Tuesday, 16 March 2021

REUNI TEMAN PUTIH MERAH

Reuni atau temu kangen dengan sahabat sekolah masa lalu. Banyak istilah yang dibuat tentang reuni teman sekolah. Teman putih merah untuk SD, putih biru untk SMP dan putih abu untuk SMA. Nah.. kemaren itu aku "mencoba mau" untuk reuni putih merah alias teman SD (padahal masa aku SD kami belum pake seragam sekolah alias gak ada seragam). Masa SD kami ke sekolah pakaian bebas, bahkan ada sebagian besar ke sekolah masih nyeker alias gak pake alas kaki. Ada yang pake sandal. alhamdulillah aku lebih beruntung ke sekolah sudah pake sepatu. Inget banget merk sepatu yang sangat hits saat itu adalah "Famous" dan tas yang ngetop banget merk "Echolac". Banyak syukurku kepada Allah semasa SD disaat orang masih nyeker aku sudah pake sepatu. Disaat orang bawa buku ditenteng aku sudah pake "Echolac".

Sebenarnya aku paling anti ikut reuni-reunian. Entahlah malas banget. Selama hidupku aku baru 2 kali reunian. Pertama buka puasa bersama teman biru putih di tahun 2011, kedua temu kangen teman putih merah sekitar 2018. Dari 2 kali ikut reunian itulah aku malas atau bisa dibilang "OGAH" ikut yang beginian. Kenapa? Gak suka aja situasi dan aroma pertemuan ini. Katanya temu kangen alias menyambung tali silahturahim, faktanya gak banget dah. 

Dalam setiap reunian selalu aku menemukan beberapa orang sikapnya agak arrogant. Mungkin karena merasa sudah hebat, kaya, punya jabatan hebat. Semua dipamer. bahkan sikapnya agak jaim terhadap yang lain. Sehingga dia ingin dihormati. Duh...bukannya bertemu kembali dengan teman masa kecil harusnya kita mengenang kelucuan, keluguan dan kegokilan kita pada masa kecil yang lalu. Sehingga kita bisa terbahak-bahak...lucu. Maka jika begini manfaat positif reuni bisa merefreshing diri.

Seperti reuni teman SD ini sebenarnya sudah beberapa kali terselenggara. Namun aku gak pernah ikut sejak pengalaman pertama kali ikut aku bener-bener gak berasa nyaman dan trauma. Berkali-kali ditawarkan aku menolak dengan berbagai alasan. Namun kali ini aku mentok gak mampu beralasan-alasan lagi. Terpaksa ikut.

So..tanggal 13 Maret 2021 kemaren aku ikut juga. Reuni diadakan di kolam pemancingan ikan milik Nelly  Yah... acaranya begitu-begitu aja. Lumayanlah! Situasinya masih ada beberapa orang (2 - 3 orang) yang berasa superior. Namun bagiku kali ini lebih nyaman karena yang ikut agak lebih banyak dan setara tingkat kehidupannya dengan aku, jadi masih ada teman ngobrol. Yah...lumayanlah ikut ngariung dan nyorein hari.

Para wanitanya

Dulu kami agak "Close friend"

 

Aksi foto gue yang ngarahin

Lumayanlah jadi fotografer kita

Giliran minta fotoin gini nih hasilnya


Wednesday, 10 March 2021

BERTANAM BUNGA

Corona...oh...Corona...! Efekmu sangat beragam. Mulai dari kekhawatiran, ketakutan, kematian, ancaman rakyat kehilangan pekerjaan dan berujung kemiskinan. Namun dibalik semua negatif Effect ada banyak positifnya. Dengan WFH maka saya jadi semakin rajin, rajin bebersih membuat rumah jadi kinclong, rajin masak berujung baju gak muat, lalu rajin melihat-lihat IG, FB, bahkan saat jalan pagi keliling komplek mata rajin melihat-lihat halaman rumah orang yang dilewati. Lalu muncullah ide-ide kreatif untuk menata perkarangan.

Ide-ide mulai dilancarkan, yang tadinya berniat ingin menata sendiri. Persiapan sudah dimatangkan batu koral putih dan hitam, pasir, semen sudah dibeli. Udah nekad banget buat ngegarap sendiri. Contoh pola aku sampe membuka koleksi majalah dan tabloid Rumah baheula. Hmmmm...semangat 45.

