Monday, 19 December 2016

WEST EUROPE TRIP DAY 5th, AMSTERDAM BELANDA


Day 5th, Selasa 22 November 2016
AMSTERDAM - CANAL CRUISE

Bangun pagi ini badan masih terasa penat, semalam tidak bisa tidur nyenyak yang disebabkan suhu kamar dingin sekali. Sudah pakai selimut hotel yang tebal dan berlapis-lapis bahkan heater sudah dinaikin temperaturnya, tapi tetap aja cool bingits. Ternyata di pagi hari baru ketahuan yang menyebabkan kami kedinginan adalah jendela kamar itu terbuka. Yahhhh...gak diperiksa juga sih oleh kami. Masuk kamar semalam sudah sangat larut lagipula jendela tertutup gordyn. Okelah kalau begitu nanti malam tidak akan terulang lagi ya....

Di Belanda kami akan menginap selama 2 malam jadi malam ini tidak terlalu ribet untuk mengemas koper. Selesai dandan kami menuju resto hotel, di sana sudah banyak peserta tour dari bis 1 yang sudah sarapan padahal kami merasa ge er sebagai peserta tercepat. Memang anggota bis 1 sangat disiplin disamping itu kebanyakan orang-orang tua yang sudah sangat sering travelling ke negara asing, mereka juga kaum eksekutif. Tidak seperti bis 2 anggotanya kebanyakan anak muda yang baru kali ini atau tidak terlalu sering travelling dan juga tidak jelas kondisinya, ya itu sering telat-telat alias molor dan orang-orangnya liar.

Hotel ini berbintang 4 atau mungkin 5, aku hanya menduga saja. Melihat fasilitas kamar, penyambutan resepsionis, resto hotel, menu makanannya sangat jauh berbeda dengan hotel IBIS selama di Paris kemaren. Suka melihat resepsionis dan petugas hotelnya sangat ramah, mirip standar pelayanan hotel di Indonesia. Bahkan setiap peserta dihantar masuk ke lift sekalian tombol no lantai kami dipencetin sama customer service. Kerennn ..... berasa nyaman memasuki kota Amsterdam yang sangat ramah setelah selama 4 hari kemaren kami merasa sangat tidak nyaman datang ke negara yang penduduknya acuh bahkan kasar. Seperti biasa kami harus hati-hati memilih makanan karena olahan “FORK” itu ada dimana-mana. Kami hanya mengambil roti gandum kasar diolesi selai, jus buah, buah segar itu saja.

Jam 9 lewat bis kami mulai melaju (molor lagi dari schedule yang ditentukan jam 8) menuju lokasi pertama yaitu Zaanse Schans.Perjalanan yang ditempuh tidak terlalu lama, sekitar jam 10 akhirnya kami sampai juga ke Zannse Schans. Zaanse Schans berjarak 19 km dari Amsterdam, jika mengendarai mobil sendiri itu akan memakan waktu sekitar 20 - 30 menit. Oh ya kabar gembiranya lagi selama di Belanda kami akan dipandu oleh local guide, jadi dijamin tidak akan nyasar dan biasanya sepanjang perjalanan kita akan diberitahukan informasi detail suatu tempat, ini sangat penting bagiku yang rajin menulis detail perjalanan travelingku di blog. Tante Wilma seorang Indonesia yang telah menetap lebih dari 40 tahun di Belanda karena menikah dengan laki-laki Belanda. Sudah sangat sepuh tapi masih energik sekali gayanya. Orangnya keibuan sekali, dan aku suka.

ZAANSE SCHANS
Zaanse Schans adalah sebuah kawasan yang berada di tepi sungai Zaan di Zaandam, dekat desa Zaandijk, provinsi North Holland, Belanda. Pemandangan di kiri dan kanan jalan dalam perjalanan menuju lokasi sungguh “breath-taking”. Entahlah aku merasa sangat nyaman dan relaks melihat hijau tanaman, warna-warni bunga yang bermekaran di rumah-rumah penduduk, air sungai atau mungkin kanal sangaaattt biru, terlebih lagi langitnya biru jernih yang asli biru meskipun tak nampak matahari. Maasyaa Allah...indahnya alam MU ya Allah.

Zaanse Schans adalah salah satu spot turis yang wajib dikunjungi jika di Belanda, sebuah desa yang terletak di Zaandam, North Holland memiliki pemandangan ala pedesaan nan Indah. Daya tarik utama tempat ini adalah kincir angin tradisional Belanda. Kincir angin pada awal keberadaannya di Belanda sekitar abad 13 berfungsi untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder) mengingat letak geografis Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Dengan perkembangan teknologi, sekitar abad 17 kincir angin digunakan juga sebagai sarana pembantu di bidang pertanian dan industri seperti memproduksi kertas, mengasah kayu, mengeluarkan minyak dari biji, sampai menggiling jagung. Jumlah kincir angin beberapa abad lalu sekitar 10.000 dan sekarang kurang lebih tinggal 1000 kincir angin.

