak lebih cerdaslah menghadapi situasi dan penipuan pihak travel ini. Namun ada hikmahnya karena dengan kondisi ini kami bisa full seharian menikmati suasana pantai. Hmmmm....

Pantai Pulau Merah adalah salah satu yang paling terkenal dan menjadi primadona wisata Kota Banyuwangi. Pantai ini terletak di bagian selatan Kabupaten Banyuwangi. Nama Pantai Pulau Merah berasal dari terdapatnya sebuah bukit kecil yang memiliki tinggi sekitar 200m dan tersusun dari tanah berwarna Merah yang berlokasi di dekat pantai. Bukit ini dapat dikunjungi ketika air laut sedang surut dan ketika air laut pasang bukit ini akan menjadi sebuah pulau yang terpisahkan oleh air laut dari pantai. Namun dari media sosial kudapat informasi mengapa dinamakan pantai pulau Merah adalah disebabkan karena pada saat sunset pancaran sinar matahari yang akan tenggelam memberikan efek cahaya merah menyala. Wallahu'alam mana yang bener.

Konon katanya di pantai pulau merah ini juga terdapat sebuah pura yang sering digunakan umat Hindu daerah sana melakukan upacara keagamaan mekiyis (tapi kami tak melihat pura tersebut). Pantai pulau merah berupa hamparan pasir putih yang memanjang hingga 3 km. Pantai ini menghadap langsung ke samudera Hindia ke arah selatan. Pasir di pantai ini memiliki warna putih dan terkadang terlihat agak pink atau kemerahan.

Daya tarik Pantai Pulau Merah adalah karena ombak yang dimilikinya. Dan hal ini menjadi kesempatan yang baik bagi mereka yang hobi berselancar. Pantai ini selalu dipenuhi oleh Surfer mancanegara setiap harinya. Bahkan banyak dari mereka memilih untuk menginap selama berhari-hari dan beberapa ada yang sampai berminggu-minggu. Selain itu sunset di pulau merah sangat terkenal dengan pendaran cahayanya yang indah dan merah menyala.

Keamanan berwisata di pantai Pulau Merah sangat diutamakan. Terdapat petugas yang menjaga sekaligus mengamankan apabila ada kecelakaan atau sesuatu yang tidak di inginkan, terutama kepada mereka yang melakukan renang di pantai. Terdapat tower setinggi 5 meter yang digunakan oleh petugas ini untuk memantau dan memastikan keamanan keadaan di sekitarnya. Suara hallo hallo dari petugas keamanan ini berkicau terus tanpa henti untuk mengingatkan pengunjung tentang segala hal, yang paling sering adalah peringatan agar tak buang sampah sembarangan. Tapi ada kalimat yang aku kurang berkenan karena agak kurang sopan dan tidak etis. Kalimat menyumpahi pengunjung agar celaka dan masuk neraka bila buang sampah sembarangan. Tidak mendidik ah... kalimatnya.

Saat kami berkunjung suasana sangat ramai, karena kebetulan hari ini adalah hari libur Nasional dan hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada semacam karnaval Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beberapa mobil bak terbuka dipenuhi penumpang yang mengenakan pakaian muslim/muslimah warna warni yang juga membawa semacam gunungan rangkaian bunga, buah dan makanan diarak sekeliling pinggiran pantai. Entahlah aku tak begitu mengamati apakah gunungan tersebut dibuang ke laut atau tidak, seperti upacara tolak balak yang sering kutonton di telivisi.

Terik matahari luar biasa terang dan menyengat. Dan kami seharian menghabiskan hari menetap di pantai ini dengan menyewa kursi lesehan yang berjajar rapi dipinggiran pantai. Harga sewa kursi ini 20 ribu rupiah perjam tetapi jika sewa 3 jam akan di diskon menjadi 50 ribu rupiah plus gratis 1 buah dogan. Banyak sekali penjual makanan di lokasi ini. Kami hanya tertarik pada dogan dan rujak buahnya saja.

Jam setengah 5 sore suasana pantai semakin ramai. Pengunjung menyemut untuk menyaksikan keindahan sunset. Suasana ini membuat aku agak sulit mengabadikan keindahan sunset lewat cameraku. Berusaha segitu rupa lari sana lari sini. Supaya dapat tempat agak lega. Begitu dapat taktik dengan cara berlari agak ke tengah laut dengan resiko baju basah dan harus hati-hati dihempas ombak. Kecewanya taktik ini dibaca pengunjung lain dan mereka ikuti taktik kami berlari agak ke tengah laut. Yahhh...sudahlah..!