Tapi pas beli tanah pupuk di Reza (penjual bunga langganan aku) iseng ngobrol nanya-nanya bisa gak dia buat taman. jawaban Reza sangat menyenangkan. Dia bilang itu memang kerjaan dia. Aku mikir ngapain aku capek kerjain sendiri kalau ahlinya ada. Lalu negolah kita berdua. Dia check lokasi kerumahku. Hitung-hitungan dia untuk biaya pengerjaan plus tanaman rumput gajah adalah 500 ribu rupiah saja. Itupun dia balik bertanya "kemahalan gak sih bu". Duh Reza baik amat sih. Bagiku murah segitu mah!. Ya sudah deal. Akhirnya dengan material yang sudah aku beli pembuatan taman ini dikerjain Reza. Cuma menata dan gak perlu beli tanaman lagi, karena Reza bilang "Waduh bu, tanamannya banyak banget, kok ibu masih suka beli di saya lagi?". hehehe... itulah ibu-ibu. pengen yang anyar dan viral.

Senang sih memandang perkaranganku yang rapih, menghijau dan indah. Sebenarnya saat tengok-tengok koleksi bunga di depot Reza aku masih pakai logika dan akal sehat juga sih. aku hanya beli yang harganya masuk akal. 200 ribu aja sudah sangat kemahalan bagiku. Apalagi yang jutaan. Ogah ah... Bagiku sangat gak mau dipermainkan oleh taktik pemasaran orang-orang yang pandai mempermainkan perasaan pelanggan. Tanaman yang dulu cuma tanaman liar gak ada harga dibuat booming hingga harganya bisa seharga mobil Alpard. Ahhhhhh...ogah banget!

Dari iseng menjadi indah. Karena aku orangnya gak mau diem dan selalu ingin sibuk jadi merawat tanaman itu benar-benar sangat menyenangkan. Dan sebagai tanda bakti mereka yang kurawat sepenuh hati, mereka juga memberikan kepuasan yang luar biasa. Tanamanku lebat, besar, hijau dan jika itu tanaman berbunga mereka akan memberikan pesona merah, kuning hijau yang maksimal. Dududu....!

Kadangkala karena hati ini senang dan puas aku suka foto-fotoin untuk dipasang di status WA, FB atau instagram. Cilakanya..melihat postinganku jadi banyak teman-teman yang minta. Hmmmm...Banyaklah teman-teman yang mampir dan singgah kerumah buat minta tanaman.  Sebagai orang yang gak tegaan kadangkala aku memendam korban perasaan. Apalagi jika teman itu sudah jauh-jauh datang gak tegalah gak dikasih. Mereka yang datang asal main tunjuk aja. Minta yang ini minta yang itu. Aku langsung main potong atau cabut aja buat ngasih. Rupanya tanaman bisa marah juga. Karena dipotong sembarang, dicabut sembarang mereka jadi mati. Contohnya black pink aku sampai sekarang sekarat, padahal dulu rimbun dan cantik sekali. Pengen nangis banget. Apalagi pas aku mau beli lagi di depot penjual bunga harganya sekarang sudah jadi 500 ribu per pot untuk ukuran tanaman yang masih sangat kecil. Dulu sebelum booming aku beli masih kecilnya cuma 50 ribu. Hiks...

Pengalaman ini membuat aku evaluasi diri. Aku sengaja beli polybag dan tanaman yang sudah rimbun sengaja aku pecah menjadi beberapa kutanam di Polybag. Jadi kalau ada yang minta langsung tinggal angkat aja. Cilakanya lagi sistem inipun membuat aku jadi keteteran. Belum siapkan benih baru stock buat ngasih orang sudah habis. Kalau begini kadangkala aku gak tega maka kukasih aja sekalian potnya, jika aku punya koleksi di beberapa pot. Hmmm... lebih parah dong. For free untuk potnya juga. Ya sudahlah...! Mungkin ini jalan aku buat beramal baik ya.

Karakter kami, ibu, saudara-saudaraku dan aku yang memang suka dan rajin bertanam  "TIDAK" pernah meminta tanaman di halaman orang, teman atau saudara. Kalau melihatnya cantik dan suka maka kami akan cari di penjual bunga dan beli. Jujur seluruh tanaman yang ada di rumahku semua hasil beli atau dikasih sesama saudara kandung (Catat! Dikasih bukan minta). Karena kami tahu bagaimana proses suatu tanaman menjadi indah di pot. Perlu proses. Disiram (kalau pupuk hampir tak pernah kami main pupuk), ganti tanah, pemecahan jika sudah besar. Jadi perlu proses, tenaga, usaha juga biaya. makanya gak mau main minta atau main cabut aja. Tapi inilah dunia..karakter orang beragam.

Sejak itu aku jadi males buat posting di medsos. Yah itulah....sekilas info tentang aktifitas bertanamanku. Moga-moga tetap kuat buat merawatnya. Terlebih lgi akhir ini aku sudah mulai menyukai anggrek yang harus lebih telaten disiram pagi sore, dipupuk 3 kali dalam seminggu. Inshaa Allah mereka akan berbakti juga. Aamiin...

