Tuesday, 10 September 2019

PANTAI PENYUSUK

Hari ke-2 di Bangka diawali dengan sarapan di hotel, selanjutnya kami bersiap-siap di Lobby menunggu jemputan Welly. Tepat jam 8 pagi Welly sudah datang dan kami langsung on the way. Kalau kemarin kami menjelajah Bangka Selatan maka hari ini kami akan dibawa ke Bangka Utara. Perjalanan yang lumayan jauh memakan waktu sekitar 1 - 2 jam cukup melelahkan. Apalagi cuaca dan udara kota Bangka yang gerah. Aku terkantuk-kantuk bahkan sempat tertidur sepanjang setengah perjalanan. Tiba-tiba mobil berhenti di pom bensin buat ke toilet. Selanjutnya aku sudah lumayan segar dan melek lagi.

Pulau Bangka memang bisa dibilang surganya wisata pantai karena memang memiliki banyak sekali jenis wisata pantai yang sangat menarik. Salah satu tujuan wisata yang jadi favorit warga sekitar maupun wisatawan adalah adalah Pantai Penyusuk yang terletak di Belinyu, Bangka Utara, Kepulauan Bangka Belitung.

Untuk mencapai lokasi kita memang harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan, karena tidak ada fasilitas kendaraan umum. Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang berganti ganti sepanjang perjalanan, ada lokasi penambangan timah yang dikelola secara sederhana oleh masyarakat lokal, ada pula perkampungan penduduk etnis cina, perkampungan melayu serta perkebunan cengkeh dan jambu mete. Sebelum mencapai pantai, perjalanan kita akan dimanjakan dengan pemandangan lautan biru di sebelah kanan serta menyaksikan pantai dari atas jalan perbukitan.

Sesampainya di lokasi pantai Penyusuk, seperti kemaren-kemaren suasana sepi tak berpengunjung. Ada beberapa orang penduduk setempat yang duduk-duduk di warung kecil dekat pantai. Begitu turun dari mobil banyak anjing langsung menyongsong kami. Tidak galak alias tidak menggonggong, tapi aku tetap takut dan berteriak-teriak. Lagipula agak geli melihat tampilan anjing yang kotor, buluk dan kudisan. Seorang ibu mendekat menenangkan aku, "tak apa-apa bu, tidak menggigit kok. Mereka ini sudah biasa diberi makanan oleh pengunjung, jadi kalau ada pengunjung yang datang yahh.. begitulah langsung disongsong siapa tahu bawa makanan kecil. Hmmmm..... Setelah mengusir anjing-anjing tersebut, si ibu menyerahkan tiket masuk dimana harga tiket hanya Rp. 3000,- perorang.

Begitu sampai ke bibir pantai aku tersenyum kagum... cantik pantai ini. Seperti pantai pantai lain di pulau Bangka, Pantai Penyusuk juga menyajikan pasir putihnya, dengan susunan – susunan batu granit besar dan kecil. Bebatuan granit di pantai ini cukup banyak dan susunan batu granit ini pula yang membuat alias mempercantik tampilan pantai ini.

Aku dan Kotada langsung berjalan ke bibir pantai dengan camera Olympus dan Samsung A7 yang ready di tangan. Sedangkan kedua ibu-ibu dan Welly masih berjalan lengang dari parkiran menuju bibir pantai. Ketika mereka mendekat ternyata sang ibu-ibu juga mau di foto-foto. (Hammm dari kemaren mereka kurang bergairah foto-foto), tiba-tiba Welly menawarkan diri untuk ambil foto agar kami bisa foto berempat. Setelah aku lihat hasil fotonya, kaget dan senang hmmm ... keren banget teknik dia "take" fotonya. Guaa... banget. Pas view langit, daratan, kiri, kanan. Sejak tahu ini... apa-apa aku selalu minta dia yang fotoin. Pas aku bilang ke Iyun hasil foto Welly bagus, Iyun bilang ya iyalah dia ini orang Humas...sering liputan... ohhhh...seperti itu.

Setelah ambil beberapa foto di bibir pantai, Welly mengajak naik ke atas sebelah kanan. Katanya view di sana bagus. Kami ngikut. Bener aja memang bagus, disana terdapat tumpukan batu granit. Kami naik kesana dengan susah payah... wkwkwk. Alhamdulillah masih bisa mendaki bebatuan terjal.