Dalam menanti sunset ini kami hampir kehilangan moment. Karena meskipun matahari sudah hampir masuk kedalam bumi cahaya sekitar pantai tidaklah menjadi gelap seperti dipantai-pantai lain, melainkan berkilau antara putih dan kuning dan langit tetap terang benderang. Untungnya kami selalu pegang camera baik itu dari Olympuss maupun HP saat kami coba membidik di lensa camera pendaran cahaya sudah kuning jingga. Waduhhh... kami buru-buru bangun dari kursi lesehan menuju bibir pantai. Lumayanlah, meslipun sunset kali ini tidak begitu optimal karena cuaca agak mendung. 
Saat langit mulai gelap kami mencari warung alias rumah makan pinggir pantai untuk makan malam, karena tak tahu dimana lagi tempat makan yang ada di sekitar tempat kami tinggal. Selanjutnya pulang ke homestay untuk bebenah persiapan berangkat besok dan istirahat.
 
Ini pagi jam 5.30 sudah secerah ini mataharinya
Baru sampai langsung kesini kita
Bermain ombak di sore hari
Tengah hari bolong...


Cuek aja soal panas menyengat lupa muka gosong nikmati saja indahnya pantai ini
Bercanda dengan matahari... gosoonggg...
Dari pagi sampe sore ngasonya disini
Tiduran manjahhhh...
Akar-akar pandan laut yang menakjubkan
Hampir senja
Bercanda dengan ombak  dikala senja
Sunset....
Pasir putih bersih... pantainya memang bersih..
Sunset yang indah...
Matahari sudah hampir pulang
Seperti orang yang mau bunuh diri di pantai nih actionnya...ahhh...serammm.. Saking gigihnya biar dapat tempat yang lega. Shoot pake camera HP cahayanya kurang bagus... tidak nyata sunsetnya...

Tuesday, 19 November 2019

BANYUWANGI TRIP

DICURANGI OLEH TRAVEL WISATA

Hanya karena melihat foto seorang teman yang diposting di akun facebooknya aku jadi "kabita" ke Taman Nasional Baluran. Namun sekalian jalan toh tak hanya ke Baluran aja kan. maka browsinglah aku destinasi wisata terfavorit di Banyuwangi. Dapatlah beberapa destinasi antara lain, Pantai Pulau Merah, Teluk Ijo, Alas Purwo, Djawatan Benculuk. Setelah browsing foto-foto di lokasi wisata itu wah... makin ngebet aja nih buat nge "trip" lagi. 

Aku langsung kontak sang travel mate sejatiku dan semua oke bisa trip bereng. Bahkan ada tambahan anggota lagi yaitu Iyun. Setelah atur schedule yang disetujui oleh semua anggota aku mulai cari travel wisatanya. Aku teringat janji mas Andy (travel wisata yang pernah ngawal kami ke Bromo bulan Februari kemaren) dialah yang dulu menanawarkan untuk ke Pantai Pulau Merah. Aku coba kontak no WAnya. Ketika aku bilang ada rencana mau trip ke Pantai Pulau Merah dan Banyuwangi sekitarnya dia setuju dan menyanggupi. Namun setelah aku mengirimkan beberapa destinasi yang ingin kami kunjungi dia menyatakan tak sanggup karena belum begitu mengenal Banyuwangi. Lagipula jarak tempuh lewat darat Surabaya - Banyuwangi sekitar 7 - 9 jam. 

Sebenarnya aku sudah mulai ragu nih mengetahui jarak dan waktu tempuhnya. Namun entahlah ketika no kontak travel guide/wisata yang direkomendasikan Andy itu menghubungi aku, aku seperti memiliki kekuatan lagi untuk terus merealisasikan rencana ini. Sebenarnya tanda-tanda bakalan ribet sudah ada di awal. 

KEKISRUHAN YANG TERJADI :
1. Sang travel wisata bernama Eddy itu dari awal agak meragukan bahkan seperti seorang penipu. Dimulai dari penawaran harga yang sangat membuat aku kaget. Bayangkan saja satu orang dikasihnya harga 2,85 juta. Waduh....! Tapi tawar menawarpun terjadi, harga terakhir dia buat fix 2,6 juta. Ya sudahlah....! Aku berpikir jangan terlalu pelitlah. Hitung-hitung membantu memberi penghasilan kepada travel wisata. Janjinya harga 2,6 juta itu full service bahkan sampai hotel di Surabaya di saat hari terakhir kepulangan kami. Dengan segala perjanjian, mulai dari dapat breakfast tiap hari, jatah air mineral setiap hari 1 botol. 