Sebagian kincir angin yang ada sekarang masih berfungsi serta menjadi objek wisata yang sangat menarik. Setiap orang yang pernah berkunjung ke Belanda sudah bisa dipastikan akan mencari kincir angin. Kebanyakan kincir angin yang tersebar di seluruh wilayah Belanda sekarang hanya berdiri sendiri (satu bangunan) di suatu lokasi daerah. Sedangkan yang merupakan kumpulan kincir angin ada di dua tempat dan sudah menjadi objek wisata yang terpopuler di Belanda, yaitu kawasan wisata yang dilestarikan atau dilindungi, Zaanse Schans di Provinsi Belanda Utara (Province North Holland) dan Kinderdijk di Provinsi Belanda Selatan (Province South Holland).

Wisata Zaanse Schans tidak dipungut biaya. Begitu bis terpakir kami bergegas keluar, hembusan angin dan udara dingin terasa menusuk. Memasuki kawasan Zaanse Schans langsung akan terlihat bangunan rumah kayu tradisional Belanda yang sudah berumur ratusan tahun (Zaanse Huisjes). Arsitektur unik khas Belanda yang sebagian besar dinding rumah kayunya berwarna hijau dan dahulunya merupakan ciri khas rumah warga di wilayah Zaandstad. Meskipun hari sudah menunjukan pukul 10 lewat cuaca masih terlihat seperti subuh bergulir. Pemandangan indah yang menyapa kami membuat aku terpaku takjub sejenak. Kembali di dalam hati dan bibirku bertasbih. Aku masih menatap dan memandang kagum sekeliling deretan rumah-rumah berasitektur khas dengan kincir angin yang berjejer di pinggir sungai/kanal yang airnya biru jernih. Bahkan rumputnya hijau bagusss sekali dan ketika aku mendongak langitpun merupakan lukisan alam yang membuat sempurna komposisi pemandangan disini. BIRU jernih. Aku bertasbih lagi, bahkan mataku sedikit berembun kagum pada kekuasaan akan ciptaan Allah yang sangat indah. Allahu Akbar!

Sementara aku terpaku dan tertegun rombongan (terutama anggota bis 2) terlihat sibuk tak beraturan untuk berebut mengambil foto. Teriakan tour leader untuk foto group hanya jadi angin lalu. Tapi kami bertiga selalu setia kalau disuruh ikut foto group. Kami sengaja menjauh dari peserta yang lintang pukang berfoto ria. Biarlah kami bertiga berfoto dulu di area yang memang bukan best view. Akhirnya setelah mereka puas dan mulai melangkah ke lokasi lain kami siap action untuk take foto. Alhamdulillah sih setelah puas foto kami kembali terusik oleh rombongan tour dari China yang jauh lebih liar lagi. Hmmmm.....

Zaanse Schans yang indah...pagi jam 10 masih seperti subuh ya
Sepiii...mereka sudah jauh...giliran kami dulu yang action ya. Cahaya matahari mulai berpendar menyingsing

Ini centre dari perkampungan ini
Alam itu indah....lukisan Allah
Mupeng banget punya desa beginian
Birunya itu loh aku suka...
Biruuuuuu....
Wisatawan from Korea ramah sekali... Anyeong haseo...
Kincir anginnya jejer rapih
Our group dan pak Bunyamin from Makasar
Kincir angin yang berjejer rapi di sepanjang danau
Wajah beku kami brrr...dinginnya rek. Tuh mukaku masih muka bantal banget ya...efek kurang tidur
Smile....cool
Jejeran ruma dengan arsitektur khas Belanda
Kayak pedesaan ya

Rombongan sudah jauh meninggalkan kami bertiga yang memang sengaja menghindari mendekati mereka dengan tujuan agar bisa menikmati pemandangan yang indah juga agar sempurna ambil fotonya. Dan akhirnya kami berkumpul lagi dengan rombongan di tempat yang memang posisi terakhir dan best point dari Zaanse Schans, hmmmmm sulitnya ambil foto. Gak ngerti antri dan gantian nih group. Puas menikmati alam dan foto-foto kita harus kembali ke bis.

Kembali ada insiden tunggu menunggu, karena rombongan Palu sudah hampir 30 menit belum juga kembali sedangkan anggota group yang lain sudah sangat kesal karena ternyata mereka lagi mereka lagi yang bikin schedule harus molor. Aku heran ya....lokasinya tidak begitu luas dan waktu yang diberikan cukup lama, aku aja sudah puas mau foto dengan pose seperti apapun, kok bisa masih telat aja? Ngapain aja tuh orang? Kok gak inget dosa membuat orang se bis jengkel terus. Pak Ade turun dan mencari mereka, akhirnya dengan wajah tanpa dosa mereka muncul juga. Terlihat wajah pak Ade habis marah, bahkan di bis pun masih diulanginya lagi kata-kata peringatan untuk menepati waktu dan saling toleransi dengan perasaan anggota group yang lain. Tapi mereka cuek aja ...dasar ya kok gak ikut private group aja sih. Toh mereka sudah cukup banyak 8 orang, jadi mereka bisa puas dan gak buat kesel orang lain. Astaghfirullah.... ampun!

Baiklah mari meneruskan perjalanan ke destinasi selanjutnya (daripada harus ngegerendeng sama biang kerok). Tujuan selanjutnya kami akan ke tempat produk traditional Belanda lainnya yang menarik untuk dilihat yaitu pabrik pembuatan keju sekaligus toko penjualan keju (De Catherine Hoeve) dan pabrik pembuatan sepatu kayu bakiak /Klompen (the Wooden Shoe Workshop the Zaanse Schans) yang tidak dipungut biaya masuk. Klompen yang dibuat bentuknya unik dan lucu, ada yang diukir, klompen sepatu roda dan klompen ketawa. Kami sempat menyaksikan demo pembuatan keju dan juga klompen. Tidak terlalu sulit membuat klompen karena semunya dikerjakan dengan mesin yang prinsip keja mesin didesain sangat sederhana sekali.