Selain itu empat buah pulau yang kecil dan indah tersebut berjajar dengan cantik dan membuat pantai ini seolah terlindungi dari derasnya gelombang air laut. Kemudian karena arus lautnya sangat tenang, maka pantai ini sangat cocok untuk tempat bermain bagi anak – anak atau bisa juga dijadikan sebagai tempat untuk bersantai dan bermain dengan air. Untuk Anda yang berlibur ke Pantai Penyusuk, maka tidak perlu lagi bingung mencari tempat penginapan karena di kawasan tersebut sudah terdapat banyak sekali tempat penginapan dan juga tempat makan. Selain itu beberapa fasilitas seperti berkemah, kemudian juga toilet umum dan juga fasilitas lainnya akan dapat Anda dapatkan selama berlibur di Pantai Penyusuk tersebut. 
Puas beraksi di pantai Penyusuk dengan muka yang memerah terpapar sinar matahari, kami kembali ke mobil untuk destinasi berikutnya.
Laskar Wong Kito...wkwkwk... 4 sekawan
Langit biru jerninya..
Jump out....
Bagusss bangettt
Airnya tenang , angin juga tak ada.. padahal sengaja bawa selendang biar di fotonya gaya dengan selndang terbang-terbang gitu.

Masih usaha menerbangkan selendang... wkwkwk
Kayak foto pemandangan di kalender yak...
Sudah nyangklong aja di atas batu. Panaspun tak berasa demi indahnya view.
Sudah duduk manjah aja, padahal tadi naik kesininya repott...
Ngatret.. yaaa...
Usaha keras naik ke atas...
Bermanjah-manjah... setelah keringetan naik
Akhirnya terbang juga tuh selendang
Pintu masuk yang difoto saat pulang



Monday, 9 September 2019

MIE KOBA BANGKA.

Putar balik dari Jembatan Emas kami kembali melanjutkan perjalanan, tujuan utamanya adalah mencari masjid buat sholat. Sekalian napak tilas buat Yuyun, Welly mengajak kami sholat di masjid Polda Bangka. Masjidnya bagus dengan desain yang sangat modern. Mulai dari tempat wudhu, bentuknya artistik sekali. Aku jadi inget saat kami mengunjungi Ersya di Sekolah Insan Cendikia di Tangerang. Agak mirip... ! 

Selanjutnya usai sholat Welly mengajak putar-putar di lingkungan polda Bangka tempatnya dan Yuyun dulu pernah bertugas. Dari pembicaraan mereka aku menyimpulkan perkembangan polda Bangka sangat pesat sekali. Kami juga sempat diajak putar-putar lokasi tempat tinggal Yuyun dulu saat tinggal di Bangka. Dan sebagai acara terakhir malam ini adalah... yang ditunggu-tunggu, mencicipi destinasi kuliner terpopuler di Bangka yaitu Mie Koba. 

Rencana makan mie Koba sudah dicanangkan sejak siang - sore tadi, karena kebetulan kami sedang berada di Koba, katanya Mie Koba yang ada di Koba lebih maknyus. Namun karena padatnya acara diurungkan. Berkunjung ke Bangka tidak lengkap rasanya tanpa mencoba kuliner khasnya. Welly membawa kami ke kedai mie Koba yang cukup termasyur yaitu Mie Koba Iskandar. Kedai mie khas Bangka yang pemiliknya bernama Pak Iskandar ini berlokasi di Jalan Balai Kota Pangkal Pinang. Tanya saja pada supir taksi mereka pasti tau Mie Koba Iskandar saking legendarisnya. Saat kami mampir pengunjung yang ada sangat padat. 

Mie Koba ini aslinya sudah berdiri sejak 20-an tahun yang lalu. Resepnya pun asli turun temurun. Apa istimewanya Mie Koba ini? Menurut catatanku yang pertama istimewanya adalah Mie-nya asli handmade dengan bentuk yang kecil-kecil dan tipis, lembut dan tidak kenyal, tapi nggak juga langsung hancur saat diseruput. Kuahnya sendiri terbuat kaldu ikan tenggiri yang sudah dicampur rempah-rempah seperti cengkeh, pala, kayu manis, ketumbar, kembang pala dan gula aren asli. Campuran rempah ini pulalah yang membuat sama sekali tidak tecium bau amis pada kuahnya meski terbuat dari ikan. Rasa dari kudapan mie ini campur aduk ada asin, gurih dan manis.  Didalam penyajiannya Mie dihidangkan dalam sebuah piring , ditambahkan campuran tauge, cabe dan perasan jeruk. Sedangkan diatas meja sudah tersedia telor rebus dan kerupuk. Bila berminat kita boleh menambahkannya.