Setelah memastikan jadi dengan jumlah peserta 4 orang aku mengontak mas Eddy. beliau segera minta bayar DP sebesar 30% dari total yaitu sebesar Rp. 3juta, dengan alasan untuk booking hotel. Aku selalu jujur dan tak pernah punya prasangka buruk kepada siapapun, jadi akur aja ketika dia minta transfer DP itu. Setelah mentransfer uang 3 juta itu mulailah aku diliputi perasaan ragu dan was was. Karena apa? Mas Eddy itu menjadi sulit dihubungi. Di WA tak dibalas. Bahkan mode chat WA dia dirubah menjadikan orang tak tahu apakah WA itu dibaca atau tidak. Tidak ada centang biru sebagai tanda read sign. 

Berkali-kali aku meminta dikirim ulang itinerary sesuai tanggal schedule kami. Tak ada jawaban atau balasan sama sekali. Bahkan chatku yang mengingatkan agar jangan lupa dengan schedule kami pun tak dijawab. Aku merasa sangat was was jangan jangan aku ditipu. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bagaimana seandainya nanti kami tak dijemput di Surabaya, sedangkan time arriving sudah sangat malam (22.45). Segala kekalutan itu berkecamuk dalam hatiku. Sama sekali aku tak bercerita pada Atik ataupun Kotada. 

Sampai pada akhirnya dia mengontak juga saat kami menunggu keberangkatan di Bandara SMB 2. Dia memberikan no kontak driver yang akan menjemput. Meski agak kaget kok kami dilemparkan ke orang lain tapi setidaknya membuat aku lega gak akan terlantar di Bandara. 

2. Kekacauan lain terjadi ketika Iyun yang mencla mencle gak pasti. Tadinya mengajak kawannya Reni, yang ujug-ujug batal (untung aku belum bayar dan beli tiket). Berkaca dari seringnya Iyun tak tepat janji, dan berapa kali pula aku suka dibuat kecewa, aku sengaja memperlambat pembelian tiket pesawat. Pengalaman sih dia sering batal berangkat di limit time (saat ke Batam dll). Selama ini yang rugi dia sendiri karena toh dia yang bayar tiketnya. Namun kali ini biaya tiket dan tour aku semua yang tanggung. Akhirnya seminggu sebelum keberangkatan setelah aku kembali mengultimatum meminta kepastian tak ada yang berubah dan dijawab dengan amat pasti aku langsung booking tiket dari tiket.com. Berasa sudah pasti banget aku juga beli baju seragam. 

Tetapi apa yang aku khawatirkan terjadi juga. Pagi jam 10 aku sudah transter uang untuk beli tiket PP, jam 15.00 tiba-yiba chat WA dari Iyun mengatakan di batal ikut. Ya ...Allah aku lemas dan pengen nangis rasanya. Total uang tiket PP itu 2,7 juta perorang. Hilang percuma. Lemas ..dan kalut. Namun untunglah aku selalu cepat kembalikan segala sesuatunya pada Allah. Qadarullah! Semalaman...aku masih agak galau meski pasrah. 

Pagi hari saat absen di kantor kebetulan berpapasan dengan Rizky di mesin absensi (dia pengguna tetap jasa tiket online). Iseng aku bertanya apakah bisa tiket yang sudah dibeli di refund. Namun aku tak dapat jawaban yang memuaskan. Yahh...sudahlah. Pokoknya hari itu aku kalut dan rieweuh banget. Mana awal bulan kerjaan numpuk, evaluasi bulanan, segala laporan bulanan belum lagi pekerjaan yang ada harus segera diselesaikan sebelum aku tinggalkan untuk cuti. 

Seperti biasa sebelum mulai pekerjaan aku sholat dhuha dulu. Setelah dhuha aku berdo'a agar dibantu jalan keluar dengan kondisi ini. Aku mulai agak tenang, kalau memang rezekiku uang pesawat yang batal itu akan kembali, jika tidak memang sudah harus terjadi. Usai sholat aku iseng coba-coba buka aplikasi tiket.com. Ku buka my Order....dan Alhamdulillah ternyata tiketku bisa direfund meski hanya 70% uang kembali. Alhamdulillah...! 