Suasana perjalanan ke Volendam

Pabrik Klompen
Pabrik Keju dan Klompen

Masuk ke toko yang menyediakan oleh-oleh dan penganan khas Belanda aku mulai tergoda buat belanja. Harganya relatif terjangkau dan produknya memang bagus dan enak. Meskipun tergoda aku tetap tidak menjadi kalap, karena selalu memikirkan beratnya koper serta dana yang tersedia juga yang paling selalu aku ingat tak mau membuang devisa di negara orang untuk barang-barang yang bisa aku beli di negaraku tercinta. Aku hanya membeli keju, kue, waffle kering, piring-piring keramik kecil. Total belanjaku 296 euro. Untuk klompen aku tidak membeli walau sebenarnya aku suka sekali. Aku mengkhayal pasti sangat artistik kalau aku beli beberapa dan dipasang didinding depan pintu masuk rumahku. Harganyapun terjangkau tapi beraaaaaatttt...secara materialnya kayu... Lupakanlah!


VOLENDAM
Setelah puas memborong oleh-oleh perjalanan dilanjutkan lagi menuju Volendam. Perjalanan menuju Volendam menyajikan pemandangan kiri kanan jalan yang sangat indah. Komplek perumahan dengan rumah-rumah berdesain khusus dan cantik sekali dimana setiap rumah memiliki halaman yang dipenuhi taman dengan bunga warna warni yang cantik sekali. Tante Wilma bercerita bahwa taman tersebut diurus sendiri oleh pemilik rumah. Wanita-wanita Belanda sangat rajin mengurus rumah, menyediakan makanan, mencuci dan setrika juga mengurus taman bahkan tetek bengek lainnya. Ini karena biaya pembantu rumah tangga di Belanda sangat mahal dan pajaknya juga menjadi tanggungannya.

Tante Wilma juga bercerita bahwa rumah-rumah di komplek perumahan itu sangatlah mahal, sayangnya saya lupa mengingat berapa harga pastinya, tapi saat itu saya langsung mengkonversinya milyaran rupiah. Hmmmm.... Desain rumah hampir semua sama, tetapi setiap rumah memiliki bentuk/desain pintu masuk yang berbeda. Hal ini mempunyai tujuan yang prinsip. Orang Belanda memiliki kebiasaan minum alkohol. Pulang kantor mereka berkumpul dan berpesta ria dengan meminum minuman beralkolhol sampai mabuk berat. Sehingga pada saat mereka sedang mabuk berat kala harus pulang ke rumah mereka tidak akan salah masuk ke dalam rumah yang desainnya hampir sama. Agar tidak salah kamar. Belanda memiliki julukan “City of Sins”. Hal itu diberikan karena kebiasaan penduduknya mabuk, sex bebas bahkan kaum LGBT bertebaran disana. Hmmm...memang cara orang Eropah yang bukan muslim menyikapi kehidupan sangat jauh berbeda dengan kita sebagai muslim. Disaat mereka mengalami masalah atau kegelisahan mereka selalu lari ke minuman beralkohol. Tidak seperti ajaran agama Islam dalam kegelisahan kita akan mengadukan permasalahan kepada Allah melalui sholat dan do’a.

Volendam adalah sebuah desa yang terletak di propinsi Belanda Utara (Noord Holland). Tepatnya pada sebuah tanjung (daratan yang menjorok ke laut) di Kotamadya Edam-Volendam. Sebagai salah satu spot turis, Volendam sangat ramai apalagi pada hari libur. Tidak hanya wisatawan asing yang mengunjungi desa indah ini, tetapi juga warga Belanda sendiri.

Jaraknya sangat dekat dari kota Amsterdam, yaitu hanya sekitar 20 km. Dapat ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dari ibukota negeri kincir angin tersebut. Awalnya, tempat wisata yang cantik ini hanyalah sebuah pelabuhan bagi kapal-kapal ikan milik nelayan Belanda. Kini, keindahannya menjadi daya tarik luar biasa bagi para pelancong yang datang ke Netherlands.

Setibanya kami di lokasi kami masih harus berjalan dan menaiki tangga menuju kampung yang berada di permukaan lautnya. Matahari sangat terang meskipun cuacanya tetap dingin menusuk tulang. Begitu selesai menapaki anak tangga yang tidak begitu tinggi kami disajikan dengan pemandangan alam yang luar biasa. Maashaa Allah... Subhanallah...Allahu Akbar desisiku lirih. Perkampungan tepi laut yang sangat cantik, indah dan bersih. Rumah-rumah dengan arsitektur khas Belanda berjejer rapih... dimana setiap depan rumah dipenuhi tanaman bunga warna warni. Belum lagi air lautnya yang jernih membiru. Ya Allah...perkampungan nelayannya aja seperti ini indah, rapih dan bersihnya. Kenapa Indonesia tidak ada pejabat atau pemimpin daerah punya gagasan membuatnya seperti ini??? Waduh,,,hatiku berkecamuk macam-macam.