Ada cerita lucu saat jajan Mie Koba ini. Pertama order kami masing-masing cuma memesan 1 porsi perorang, dan ternyata setelah dimakan lidah masih bergetar dan belum merasa puas dengan kelezatan kudapan ini. Namun... mau order lagi khawatir gagal diet. Tak pesan lagi...bisa kebayang-bayang terus nanti malam. Akhirnya sepakat... order 1 porsi lagi lalu akan disantap bertiga. Kalau Kotada mantap bilang mau tambah 1 porsi lagi. Cusss... orderlah kami 2 porsi lagi. 

Tapiiii... ternyata ketika 1 piring sudah berada di hadapan kami... kok rasa-rasanya sepiring ini dibagi 3...gak akan berasa banget ya. Sedikit sekali.  Akhirnya aku dan Yuyun bilang ogah aaahhh bagi 3 , bagi 2 aja. Dan ibu Angga harus order lagi... 1 porsi. Bahkan setelah 1 porsi dibagi 2 pun kerasa masih kurang. ... wkwkwkkwk. Maka ketika piring kami sudah ludes, lanjut lagi bantuin ibu Angga menghabiskan porsi dia. Hmmm... Terus kesimpulannya apa yah fakta ini? Suka? Lapar? Atau doyan??? Hahaaa... sampai sekarangpun masih terbayang di lidah betapa lezatnya Mie Koba ini, sayangnya tak ada jualannya di Palembang. Atau jualan online gitu??? Hmmm. Dan yang paling kerennya lagi kamu cukup mengeluarkan Rp12.000 saja untuk seporsi Mie Koba ini. Murah banget kaaan! Mantappp....! 

Sekianlah itinerary perjalanan hari pertama di Bangka ini, kami balik ke hotel, mandi dan tidur dalam keadaan perut begah kekenyangan mie Koba. Gagal...gagal deh diet daripada ngeces! 

Hampir lupa fotoin buat dekumentasi. Ini masih piring pertama...
Lorong masuk masjid Polda Bangka

JEMBATAN EMAS

Dalam perjalanan pulang ke kota Pangkalpinang Welly mencari jalan agar lebih cepat sampai. Di dalam perjalanan dia bercerita nanti kami akan lewat di sebuah jembatan yang cukup termasyur di kota Bangka yaitu Jembatan Emas.Jembatan Emas berada dipantai Pasir Padi dan pantai Air Anyir menghubungkan Kabupaten Bangka dan Kota Pangkal Pinang. Jembatan Emas baru diresmikan pada Februari 2017 lalu oleh Bapak Presiden Jokowi yang pada saat itu juga meresmikan Bandara Depati Amir yang baru.

Nama jembatan ini diambil dari salah satu tokoh Bapak pembangunan di Bangka yakni Gubernur Eko Maulana Ali-Syamsudin Basari (Disingkat Emas) menjadi Gubernur Babel periode 2007-2012 dan meninggal sebelum jabatannya berakhir. Konon katanya bapak Eko inilah yang menggagas untuk dibangunnya jembatan ini. Kini jembatan yang menjadi salah satu ikon terkenal bahkan bisa jadi destinasi wisata di kota Bangka dimana para wisatawan dapat berswa foto.

Jembatan Emas memiliki Panjang sekitar 785 meter, dengan lebar 23 meter dan membentang di atas aliran Sungai Pangkal Balam, wilayah Ketapang, Pangkal pinang. Jembatan yang konon menghabiskan anggaran dana APBD sekitar Rp 400 miliar ini menjadi salah satu jembatan terunik di Indonesia. Keunikan ini bisa kita lihat dari fungsinya dimana jembatan ini memakai teknologi bascule yang artinya bisa dibuka tutup saat ada kapal-kapal besar melintas disekitar pelabuhan yang tak jauh dari jembatan emas.

Ketika hampir sampai dilokasi jembatan ini hari menjelang maghrib. Dari kejauhan Welly sudah bilang "Yahhh..kita harus muter balik dah". Kami yang tak paham langsung bertanya "loh kok putar balik". 
"Iya...bu... itu jembatannya sedang mengangkat alias terbuka, jadi tak bisa dilintasi".