3. Sampai di Banyuwangi kami di drop di sebuah homestay. Tanpa ada kata-kata apapun. Eddy hanya bilang untuk ke Teluk Ijo tak bisa karena ombak sangat tinggi. Silahkan istirahat bu. Sudah itu saja. Kami mandi bebersih dan mencoba untuk istirahat.... namun tak bisa istirahat. Rasa lapar datang mendera. Kami belum sarapan bahkan minuman mineral hanya sisa dari perjalanan yang kami beli di Indomaret saat istirahat di dalam perjalanan. Aku bangunkan Atik dan Kotada untk cari sarapan. Akhirnya kami keluar dan sarapan seketemunya di rumah makan didekat pantai. Cita rasa masakannya tak begitu enak. Bukan sarapan melainkan makan besar. Iyalah tak ada menu sarapan yang ada menu makan beneran nasi beserta lauk pauk. Apa boleh buat! Kami kan tak tahu lokasi. Dimana warung untuk sarapan Tempat ini asing bagi kami. Jadi sedapatnya saja.

Masih beruntungnya homestay letaknya hanya beberapa meter saja dari pantai Pulau Merah. Habis sarapan kami menghabiskan waktu di pantai. Baru menjelang Dhuhur kami pulang untuk sholat. Sepakat kami akan balik lagi kepantai jam 4 sore setelah tidur siang, mandi dan sholat Ashar.

Sampai sunset selesai kami langsung makan malam di resto pinggir pantai itulah dan menjelang Isya' baru balik ke homestay. Sungguh terlalu seharian itu yang namanya Eddy dan Nanang si driver tidak memunculkan batang hidungnya sama sekali. Saat aku sudah mau tidur tiba-tiba mas Nanang menelpon dan mengatakan bahwa dia sudah ada diruang tamu dan ingin bicara. Aku buru-buru mengenakan jilbab menemui dia. Tahu gak apa yang dia ingin bicarakan??? Dia bilang disuruh Eddy nagih sisa uang bayaran. Aku syok dan sedikit jengkel, tapi apa boleh buat aku bayarkan saja. Katerlaluan orang ini. Menagih bayaran tapi kewajiban belum dijalankan.

4. Kejengkelan lagi saat kami selesai makan malam di Sun Oseng dan kami sudah mau diantar pulang ke hotel oleh mas Nanang, dia menemui aku dan bilang tentang kekurangan biaya karena 1 peserta batal. Maka dia bilang untuk hotel di Surabaya aku harus bayar sendiri. Agak marah sih aku... aku bilang memangnya berapa harga satu kamar hotel di Surabaya? 250 ribu katanya. Meski kesel aku pasang muka judes dan langsung masuk mobil. Aku takut jika aku marah akan keluar kata-kata kasar dari mulut aku untuknya. Sepanjang jalan aku mikir masa iya sih ada harga kamar hotel 250 ribu. Hotel seperti apa? Aku lebih kaget lagi ketika keesokan harinya mas Nanang menjemput kami sendiri, ketika aku tanya mana mas Eddy dia jawab sudah balik ke Banyuwangi semalam. Bener-bener kurang ajar orang ini. Cerita-cerita ternyata hotel di Surabaya ini belum di booking sama sekali dan kami harus cari sendiri. Sampai di Surabaya sudah cukup malam kami masih harus muter-muter cari hotel. Astaghfirullah!

Selama perjalanan travelling aku seumur hidup baru 2 kali aku tertipu akal-akalan pihak travel wisata pertama saat ke Thailand dan ini yang kedua kalinya. Dari segala peristiwa kurang menyenangkan ini aku menjadikannya peringatan dan pelajaran untuk berhati-hati mencari travel wisata atau guide. Sebelum memastikan travel maka negoisasi dan perjanjian harga harus fix. Jangan terlalu baik ke orang lain. Meski mangkel banget aku berusaha mengikhlaskan saja, dengan cara orang ini yang licik dia gak bakal jadi kaya, sedangkan aku meski ditipu tak akan menjadi miskin. Itu saja.
Memunggu boarding di SMB 2 hati yang galau takut tak dijemput di Juanda