Konon kabarnya seniman terkenal seperti Pablo Picasso yang berasal dari Spanyol itu dan Piere-Auguste Renoir yang berasal dari Perancis banyak menghabiskan waktu mereka di Volendam? Barangkali keindahan Volendam membuat mereka terpikat.

Kami bertiga berjalan pelan dan selalu menghindari bergerombol dengan rombongan karena ingin nyaman dalam segala hal, meski tetap sulit karena lokasi tidak terlalu luas. Indah ... indah...! Lebih kedalam tidak lagi terlihat perumahan yang ada adalah deretan toko yang menjual aneka barang, mulai dari souvenir, bunga-bunga segar dan berbagai bibit bunga khas Belanda seperti bunga tulip, baju dan pakaian, hingga makanan seperti keju, roti, aneka kue, dan jajanan kecil lainnya.

Arsitektur khas rumah Belanda. Penampakan saya sebelum beli coat baru hehee

Jejeran rumah yang khas Volendam
Volendam ohhh langitmu biru jernih airnyapun begitu
Damainya tinggal disini ya...
Kotada duduk manjah...
Volendam ....kompisisi tatanan alamnya benar-benar sempurna
Perumahan nelayan di Volendam
Kami tersenyum bahagia...menikmati alam ciptaan Allah
Ganti coat sudah tidak kedinginan lagi

Di Belanda harga souvenir relatif lebih murah dibanding dengan Paris dan Brussels. Maka itu aku cukup banyak membeli souvenir untuk oleh-oleh keluarga dan beberapa teman dekat saja (biarpun lebih murah tetap saja mahal dan harus mempertimbangkan persediaan uang saku). Aku, Atik dan Kota sibuk memilih dan mencari souvenir masing-masing. Aku membeli bermacam aneka piring keramik yang desainnya cantik-cantik, bross, gantungan kulkas juga sebuah winter coat yang amat kuperlukan karena coat yang aku bawa hampir tidak benar-benar melindungi aku dari hawa dingin. Coat berbulu-bulu warna maroon yang sedang sale seharga 69 euro. Lumayanlah....aku langsung melepas jaket yang aku pakai dan menggantinya dengan yang baru kubeli. Nyaman dan tidak kedinginan lagi. Tapi dari hasil foto tampilanku jadi tidak cantik karena coat ini memberi efek berisi alias gemuk. Ahaaa....inget ucapan Acep gak penting gaya yang penting selamat alias nyaman.

Diantara souvenir yang dibeli piring kermik kerancang
Nah ini yang kedua meski belinya lumayan banyak tapi ditebar

Selanjutnya kami mampir ke salah satu studio foto untuk mengabadikan perjalanan wisata kami ke Volendam dengan menggunakan kostum tradisional nelayan Belanda yang berwarna merah cerah dipadu celana atau rok hitam dan klompen (sepatu kayu). Costumer servicenya sangat ramah dan tangkas memakaikan dan mendandani kami. Para fotografer akan menata semua untuk berfoto dalam setting seperti sebuah keluarga nelayan Volendam jaman dulu yang juga gemar bermusik sambil memegang alat-alat seperti akordion, ember, keranjang bunga, dan sebagainya. Mereka (para fotografer) itu akan menata dan mendandani anda dengan sangat cepat. Sebelum foto diambil kami semua selalu disuruh untuk meneriakan kata “cheese” dan tersenyum. Wah.... seru! Harga foto group tergantung dari jumlah orangnya. Seperti kami bertiga harus bayar 27 euro.

Bajunya kereen ya...
Penampakan foto kami pakai baju traditional Volendam

Nah...ternyata ada cerita nih dari uni Yulimar, dia dan Indah tadinya salah masuk toko. Tadinya sebelum kami diperintahkan masuk ke foto studio itu mereka sudah masuk ke sana. Eh ...iseng nanya-nanya harga. Ternyata harga yang kami bayar itu lebih mahal dari harga sebenarnya. Seperti uni Yulimar dan Indah foto berdua harga aslinya adalah 15 euro dan saat kami dibawa oleh tour guide harus bayar 17 euro. Kami bertiga bayar 27 euro padahal menurut uni seharusnya 25 euro. Kesimpulannya rata-rata 2 euro lebih mahal dari harga aslinya, bisa jadi itu tips buat tour guide kami. Hmmmm... mata pencaharian ya.

Taman di parkiran di musim gugur menguning

Puas foto dan menikmati pemandangan di Volendam kami kembali ke bis, acara selanjutnya adalah mencari masjid untuk sholat Dzuhur dan Ashar lalu makan siang. Muter-muter di dalam kota aku sempat mengamati situasi jalan raya di kiri kanan jalan. Sangat ramai dan tidak teratur. Yang paling menarik bagiku adalah kendaraan utama di sini adalah sepeda. Semua orang dari kalangan apapun bersepeda, bahkan ada jalur khusus di jalan raya untuk sepeda. Tante Wilma memberitahukan untuk berhati-hati menyebrang atau berjalan karena orang yang bersepeda itu raja jalanan. Mereka gak bisa berhenti atau mengalah terhadap pejalan kaki, pokoknya mereka tidak boleh stop. Waduh....!