Meski kami sendiri belum "ngeh" kok Welly tahu bahwa jembatan sedang terbuka. Aku bilang tapi kita boleh dong dekat ke arah situ. Diatas jembatan. Trus foto-foto. Welly bilang boleh. Asyikk... Kami mendekat. Konon kata Welly kalau jembatan sedang tidak terangkat biasanya kondisi disini cukup ramai, entah itu orang yang memang mau melintas, atau pendatang yang ingin foto-foto.  Welly memarkirkan mobilnya dipinggir jembatan. Dengan antusias aku turun, sekilas mirip dengan jembatan Sura Madu. Kami mulai mengambil beberapa foto. Memang keren kok jembatan ini

Itu badan jembatan yang biasa dilalui kendaraan sedang mengangkat

Pinggiran dekat trotoar

PANTAI ARUNG DALAM

Matahari masih panas membara, ditambah lagi udara kota Bangka dan Belitung memang terasa panas (mirip udara di Cilegon). Apakah karena ini kota industri alias tambang, sehingga udaranya gerahhh... Kami kembali melaju sesuai arah mana Welly melajukan mobilnya. Itinerary yang kususun gak dipakai, karena sebagai penduduk asli (pendatang yang sudah puluhan tahun bisa disebut penduduk asli kali ya??) dia paham mana-mana destinasi wisata yang indah yang jalurnya searah sehingga bisa dihabiskan dalam satu rute.

PANTAI ARUNG DALAM
Berada di Kecamatan Koba, Pulau Bangka, terdapat pantai yang sempurna untuk relaksasi. Namanya adalah Pantai Arung Dalam. Pantai ini merupakan bagian Kabupaten Bangka Tengah. Apa istimewanya? Orang datang ke sana untuk menikmati matahari terbenam yang spektakuler. Ini adalah tempat yang romantis untuk menghabiskan sore dengan yang spesial. Suara ombak dan angin yang menyejukkan juga menciptakan suasana yang sempurna di sana. Selama akhir pekan, Anda mungkin mengharapkan banyak orang di pantai. Ini termasuk anak muda, keluarga, turis, dan banyak lagi. Semua orang menyukainya!

Fitur yang paling menarik di Pantai Arung Dalam adalah matahari terbenam yang menakjubkan. Langit memancarkan warna oranye dan suasananya yang indah. Pantai ini memiliki ombak yang tenang dan kecil sementara garis pantainya sempit tapi nyaman. Di cakrawala, Anda mungkin menemukan pepohonan hijau dan tinggi. Pasir pantai yang putih dan nyaman, sehingga sangat cocok untuk relaksasi. Di akhir pekan, masyarakat di Koba sering datang ke pantai untuk menghabiskan waktu sore yang romantis bersama teman atau keluarga.

Tak memakan waktu lama kami sampai ke pantai ini. berhubung kami datang bukan di musim libur dan juga bukan week end, suasana pantai sangat sepi. Pantai yang indah... dengan tanpa pengunjung serasa kami yang punya pantai saja. Hmmmm... memang serasa milik sendiri deh, di pantai ini siapa mau masuk ayooo masuk aja tanpa ada restribusi. Benar-benar serasa private beach deh....

Melihat hamparan air laut yang biru berkilau karena ditimpa sinar matahari dengan hamparan pasir putihnya di bibir pantai, yang pasti naluri fotografi aku langsung jalan kaannnn. Aku dan Kotada langsung turun menyelusuri pinggiran pantai sambil mainkan camera olympus dan Samsung A7 aku. Sementara ibu-ibu lainnya beserta Welly duduk-duduk di bawah pohon asyik ngobrol.

Sayangnya kami datang di tempat ini tidak tepat waktu. Hari masih sore sekitar jam setengah 5 kurang, kalau menunggu sunset masih lama, disamping itu biarpun ditunggu juga sunset gak bakalan dapat karena tiba-tiba cuaca mendung malah ditambah sedikit gerimis. Hmmm... kejar sunset kedua yang gagal (pertama saat di pantai Tanjung Kelayang Belitung). Akhirnya kami beranjak pergi jua. Banyak itinerary yang gagal alias skip nih di hari ini. Rencana mau makan mie Koba asli Koba juga batal karena sudah kesorean takut terlalu malam sampai ke hotel. Akhirnya ya sudahlah... ayo kita balik ke kota. Makan mie Kobanya di kota aja. Cusss...!
 
Coba ada ayunan yah... bisa tidur karena semilir angin
Saat baru nyampe terang membara
Pantainya tenang dan sepi...
Langit tak cerah
Langit mulai gelap putuslah harapan untuk dapat sunset
Kebayang deh kalau dapat sunset dari posisi ini pasti keren banget

Friday, 6 September 2019

DANAU KAOLIN AIR BARA

Baiklah perut sudah kenyang, sholat juga sudah so..let's go our trip for today! Tempat wisata pertama yang kami kunjungi di Bangka adalah Danau Kaolin Air Bara. Danau yang indah ini terletak di Desa Air Bara, Kec. Air Gegas, Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Danau Kaolin adalah sebuah danau yang memiliki warna daratan yang putih bersih layaknya hamparan salju dengan air danau yang berwarna biru tosca terang. Danau ini terbentuk dari bekas tempat pertambangan Kaolin yang telah ditinggalkan oleh masyarakat setempat dan dengan sendirinya bekas galian tersebut dibentuk oleh “tangan-tangan” alam menjadi sebuah danau yang indah.