Tuesday, 29 October 2019

KAMPUNG MURAL GUDANG BUNCIT DAN PALEMBANG CITY TOUR

Kembali lagi ingin refreshing dan menjajal kuliner atau tempat makan yang ter hits di Palembang ini. Dari semua yang ditawari akhirnya cuma kami bertiga inilah yang konform... Bertiga Ana, Yossie dan Esi. Artinya kita napak tilas jalan-jalan akhir pekan lagi, seperti dulu saat kami masih jadi tim pengurus arisan RT 042. Dulu kami bertiga sering "ngider-ngider" Palembang ini. Entah itu untuk browsing-browsing cari souvenir yang sesuai dengan jatah uang yang ada untuk dibagikan ke anggota, atau bisa jadi kami ngejajal sesuatu yang baru dan trend di Palembang. Inget aja kami mencoba naik LRT beberapa hari setelah dilaunching.

Yah... kalau kami bertiga sih sistem negoisasinya gampang banget, karena pribadi dan selera sudah sangat "Klik". Semua keinginan sama bahwa kita refreshing tidak hanya kulineran saja, tetapi harus including cari tempat "instagramable" buat foto-foto supaya bisa nyampah di IG dan FB. Wkwkwkw.. yang gak suka bodoh amat lah....!. Sepakat kita akan hunting foto disekitaran BKB saja. Soal kulineran masih belum resmi antara Baropi Grill atau Rajatentro. Cenderungnya sih ke Rajatentro karena masih diseputaran BKB. Biar gak sulit akomodasinya soalnya dalam itinerary ada rencana napak tilas naik LRT ke OPI Mall buat cari sepatu. Oke...letsgo!

Enaknya memang kalau dengan yang sudah "klik" sepaham, seide dan seaturan. Tak ada ngaret dan saling tunggu. Janji jam 10.. Jam 10 kurang 10 menit kami sudah ngumpul...Cuss melaju pakai mobilnya Yossie. Tadinya destinasi pertama yang akan disinggahi adalah BKB.... namun dalam perjalanan aku bercerita tentang sebuah spot foto terinstagramable yaitu "Kampung Mural Sekanak" aku pernah browsing tentang destinasi hunting foto dan terbacalah tentang ini. Dannnn...tuh kan enak banget karena kami gampang okenya.... Yossie bilang toh masih pagi juga.. kita ke Sekanak saja dulu, biar sekalian nanti ke BKB dan makan di Rajatentro yang lokasinya juga di area BKB 

KAMPUNG MURAL GOEDANG BOENTJIT
Lokasi wisata ini terletak disebuah kawasan bekas pergudangan di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 29 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang. Jika melihat sejarahnya dahulu kala kawasan ini adalah sebuah rumah milik Baba Ong Boen Tjiet, seorang saudagar asal Tiongkok yang dibelakangnya terdapat gudang yang dikenal sebagai Gudang Buncit. Entah apa penyebabnya rumah dan gudang ini sudah lama kosong, bahkan bangunan yang sudah berupa reruntuhan. Kawasan ini dipenuhi oleh semak belukar, sampah di mana-mana, serta menjadi toilet umum warga pinggiran sungai.

Dinas Pariwisata Kota Palembang bersama gabungan komunitas mural yang menamakan diri mereka Fun Colour Project dibantu oleh dana CSR dari Dulux, dengan kreatifitasnyanya menjadikan kawasan kumuh ini menjadi Kampung Mural Gudang Baba Boentjit. Terlebih lagi disaat menyambut pelaksanaan Asian Games 2018 yang diadakan di Palembang Pemkot Palembang melalui Dinas Pariwisata Palembang terus bersolek mempercantik Kota Pempek dengan cara mengembangkan sejumlah kawasan menjadi destinasi wisata salah satunya adalah Kampung Mural di Gudang Buncit ini.

Begitu turun dari pelataran parkir kami bertiga saling pandang, karena riang banget dapat lokasi secantik ini untuk jepret-jepret. Tujuan kami memang untuk hunting lokasi foto-foto. Jadi pas dan sangat keren sekali. Sesampai di lokasi ada segorombolan anak SMU Negeri 22 yang sedang melakukan photoshoot untuk buku kenangan di akhir tahun ajaran. Mereka memang booking seorang photographer professional.

Kami maju dan tak sabaran untuk mulai action, dannn ... yang bikin agak kecewa adalah tripod yang sudah disiapkan sejak semalam ngadat dan gak bisa tegak. Jadi gak bisa foto bertiga. Lama tuh ngoprak oprek Tripod, tapi tak bisa juga. Muka sudah memerah karena sinar matahari sangat terik dan area ini tak ada pohon teduh untuk berlindung. Yaaa..sudahlah fotonya sendirian atau paling tidak berdua ganti-gantian.