Memasuki kota Amsterdam hari mulai menjelang sore bahkan langit sudah gelap seperti menjelang Maghrib. Jalan-jalan di sepanjang jalan raya terlihat kotor oleh tumpukan daun-daun gugur yang menguning memerah sangat berbeda dengan kota Brussels yang rapih dan bersih. Karena ada aturan mengenai bis harus parkir di lokasi tertentu maka kami diturunkan dipinggiran jalan saja. Kami harus berjalan kaki menuju mushollah. Jauh dan berliku, keluar masuk pertokoan, lorong dan lumayan jauh sehingga hampir 30 menit kami baru masuk ke mushollah yang dicari. Mushollah yang dimaksud adalah semacam Islamic centre yaitu tempat kaum muslim bertemu untuk pengajian atau rapat membahas sesuatu yaah...semacam itulah. Mushollah terletak di lantai 2 sebuah gedung yang tidak terlalu besar itu. Lantai 1 adalah mini market yang menjual makanan khas Turki, minuman kaleng dan buah-buahan. Kami harus antri cukup lama disini karena tidak ada tempat wudhu khusus. Yang ada hanyalah toilet wanita 2 pintu dan memiliki 1 wastafel. Jadi di wastafel yang cuma sebiji itulah kami mengambil wudhu. Miris sangat....!Tapi tetap bersyukur masih ada tempat untuk menunaikan sholat.

Selesai sholat dan makan siang kami kembali berjalan kaki langsung menuju dermaga perahu motor untuk melanjutkan itinerary selanjutnya yaitu “Canal Cruise”. Rute berjalan kaki adalah sama seperti saat mencari mushollah tadi. Jadi kebayangkan jauh dan lamanya. Asyikk...jantung sehat.

Kota Amsterdam, Belanda memang tidak seberapa luas. Tidak butuh waktu lama untuk menjelajahi setiap sudutnya. Namun dibandingkan jalan kaki atau naik trem, wisatawan juga bisa mencoba canal cruise yang menyenangkan. Tur keliling Amsterdam naik perahu dengan melintasi kanal-kanal yang ada di kota tersebut memang cukup praktis dan menyenangkan bagi turis. Itulah hakikatnya canal cruise ini adalah sebagai alat transportasi. Selama tour group kami memilih transportasi menggunakan bis maka canal cruise hanya untuk kesenangan saja agar bisa merasakan sensasinya.

Hampir setiap sudut Kota Amsterdam bisa dilewati oleh rute canal cruise. Berbagai bangunan monumental yang ada di kota ini sebagian besar bisa dilihat dari kanal atau saluran air terdekat.Salah satu bangunan monumental yang dilintasi rute canal cruise adalah rumah peninggalan Anne Frank, seorang perempuan Yahudi korban Holocaust yang membuat catatan harian dan kemudian dibukukan. Hingga kini, buku harian Anne Frank termasuk salah satu buku yang paling banyak dibaca di seluruh dunia.

Bangunan lain yang dilintasi rute canal cruise adalah gereja tertua di Belanda, yakni Oude Kerk. Gedung-gedung museum yang jumlahnya ada ratusan dan tersebar di seluruh Kota Amsterdam, sebagian besar juga bisa dilihat saat melintasi kanal di sekitarnya.

Begitupun museum yang ada di perairan, antara lain museum kapal kargo tua yang letaknya tak jauh dari central station di pusat kota. Masih di sekitar lokasi tersebut, bisa dilihat juga kapal dagang peninggalan VOC. Kapal itu kini juga berfungsi sebagai museum dan setiap hari banyak dikunjungi turis.

Museum kapal VOC yang berada di daerah hilir juga berdekatan dengan berbagai lokasi menarik, antara lain NEMO Science Center yang juga merupakan sebuah museum. Bentuknya yang khas dengan warna hijau dan tulisan NEMO berwarna kuning sangat mudah dikenali dari jauh.

Tak kalah menariknya adalah rumah-rumah terapung yang banyak ditemukan di sepanjang kanal. Di Belanda, tidak semua orang suka tinggal di apartemen maupun rumah-rumah biasa. Sebagian lebih suka tinggal di rumah terapung, lengkap dengan teras yang nyaman untuk bersantai. Sama seperti hunian lain, rumah terapung juga dikenai pajak. Bahkan menurut cerita tante Wilma orang yang memiliki rumah terapung pastinya kalangan berduit karena harga rumah terapung tersebut sangatlah mahal.

Jembatan-jembatan tua dengan pepohonan dan dedaunan warna-warni khas musim gugur juga menjadi pemanandangan lain yang mengesankan dalam tur ini. Berbagai aktivitas keseharian warga Amsterdam bisa diamati di atas jembatan, mulai dari parkiran sepeda yang begitu padat dan kadang berantakan, hingga pasangan muda-mudi yang sedang pacaran. Ketika kami melakukan canal cruise ini hari menjelang malam sehingga sunset yang terlihat dari pantulan air canal terlihat sangat indah

Harga yang dipatok untuk menjelajah Amsterdam dengan canal cruise memang tidak murah terlebih untuk trip di malam hari, tetapi cukup sebanding dengan pengalaman yang didapatkan. Pemandangan di jalanan Kota Amsterdam memang menarik, tetapi banyak hal berbeda yang bisa dilihat dari atas perahu. Untuk menjaga kondisi sungai/canal pemerintah Amsterdam melakukan pengerukan setiap 1 tahun sekali. limbah yang paling sering ditemui adalah sepeda bekas. Ini menjadi kebiasaan warga Amsterdam apabila sepeda mereka sudah usang daripada ribet membuang sampahnya mereka melemparkan bangkai sepeda kedalam canal pada malam hari. Waduhhhh....