Tempat yang berada di Desa Air Bara, Kabupaten Bangka Selatan ini memiliki akses perjalanan yang lancar dan mulus jika anda berangkat dari Ibukota Provinsi Bangka, yakni Pangkal Pinang. Perjalanan yang akan anda tempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor kurang lebih  selama 1-1,25 jam perjalanan. Danau Kaolin Air Bara terletak tidak jauh dari Jalan Lintas Provinsi Koba-Toboali. Dari jalan lintas tersebut, kita akan melewati jalan tanah kurang lebih 200 meter hingga akhirnya kita akan sampai ke tempat tujuan. Sebelum tiba di Desa Air Bara terdapat simpang empat yang masyarakat sekitar menyebutnya Simpang Bemban, tidak jauh dari persimpangan inilah Danau Kaolin yang indah itu berada.

Kenapa disebut Danau Kaolin? Nama Danau Kaolin diberikan sesuai dengan nama bahan tambang yang ada di danau ini. Danau Kaolin Air Bara terbentuk dari bekas tempat pertambangan kaolin yang telah ditinggalkan. Dinding-dinding bekas lubang galian kaolin memiliki warna putih yang bersih, sehingga tampak seperti salju yang menempel di tanah.

Kaolin adalah semacam tanah liat yang efektif untuk mengobati diare dan juga peradangan kulit tertentu. Kaolin merupakan suatu masa batuan yang kemudian tersusun dari material lempung yang mempunyai kandungan besi yang rendah, dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan. Manfaat Kaolin adalah mineral yang biasa digunakan sebagai bahan industri seperti kosmetik, kertas, makanan, pasta gigi, dan lainnya. Kaolin banyak digunakan karena sifatnya yang halus, putih, kuat, serta daya hantar listrik dan daya hantar panas yang rendah.

Saat sampai di lokasi wisata ini jam menunjukkan pukul 2 lebih. Matahari sedang sangat terik memancarkan cahayanya. Namun pesona eksotis danau ini membuat kami tidak merasakan panasnya matahari yang membakar kulit wajah. Paduan warna dindingnya yang seputih kapas menyerupai dinding salju dan airnya yang biru toska dan jernih membuat aku.jadi teringat Cotton Castle di PamukkaleTurki. Dinding batu yang putih seperti kapas/salju sekilas hampir sama namun ada perbedaan mencolok di warna airnya. Di danau Kaolin Air Bara pesona biru airnya tak tertandingi. Benar-benar indah.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp.5000,- perorang mulailah kami terlena dan tak puas mengitari bahkan sampai turun ke dasar kolam. Meskipun sinar matahari full watt memancar namun karena hembusan angin yang deras dan kencang juga membuat rasa terik membara itu terabaikan. Hmmmm... Maasyaa Allah...! Hampir 1 jam lebih kami berputar-putar menikmati onjek wisata ini akhirnya mulai merasa lelah dengan wajah memerah panas terbakar.
I'm free... hehehe...si bujang kami
Cantik sekali biru jernihnya
Dari posisi berlawanan arah kolam airnya berwarna hijau
Tuh airnya hijau
Ini sisi bagian biru di tepian dasar bukit dekat danau
Birunya luar biasa...kesukaann aku
Dasar tepi danau
Ayoooo... muter-muter teu puguh ...

Bandingkan dengan Cotton Castle di Pamukkale Turki
Kami naik dan mencari tempat berteduh dan mengaso di sebuah kedai kelapa. Kami memesan kelapa 4 buah untuk jatah satu orang satu (Welly ...entah di mana?). Tapi ternyata ukuran kelapa di kedai ini sangat besar, kandungan airnya seperti jatah 2 butir kelapa yang umum. Sayang banget...kami tak mampu menghabiskannya. Dari kami berempat semua tak ada yang mampu menghabiskan airnya. Waduh mubazir...kalau tahu ukuran kelapanya besar mungkin kami akan pesan cuma 2 kelapa saja. Kirain seperti di pantai Serdang Belitung. Harga untuk 1 butir kelapa Rp. 15.000,-. Wajar memang harganya untuk harga 2 butir kelapa ukuran kebanyakan. Satu catatan air kelapa baik di Belitung maupun Bangka rasanya manis sekali, beda dari tempat-tempat lainnya.