Qadarullah ternyata anak-anak SMU itu tidak langsung bubaran seusai sesi foto-foto. mereka masih duduk-duduk dan bercanda di lokasi. Asyiiikkk jadi bisa dong untuk minta tolong difotoin agar punya file foto kita bertiga. Click take and shoot... dapat banyak dah... Masih banyak sih spot-spot yang belum dijamah misalnya ada jembatatan dengan view sungai, ada perahu. Namun apalah daya kami sudah tak kuat lagi dengan panas matahari... bubar jalan.

Untuk mengefektifkan rute perjalanan tujuan selanjutnya ada makan siang di Radjotentro cafe. Tapi setelah sampai di lokasi harus menelan kecewa karena cafe ini entah tutup entah apa namun yang nampak hanyalah ruang kosong tanpa pengunjung. Ya sudahlah.... langsung kami balik badan. Menuju BKB.
Hmmm biru elektrik dengan kuning warnanya keren kan...
Ini mural terfavorit di sini
View pojok kanan
Gersangnya...
Itu boneka maskot Asian Games
Ular Naga besarnya bukan kepalang
Pigura yang cantik dengan caption di dinding yang hmm..
View di belakang sangat indah namun tak bisa sempurna karena parkir motor sembarangan dan kotak sampah besar yang terlihat di belakang
Sibuk dengan tripod.. tak berhasil juga ...

BENTENG KUTO BESAK 
Dalam sejarah, Benteng Kuto Besak adalah bangunan keraton dari abad ke-18 yang menjadi pusat Kesultanan Palembang. Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 atas prakarsa Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758, lalu diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803.

Kawasan pelataran di depan Benteng kuto Besak pun ditata sedemikian rupa oleh pemerintah kota Palembang, menjadi sebuah plaza alias alun-alun yang bisa digunakan wisatawan untuk berswa foto dan menikmati suasana pinggiran sungai dengan latar belakang view jembatan Ampera. Kadangkala lokasi ini dijadikan tempat penyelenggaraan event-event besar. 
Saat malam tiba, biasanya kawasan Benteng Kuto Besak dipenuhi oleh pedagang pasar malam yang menjajakan dagangannya. Traveler bisa berburu kuliner khas di sini, berupa pempek, atau pun aneka jenis kuliner kaki lima lainnya yang tak kalah lezat. Dan yang paling hits adalah "Mie Tek-tek".

Mulailah kami beraksi dengan camera handphone, qadarullahnya untuk bisa foto bareng bertiga ada seorang bapak yang menyewakan perahu ketek sembari berjualan penganan kecil diperahunymenawarkan diri untuk menjepret. Foto pertama yang dia ambil adalah tulisan merah bertuliskan Palembang. Angle yang diambilnya bagus. Kami minta tolong lagi kepada "si bapak". Akhirnya beliau bersedia dengan catatan mengganti uang lelahnya dengan rupiah seikhlasnya. Okelah pak...yang penting ada foto rame-ramenya.

Kami juga bertemu sekelompok mahasiswi UIN yang sedang berfoto-foto merayakan Ulang tahun temannya. Anak-anak ini santun dan suka menolong. Selalu ada rasa melow melihat anak-anak sebaya anak kandungku Nabila yang saat ini tak terdengar lagi kabar beritanya. 
Kepalang sudah di area wisata ini, aku menginginkan bisa dapat foto di tangga cantik milik Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Kesampean...deh fotonya cantik-cantik. Terakhir ditup dengan santap siang di warung Mbok Iyah yang terletak di sebelah kantor Walikota. Warung sederhana namun cita rasa makanannya "Aduhhhh Gusti.... Mantapppp".

Usai makan siang kami mampir ke Mesjid Agung untuk sholat dzuhur. Hmmm...benar-benar city tour kali ini. ... Luar biasa acara refreshing kami...dan kita rencanakan episode berikutnya yah....
Bersama Mahasiswi UIN
Anak-anak yang baik dan berakhlak
Hasil Jepretan si "bapak"
Patung Belido
Berdua tapi dapat bertiga...ahhh si bapak


Benteng Kuto Besak
Museum SMB
Kerennn  berhasil dapet foto disini...seumur-umur belum pernah