Untuk berkeliling selama kurang lebih 1 jam 15 menit, harga yang ditawarkan tidaklah murah katanya. Berkisar antara 15 – 20 euro, karena kami ikut group tour yang maka biaya untuk canal cruise ini sudah include di biaya tour. Jadwal keberangkatan perahu relatif cukup longgar, hampir setiap 30 menit ada perahu yang siap berangkat. Tak heran bila perahu yang berkapasitas lebih dari 40 orang itu kadang hanya terisi 10-15 orang. Kapten perahu juga tidak perlu menunggu penumpang, tur tetap akan dimulai sesuai jadwal. Tetapi untuk kami yang berjumlah 75 orang itu perahu langsung penuh bahkan kita sebagai penumpangnya hampir tidak bisa bergerak sama sekali (sudah seperti naik bis kota) Aku kebagian tempat duduk di sisi bagian dalam sehingga aku tidak bisa mengabadikan keindahan panorama di pinggiran kanal. Hanya dapat beberapa foto yang seadanya.

Dengan segala kenyamanannya, canal cruise benar-benar memanjakan para pengunjung kota Amsterdam. Tidak salah bila ada yang mengatakan, belum sah jadi turis di Amsterdam bila belum menjajal pengalaman menjelajah kota ini dengan perahu.

Suasana sunset saat Cnal Cruise
Pemandangan disepanjang sungai
Penumpang perahu padat merapat
Sunset
Smile.....and we are freezing actually


Pemandangan sunset di pinggir kanal, gedung-gedung menjulang

Warna merah emas matahari senja di pinggir kanal

Senja menjelang malam di pinggir kanal


Selesai canal cruise masih ada satu intinerary lagi yang harus kami jalani yaitu tempat produksi batu permata. Tadinya aku ingin ikut karena aku suka dengan perhiasan, namun niat ini kuurungkan mengingat jarak tempat ke lokasi sangat jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Hmmmm.... capek deh! Sebagian besar peserta memilih untuk tidak ikut dan hanya menunggu di bis, alasannya jauh dan permata adalah barang sangat mahal kecil kemungkinannya untuk membeli.

Akhirnya kami menutup perjalanan hari ini dengan kembali ke hotel. Malam ini sebelum merebahkan diri aku masih harus packing dulu supaya besok tidak keteteran karena kami harus pindah kota lagi. Selesai packing aku merebahkan diri ...selamat malam sampai jumpa besok.

Thursday, 8 December 2016

WEST EUROPE TRIP DAY 4th, BRUSSELS BELGIA

Day 4th, Senin 21 November 2016
BRUSSELS BELGIUM

Kemaren kita tidak sarapan di resto hotel,  karena kami makan  nasi yang ditawari mbak Iin dengan lauk sambal teri dan ikan kecil-kecil digoreng). Selain itu sebenarnya kami phobia banget dengan “pork” yang bertebaran di meja restaurant dalam segala macam produk olahannya. . Berhubung Kotada kemaren tidak dikasih sarapan oleh Iin entah karena apa,padahal makanan di resto hotel sudah habis, maka pagi ini kami mencoba sarapan di resto hotel ( Kaget juga sih  ketika aku tahu Kotada tidak jadi dikasih Iin sarapan. Tadinya Iin yang bbm menawarkan sarapan buat kami bertiga,   Berhubung rice cookernya  kecil dan nasi yang ada baru cukup untuk aku dan Atik, sedangkan jatah untuk Kotada sedang dimasak dan belum matang, Kotada disuruh balik lagi aja ke kamar.  Janjinya kalau nasi matang akan di bbm. Aku baru tahu bahwa Kotada belum sarapan justru sudah di bis. Yah sudahlah. Rupanya lumayan juga ikut sarapan di resto hotel, minimal bisa ambil roti, minum juice dan ambil buah. 

Jam 9 lewat (molor hampir setengah jam dari yang ditentukan) bis kita melaju meninggalkan hotel Ibis. Perjalanan hari ini sebenarnya menuju Amsterdam Belanda, tetapi kita akan singgah di Brussels Belgia untuk makan siang dan sholat Dzuhur plus Ashar. Pengalaman unik sehari melintasi 3 negara (Paris – Brussels – Asterdam).

Brussels selain merupakan ibukota Belgia juga ibukota Uni Eropa. Kota ini merupakan sebuah municipalité atau gemeente. Brusel memiliki populasi 142.853 jiwa. Belgia (secara resmi disebut Kerajaan Belgia) adalah sebuah negara yang terletak di bagian barat benua Eropa. Negara ini merupakan negara anggota pendiri uni Eropa dan menjadi ibukota Uni Eropa, serta organisasi internasional lainnya termasuk NATO. Belgia meliputi wilayah seluas 30.528 km² dan memiliki populasi penduduk sekitar 10,5 juta jiwa.