Thursday, 5 September 2019

1st DAY IN BANGKA ISLAND

Selasa. 20 Agustus 2019
ARRIVING
Pagi- pagi jam 8 seusai sarapan di Green Tropical hotel kami langsung check out dan menuju bandara. Pagi ini kami akan berpindah tempat ke pulau Bangka. Schedule pesawat kami Nam Air penerbangan jam 9.25. Meskipun kata Idham nanti aja wong bandaranya deket kok 15 menitan dan bukankah kami sudah check in online, tapi kami tak mau ambil spekulasi terburu-buru mengurus segala sesuatunya di bandara, bukankah barang bawaan kami segitu banyaknya???

Sampai di bandara aktivitas di bandara HAS Hanandjoeddin sangat rustic, ramai dan sibuukkk. Sepertinya banyak penumpang yang datang dan meninggalkan Belitung. meski bandara HAS Hanandjoeddin sangat kecil namun aktifitasnya cukup padat. Pesona wisatanya yang memang indah dan menarik menyebabkan banyak pendatang yang keluar masuk bandara ini , selain itu penduduk pendatang yang menetap dan bekerja di Belitung pulang pergi. Alhamdulillah semua lancar, mulai dari proses confirm check in dan bagasi. Tidak menunggu begitu lama pesawat kami on schedule dan langsung take off. Jarak Belitung - Pangkal Pinang hanya ditempuh dalam perjalanan selama 25 menit saja, tapi anehnya olengan pesawat dalam rute ini sejak awal datang kerasa banget, mungkin karena letaknya atau apalah.

Jam 10-an kami sudah mendarat di bandara Depati Amir Palangka Raya Bangka. Setelah pengambilan bagasi kami langsung keluar. Agak kebingungan mau lewat jalur mana dan pintu mana, tak bertemu sign penunjuk arah. Sama seperti bandara HAS Hanandjoeddin bandara Depati Amir pun sangat sibuk dan ramai. Welly mantan rekan sekantor kakakku Yuyun yang bersedia mengantar kami selama di pulau Bangka ini tak terlihat. Dari pembicaraan per telpon beliau bilang, di bandara ini penjemput tak bisa masuk ke arriving area, jadi hanya menunggu di area parkir yang berada di lantai bawah.

Tinggal kami yang bingung bagaimana harus menuju lantai bawah sedangkan barang bawaaan kami banyak 2 trolly aja penuh (hmmm...) Tadinya aku mikir untuk menuju lantai bawah itu harus lewat tangga, kebayangkan harus bongkar muat barang sebanyak itu yang jadi ujung tombak adalah aku dan Kotada. Hufh... usut punya usut dan setelah tanya sana sini, rupanya lantai bawah itu ada jalur jalan khusus yang dibuat untuk trolly, alhamdulillah. Hebat juga desain bandara Depati Amir hampir mirip dengan Bandara Soekarno Hatta Ultimate 3. Memang direncanakan akan menjadi bandara International, disana sini juga terliat pembangunan untuk perluasan area dan penambahan gedung.

Singkat cerita akhirnya kami sampailah ke area parkir, setelah memuat seluruh barang bawaan kamipun melaju. Pertama-tama kami harus ke hotel dulu karena barang bawaan yang seabrek ini harus dibongkar muat, kasian mobilnya kalau langsung dibawa untuk berwisata ria. Aduhhhh... Selama di Bangka kami akan menginap di Bangka City hotel. Untung meski baru jam 10-an kami sudah boleh check-in dan masukin barang ke kamar, meskipun kamarnya belum siap alias belum dirapikan. Kami memesan 2 kamar yang punya pintu connecting.

Bangka City Hotel adalah hotel yang relatif agak murah (rate per malam = Rp. 400 ribu-an), fasilitasnya cukup lumayan, pelayanannya ramah (kecuali petugas ruang makan yang hampir sebagian berasa agak jutek dan tak ada senyum sama sekali dan tidak helpfull. Mungkin mereka lelah). Tamu di hotel ini sangat ramai sekali, karena hotel ini sering dijadikan tempat event-event oleh instansi tertentu. Saat kami disini tercatat ada kegiatan Kepolisian Bangka, sekolah keperawatan, atlit sepak bola, seminar guru. Tamu yang selalu ramai ini pulahlah yang menyebabkan para pelayan meja makan agak kurang ramah (lelah kali?). Atau jika kita breakfast agak kesiangan menu yang tersisa seadanya. Entahlah... Terlepas dari itu untuk seorang traveller hotel ini cukup recomended kok. Bukankah kita hanya memanfaatkannya cuma untuk mandi dan tidur.