Kamboja Jepang merah di rooftop

Adenium

Gladiol

Mawar merah

Euphorbia yang pernah jaya dimasanya

Bunga jalanan.. aku beli 15 ribu per pot


Bukan kaleng-kaleng. Segede ini dia

Mawar pink kesayangan. Bunganya seperti plastik. Aku beli 25 ribu per pot

Kesayangan banget ini. Beautiful ya..

Kreasi taman by me. Executor Reza

Bahkan sampah sayurpun jadi seperti ini.

Terbaik...inilah yang banyak dimintai orang

Lebat besar

Kucing Kelinci


Rame sampe susah lewat



Susah lewat


Ini beli 25 ribu per pot. aku sengaja nyari untuk beli karena pas lihat di perkarangan tetangga indah banget.

Koleksi anggrek


Di bawah jendela dapur...

Tuesday, 9 March 2021

REKAN SEJAWAT

Banyak sekali yang terjadi selama pandemi Corona ini. Mulai dari WFH yang membuat aku jadi jarang ngantor dan terlibat interaksi dengan rekan sejawat, karena jika ngantor hanya seorang seorang bergiliran. Senang? Nyaman? Iya banget.. Efektif dan efisien malah. Secara load job aku gak gitu banyak. Sebagai penjual jasa pelayan pabrik, jadi jika ada ada yang minta kalibrasi alat atau analisa produk saja aku baru ngantor. Bisa jadi tiap hari masuk. Bisa jadi nyampe sore. Atau sebaliknya gak masuk-masuk, atau setengah hari aja. Asyik sih... Dan aku berharap kondisi ini sampe aku pensiun. Toh tak lama lagi paling setahun.

Namun zona nyaman ini gak boleh berlama-lama kurasakan. Tanpa diharap terjadi perubahan besar-besaran di struktur organisasi perusahaan ini. Bahkan targetnya gak tanggung-tanggung 100 M. Sebelumnya hanya 2M. Dirombak habis. Kami yang dulu merupakan Bagian sekarang jadi Departemen. personalnyapun dari hanya 3 orang menjadi 11 orang. Rame dong..riweh juga.

Sejak terbentuknya organisasi baru ini maka WFH dihentikan alias ditiadakan. Aku dipanggil masuk kerja. No WFH more...! Huft...Target-target dan kepemimpinan yang belum tahu arah sibuk pindahan dan menata ruang kerja menjadi baru  membuat stress berkepanjangan. Kita sebagai personel lama jadi bingung sendiri melihat mau dibawa ke mana unit kerja ini? Tapi ya sudahlah...! Jalani saja. Toh bagiku tak lama lagi hanya hitungan bulan pensiun.

Team baru


Karyawatinya

TEMU RINDU CAFE

Banyak cara yang kulakukan membunuh sepi dan kesendirianku. Meski nampaknya aku seperti membayar untuk pertemanan. Namun tak apalah...yang penting aku terhibur. Bukankah uang tak akan dibawa mati nantinya. Jadi begitulah sesuai prolog, kebetulan aku sedang mengambil jatah cuti tahun 2020 yang masih full karena selama pandemi aku tidak pernah ke mana-mana. Travelling stop...! Tumben banget cuti masih full disaat cuti baru sudah akan timbul lagi, padahal biasanya belumlah timbul cuti aku sudah berhutang... ambil cuti untuk travelling.

Aku ambil cutinya nyicil berhubung cuti besar jika diambil langsung maka hari libur tanggal merah akan dikalkulasikan semua. Cuti 5 hari terhitung Senin tanggal 1 Maret 2021 sampe tanggal 5 Maret. Baru aja hari Selasa aku sudah merasa bosan di rumah. Tadinya rencana hari Selasa ini mau makan pindang Mbok Iyah dengan Atun, namun gagal karena iparnya Atun meninggal dunia.

Cari ide nih untuk menghilangkan kebosanan. Ehhh... disaat mikir mau ajak siapa buat kongkow atau hangout bareng...tiba-tiba Yossie chat WA dan kirim promosi tempat week end baru di Palembang "Forest Cafe". Ahayy..pas lah... Aku langsung balas chatnya. "Yoss...kita kesini yuk. Kebetulan aku cuti nih..bosan di rumah terus. Ayo Rabu atau Jum'at, karena Senin aku udah ngantor lagi". Yossie ngebales dan bilang oke..tapi dia mau survey dulu ke lokasi. Pastinya Jum'at aja. Plus Ana juga ikut.