Memasuki kota Brussels aku sangat terpesona, kota ini sangat indah karena dikelilingi oleh gedung-gedung tua yang sangat terawat dan sangat artistik. Bahkan pohon-pohon yang berjajar dengan dauan-daunnya menguning memerah dan sebagian sudah gugur tersusun rapih di sepanjang jalan (jalanannya tetap bersih tanpa ada serakan daun-daun gugur berbeda dengan Amsterdam yang penuh dengan serpihan daun gugur). Kota Brussels sangat senyap dan sepi sekali laksana kota mati dan tak berpenghuni (seperti di film-film). Aku merasa adem. Di sepanjang perjalanan dalam kota di atas bis kami yang berputar-putar mencari Islamic centre tempat kami akan melaksanakan sholat dzuhur plus Ashar setelahnya makan siang kami hampir tidak menjumpai manusia yang beseliweran di jalan, hanya kendaraan yang lalu lalang. Itupun tidak terlalu padat, sehingga lalu lintas sangatlah lancar.

Bis kami berhenti depan gedung dengan gerbang yang sangat besar dan megah dengan patung kudanya. Kami tidak diberikan informasi apapun tentang monumen atau gedung ini, tapi melalui hasil foto yang sempat dijepret oleh Kota aku baca “Dit Monument 15 In 1905 Opgericht Ter Verheerlijking Van Belgie’s Onafhankelijkheip”. Nah loh apa artinya tuh gak tahu...  Turun bis kami dipandu oleh pak Ade menuju Islamic Centre dengan jalan kaki, ternyata jauhhhh sekali sekitar 3 atau 4 km lah. Subhanallah...untung cuacanya adem dan melewati taman yang cantik, tapi yah tetep saya ngos-ngosan juga.

Banyak peserta yang ogah menuju Islamic centre dan tidak mau turun bis atau malah banyak yang cuma main-main di taman yang luas di depan, samping kiri kanan gedung karena view nya memang sangat indah. Di taman ini aku baru melihat beberapa orang yang berjalan, jogging dan bersepeda, atau hanya duduk di bangku taman. Kebanyakan mereka pasangan romantis kakek nenek, ada juga pasangan suami isteri yang mendorong kereta bayi. Tidak terlalu banyak. Paling total sekitar 10 - 20  orang di taman yang sangat luas seperti itu.

Setibanya di Islamic centre kami disambut dengan sangat ramah oleh pengurus tempat itu. Mereka terdiri dari beberapa orang Indonesia dan ketua pengurusnya seorang warga negara Arab. Ramah ... sebagaimana seorang muslim berjumpa dengan saudara seiman. Ihhhh...nyesel yah...coba kalau tahu mau ketemu saudara seiman aku toh bisa membawakan oleh-oleh atau buah tangan. Pasti mereka rindu tentang yang khas dari asal negaranya Indonesia. Kulihat para tour guide juga tidak memberikan bingkisan apapun. Hmmm....

Kami disambut dan ditempatkan di sebuah hall yang sepertinya  merupakan ruang kelas tempat belajar siswa. Kesimpulanku ini kuambil karena aku melihat tulisan di white board adalah materi pelajaran tentang fikih. Tak berapa lama duduk Alex (suami uni Rita yang punya catering) membagikan nasi jatah makan siang. Baru saja menyantap makan siang suara adzan Ashar berkumandang. Pengurus tempat itu berdiri dan menjelaskan lokasi tempat wudhu yang ada di lantai 2, sedangkan tempat sholat untuk wanita ada di lantai 3, dan laki-laki ada di lantai 1 tak jauh dari ruang tempat kami makan.

Aku dan Atik tidak bergegas menghabiskan makanan karena kami memang sedang tidak sholat alias sedang mendapat siklus bulanan. Cuma Kotada yang segera menyelesaikan makannya. Menghabiskan jatah makan siang, kami segera antri ke kamar mandi, dan like usual antrinya panjannngggg pake bangets. Hiks... tapi gak apalah. Di sini ada air untuk istinja apalagi pas lagi bulanan gini.

Ketika Kotada muncul di muka pintu gedung kami langsung bergegas meninggalkan gedung tersebut tujuannya hanya satu mengabadikan pemandangan taman yang memerah menguning yang sedari tadi sungguh menggoda hati. Indahhhh.... sekali. Apalagi dicuaca adem dan mendung sepertinya romantis sekali. Hmmmm... kalap ya kami foto ditempat ini. Saking exitednya aku, Atik dan Kotada sampe rebahan di atas tumpukan daun basah. Basah sih... tapi rela demi dapat hasil foto yang bagus. Dan bener aja setelah aku transfer foto dari camera ke laptop foto ditempat ini jumlahnya paling banyak padahal lokasi pemotretannya ya cuma disitu situ aja. Mupeng banget ya... Puas foto kami kembali ke bis.

Taman dengan hamparan daun-daun gugur yang menawan ini sedari awal masuk menuju Islamic Centre sudah sangat menggoda aku untuk take a picture. Nah ayo mulailah sekarang...action! Suasana sepi laksana kota mati tak berpenghuni

Kayak prewed...hahaaa...ponakan dan tante kok!

Takjub...
Pokoknya foto sampai puas
Gegulingan juga ayo....
Terkepor ....
Meskipun cuma tumpukan daun gugur indahnya itu kebangetan bagi kami
Ini capture yang paling aku sukaaa. Dikejauhan terlihat orang Brussels menikmati sejuknya udara sambil berjalan kaki
Kotada mau aja disuruh pose telentang gitu...
Ayooo mau pose gimana lagi ya...
Evi....action pulalah !!!!!!!!!