Bangka City Hotel

RUMAH MAKAN PAK MEMET 
Selesai check-in dan drop barang bawaan kami langsung menuju destinasi wisata, namun berhubung sudah tengah hari dan perut sudah kriuk-kriuk kami harus mencari kedai makanan untuk santap siang. Muter sana sini dan jauhhh... beberbekal info dari temannya Welly berusaha mencari kedai makan yang direkomendasikan temannya itu. Entahlah masuk hutan kecil, semak-semak akhirnya hampir 1 jam setengah kami sampai juga ditempat yang dicari-cari. Tak seperti bayangan kami tempat makan ini bukanlah sebuah kedai atau resto melainkan sebuah rumah penduduk biasa. Tanpa kursi-kursi makan yang berjejer. Didepan rumah hanya terpasang spanduk bertuliskan rumah makan Pak Memet (meski namanya berbau Sunda tetapi orang Bangka asli loh..).

Kami masuk ke rumah yang disambut ramah oleh seorang ibu berusia masih cukup muda sekitar 30-an. Kami bilang mau makan siang, agak rada ciut juga sih saat beliau lauknya sudah habis. Ditanya ini habis, ditanya itu habis. Ikannyapun masih sisa dikit kata beliau. Tuinggg...aku langsung lemes sudah jauh muter muter dalam keadaan sangat lapar apakah akan gagal?? Akhirnya kami bilang "jadi yang ada apa saja???. Apa yang ada saja deh yang penting kami mau makan siang..." ujar kami.

Si ibu mengajak kami masuk kedalam rumahnya yang sangaaatt besar namun sederhana, kami langsung menuju bagian belakang rumah dimana terdapat sebuah lemari pendingin tempat menyimpan ikan (meskipun dalam lemari pendingin ikan yang ada masih segar). Yuyunlah yang memilih ikan mana yang kami mau dan yang paling penting aku minta ikannya diolah menjadi Gangan. Yang tersisa hanyalah kepala ikan Mayong yang sudah dibelah 2, 1 potong ikan Tenggiri dalam ukuran kecil,1 buah ikan Kakap merah ukuran kecil dan ikan Pari yang siripnya tipis dan lebar. Atas request kami ikan Mayong dan ikan Pari diolah menjadi Lempah kuning, lantas ikan tenggiri dan kakap merah dibakar.

Untuk sayur yang tersisa hanyalah daun singkong. Yahhh...segitu aja adanya... apaboleh buat. Kami kembali ke teras yang terdapat banglai beralaskan tikar buat lesehan. Disitu terdapat meja kecil, setoples kerupuk kanji khas bangka, kerupuknya berukuran kecil-kecil dan beberapa air dalam cup. Sudah jadi tradisi di Bangka dan Belitung makanan baru diolah saat pembeli datang, jadi kami harus menunggu cukup lama sekitar lebih dari 30 - 45 menitan. Si ibu hanya seorang diri mengolah masakannya, sedangkan yang bantu-bantu menghantarkan piring, kobokan cuci tangan, minuman  adalah 2 orang anaknya yang masih sangat kecil yang pertama kelas 2 SD (perempuan) dan kedua TK (cowok). Untuk mengganjal rasa lapar kami mengudap kerupuk dalam toples. Rasa lapar membuat aku menghabiskan cukup banyak kerupuk 5 biji... haaaaa berapa kalori tuh! Ah...bodoh amat...!

Akhirnya setelah menunggu lama makananpun tersaji. Aku menjatuhkah pilihan pada ikan Mayong, karena teksturnya yang lunak dan tidak bersisik sehingga mirip ikan Tapa. Meski kedai makan ini sangat sederhana namun cita rasa masakannya mantab maknyus. Sambal terasi dan kecapnya pedasssss luar biasa. Untuk menawar rasa amis dan pedas minumnya adalah air jeruk kunci panas. Aduhhhh...bibir sambil duwer gitu kepedesan... Tapi dari seluruh kuliner yang aku kunjungi selama di Belitung dan Bangka cita rasa masakan rumah makan Memet ini is "The Best", terutama gulai "Lempah Kuningnya".

Saat bayar aku surprise banget karena harga yang harus dibayar hanyalah harga ikan saja, minuman, kerupuk, dan sayur gratis. Untuk hidangan sebanyak dan senikmat ini aku hanya merogoh kocek sebesar Rp.300 ribu. Murahhhhhh banget! Rekomended deh rumah makan ini, tapi sayangnya kalau disuruh cari sendiri lokasinya sangsi buat ketemu lagi. Lokasinya terpencil dan berliku-liku....!