Singkat cerita jadilah kami jalan bareng Jum'atnya, namun gak jadi ke Forrest Cafe. Karena menurut berbagai narasumber suasana di Forrest Cafe sangat tidak nyaman (Panas...). Mereka konsepnya cafe alam terbuka..jadi gak ada AC atau apapun buat ngedinginin ruang, sedangkan tumbuhan yang ditanam disekitar belum ada (atau belum tumbuh...entahlah?). Disamping itu pelayanannya kurang tangkas. Jika order makan jam 12 datangnya jam 2.. (waduh masa iya sih....keburu pingsan deh!). Itu katanya... Dari hasil survey Yossie juga bilang begitu. Gak ada apa-apa yang menarik. Panas iya...

Sudahlah yang penting kita jalan. Yossie lah yang banyak wawasan..jadi kami (aku dan Anna) ikut aja. Pertama kami menuju sebuah Cafe dekat PTC..masuk lorong...aduh aku lupa namanya. Kalau dari info di google yang diHP Yossie kayaknya interornya cukup menarik dan instagramable banget. Setelah muter-muter dibawa Google Map nyampe juga ke lokasi. Namun sayangnya tutup. Entah memang tutup karena pandemi....atau belum buka karena masih terlalu pagi (kami nyampe jam 10.20). Ya sudah..let's go... Untungnya Yossie cukup cerdas dan punya banyak plan.

Jadilah kami mampir ke Temu Rindu Cafe yang berlokasi di Jalan Sumpah Pemuda Blok M No. 7. Persis sebelah Radio Momea. Pas nyampe ke lokasi dari luar terlihat biasa-biasa aja. hanya nampak sebuah rumah biasa. mobil yang parkir di pelataran tak ada. Sepi pengunjungkah??? Entahlah... kami masuk setelah menyempatkan diri foto-foto di depan pintu masuk. 

Nah... setelah masuk barulah mataku berbinar-binar.. karena desain interiornya "GUA" banget. Vintage, etnik, rustic juga kali ya. Sementara Anna masih sibuk parkir mobil dan ganti sepatu aku dan Yossie udah jepret-jepret aja. Dan demikian juga seterusnya fotooooooo aaannn terus. Adek yang jadi pelayannya juga baik banget sabar... dan mauuu dengan ikhlas motoin kita. Rupanya meski cuma foto-foto kesana-sini capek dan membuat keringetan juga. Akhirnya kami segera pilih meja dan memesan makanan. Cafe pun mulai sangat ramai...

Kalau untuk testimoni masakan menurut aku cukup 3 bintang ya. Aku memesan soto Jakarta dan Ice Lemon Tea. Lumayanlah enak kok. Apa karena aku laper ya? Karena Anna dan Yossie kok keliatannya agak kurang selera. makanannya hanya disantap separoh. Sedang piringku licin tandas. Hmmm...

Entrance

Baru masuk udah langsung pefotoan aja.


Tuh kan keren..kain yang digantung-gantung itu adalah dasar-dasar sisa loh.. kreatif banget idenya


Suasana outdoornya juga eye catching..


Nuansa Etnic...


Piye toh Jeng gaya ikan duyung gitu...



Friday, 19 February 2021

CoandCo Cafe

Bermula dari lihat postingan orang lain di Instagram, maka timbullah niat untuk datang. Seperti biasalah... saya...hehehe.... Dan juga untuk membunuh rasa jemu kesendirian aku suka mengajak teman-teman buat refreshing ditempat terfavorite. Seru juga cerita untuk bisa sampai ke sini. Muter-muter dan bolak balik. Susah juga lokasinya gak bisa dilihat di google map, bahkan dibuat nyasar-nyasar oleh mbah google.

Terletak di Jln. KH. Ahmad Dahlan No.49 Talang Semut Kec. Bukit Kecil Palembang. Suasana dan interior maupun exterior cafe inilah yang membuat aku semangat banget untuk datang kesini. Design exteriornya yang etnik dan sedikit rustic sungguh keren dah. Tapi pas dateng sendiri rasanya semua biasa-biasa aja. Gak seperti bayanganku. 

Lantas saat pesan menu. Sulit memilih karena menunya gitu-gitu aja. Dan pelayannya menawarkan menu favorite di cafe ini. Sate taican..! Akhirnya kami ikut aja saran pelayan. Setelah dicoba... hmmm...entahlah sulit diterjemahkan. Amis...dan hmmm..berdosa dah mencela makanan. Asli habis makan aku pengen muntah karena mual. Yah..jadilah nyobain sekali aja. 

Desain Exteriornya

Interiornya

Hanya ini yang impressif

Pintu masuk