Menyelesaikan santap siang kami mulai bergerak lagi, yang paling penting adalah mencari masjid buat sholat karena dari tadi adzan Dzuhur sudah berkumandang. Kami mampir di sebuah masjid kampung yang fasilitasnya sangat mengenaskan. Mulai dari kamar kecil, tempat wudhu, bahkan tempat sholatnya. Kumuh, kurang terawat dan sudah tak begitu baik lagi. Sedihhh...

Wednesday, 4 September 2019

KEDAI KOPI KONG DJIE

Puas mengudap Mie Atep meski badan kerasa berat karena masih kekenyangan kami tetap berniat mampir di destinasi kuliner yang terhits di belitung yaitu kedai kopi Kong Djie. Dikenal sebagai salah satu kota 1001 kedai kopi. Kabupaten Belitung Timur punya kedai kopi Kong Djie yang berdiri sejak 1943, terkenal dengan racikan kopi susunya yang klasik.
 
Di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung Timur tidak ada cafe modern hingga pusat perbelanjaan seperti mall maupun minimarket. Masyarakat lokal lebih senang berkumpul, dan menghabiskan waktu di kedai kopi tradisional yang menyajikan racikan kopi lokal. 
 
Nama Kong Djie berasal dari pendirinya Ho Kong Djie, seorang keturunan China dari Pulau Bangka yang mendirikan kedai kopi tahun 1943. Sebelumnya ia sempat buka kedai kopi di Buluh Tumbang, Tanjungpandan. Kini sudah ratusan cabang yang dibuka berdasarkan waralaba. Mereka memakai blending kopi yang diracik khusus oleh generasi keempat yang jadi penerusnya..
 
Salah satunya cabang kedai kopi Kong Djie yang ada di wilayah Sijuk, Tanjunpandan. Lokasinya lebih luas dari kedai kopi Kong Djie yang pertama. Cabang ini buka selama 24 jam, menyediakan beragam jenis racikan kopi hingga kudapan hangat untuk teman ngopi. 
 
Singgah ini kedai kopi ini hari sudah menjelang malam adzan maghrib hampir berkumandang, sehingga pengunjung tidak terlalu ramai. Saat memarkir kendaraan di bagian depan kedai sudah terpampang nyata alat peracik kopi yang berupa teko-teko besar terbuat dari almunium. Artistik banget. Kami memilih duduk di bagian teras. Sebenarnya banyak spot foto yang cukup instagramable di kedai ini. Lukisan mural di berbagi sisi dinding cafe, seperti lukisan 3D, namun kami sudah sangat lelah dan mager. 
 
Niat kesinipun jangan sampai gak tahu apa sih kopi Kong Djie itu. Dalam keaadaan perut kenyang kami tidak memesan terlalu banyak menu. 2 cangkir kopi O pesanan Yuyun dan Idham (karena mereka berdua memang pecinta kopi), lantas aku dan Kotada hanya memesan 1 cangkir kopi susu, ibu Angga tak pesan apa-apa. Untuk pelengkap aku pesan 1 porsi singkong keju. Rasa kopi susunya sangaaaaattt manisss dan singkong kejunya renyah enak. Untuk semua pesanan total yang harus dibayar Rp. 38.900,- Tarif yang wajar. 
 
Tadinya pulang dari kedai kopi Kong Djie aku masih ingin cari martabak khas Belitung, namun berhubung sudah maghrib dan perut terasa penuh kenyang banget kuurungkan niatku. Lebih baik pulang ke hotel karena harus packing bukankah besok kami harus transit ke Bangka. 
 
Tampak muka kedai ini

Teko-teko antik

Lelah...
 
ULASAN 
Wisata Belitung sangat indah, menyenangkan dan murah (ini kalau aku bandingkan dengan wisata Bandung). Tidak ada restribusi apapun yang harus dibayar disetiap destinasi wisatanya, bahkan parkir, toilet pun tak berbayar. Tinggal aku aja yang mikir pakai apa ya mereka membiayai fasilitas wisata itu??? 
 
Kota Belitung kota kecil yang nyaman, bersiiiihhh, rapihhh, lengang (tak ada kemacetan lalu lintas), penduduknya sangat disiplin dalam segala hal (mungkinkah ini hasil didikan gubernurnya dulu???).  Berhubung masih banyak destinasi yang tak terjamah maybe next we will visit again. Terima kasih Belitung dengan keramahan, kenyamanan dan keindahanmu.