Duduk duduk manjah...
Duo sisters in action
Tuh monumen apa ya?
Kotada pandai bergaya pulalah...
Menuju meeting point
Sudah hampir dekat meeting point ketemu view ini ayo aja foto lagi
Daun Applemap yang berguguran itu seperti daun singkong
Daun kuning....

Di atas bis heboh banget.... rupanya mereka-mereka yang tadi tidak mau menuju alias jalan kaki ke Islamic centre itu gak dapet jatah makan. Karena memang nasinya sudah habis (uni Rita menyiapkan nasi pas untuk kami peserta tour saja padahal tadi pengurus Islamic Centre makan bersama kita, bahkan termasuk sopir menghabiskan jatah 2 kotak...hmmmmm kejadian deh) dan andai masih ada juga orang lain mana mau peduli apalagi rela ngebawain ke bis. Secara berat dan jauh ya... Gak nyalahin mereka juga sih karena mereka mengira makanan akan dibawa ke bis karena memang biasanya kita makan di bis. Huft....tapi Atik bilang apa ya dalam bahasa Arabnya tuh? Pokoknya bila diartikan apa yang kamu dapat adalah sesuai dengan apa yang kamu kerjakan, aku setuju dengan ucapan Atik karena apa? Bukan menggunjing sih tapi mereka-mereka itu tidak pernah terlihat melaksanakan sholat selama tour ini dan yang membuat sedihku sih karena termasuk 2 orang rombongan Palembang yaitu Marwa dan Edo.

Diatas bis rame banget deh ....itu ibu Euis dibentak dan diomelin. Hmmmm benerlah apa yang diucapkan Atik. Memang para penyelenggara ini sejak awal sudah gak bener....komersil banget tanpa memikirkan kepuasan peserta.

Tujuan selanjutnya adalah kita akan ke Grand Place/ Grote Markt dan Manneken Pis. Hari sudah menjelang maghrib ketika bis menurunkan kami di jalan dengan alasan gak boleh parkir lama. Kami diajak bu Euis dan pak Ade jalan muter-muter tak tentu arah di tengah hujan rintik dan dingin menusuk sampai ke tulang. Akhirnya berhenti dan numplek plek di perempatan lampu merah. Padahal trotoar dekat lampu merah itu adalah tempat ramai untuk orang berlalu lalang. Rupanya ibu Euis dan pak Ade tidak tahu pasti arah menuju dua lokasi di atas. Kami diantepin aja tanpa pesan atau berita apapun. Ibu Euis serta pak Ade pergi mengantar peserta yang tadi gak kebagian makan siang mencari cafe (padahal mereka ini tidak jadi makan karena tidak ketemu cafe halal, ini aku ketahui pada saat di Grand Place. Disebuah toko souvenir Euis dimaki-maki oleh ibu gendut peserta dari Kalimantan yang tidak kebagian jatah makan).  Ya Allah... kami seperti anak ayam kehilangan induk mejeng-mejeng di pinggir jalan.

Yah.... banyak cara yang dilakukan untuk mengisi waktu, aku duluan yang memulainya berfoto ria di zebra cross lampu merah itu. Kemudian diikuti mereka yang sok gaya dan sok muda itu, bahkan akhirnya kami sudah gak bisa lagi ambil posisi enak buat foto. Dasar ya plagiat bisanya ngikutin aja sudah itu merampok hak orang lain. Ampun deh rombongan tour kali ini sangat-sangat norak. Yah...akhirnya kami berteduh dari rintik hujan di pinggiran cafe takut-takut aku mencoba duduk di kursi cafe yang berjejer di muka dan pelataran toko. Itupun setelah dibujukin pak Masykur buat duduk dan dijamin gak dimarah sang empunya.


Perempatan lampu merah
Mengisi waktu di lampu merah
Cukup lama juga kami terbengong-bengong di pinggir jalan itu, 30 menit lebih kali dalam cuaca hujan. Sampai akhirnya kami dijemput pak Irwan (tour guide dari bis 1 yang sebagai Leader tour keseluruhan). Kembali kami jalan berendeng-rendeng kayak karnaval 17 Agustusan. Sampai akhrinya tibalah di Grand Place/ Grote Markt, ternyata sebenarnya kami tadi sudah dibawa nyasar jauhhh sekali oleh bu Euis dan pak Ade. Lokasi Grand Place/ Grote Markt tidak jauh dari empat bis menurunkan kami. Ampunnn dah...!

The Grand Place atau juga disebut Grote Markt dalam bahasa Belanda ini merupakan alun-alun kota Brussels. Alun-alun ini dulunya diperuntukkan sebagai pasar besar dikelilingi empat gedung dengan karya arsitektur yang sangat indah. Detail pahatan patung dan kronologi dioramanya menunjukkan tingginya cita rasa seni. Gaya arsitekturnya kombinasi antara gothic, baroque, dan Louis XIV. Bangunan-bangunan utama yang megelilingi Grand Place ini adalah Balai Kota atau Town Hall atau City Hall atau Stadhuis (dalam bahasa Belanda) atau Hotel de Ville (dalam bahasa Perancis), dan Wisma Raja atau King House atau Breadhouse atau Maison du Roi (dalam bahasa Prancis) atau Broodhuis (dalam bahasa Belanda), dan gedung perniagaan (Guli House atau Guildhalls) yaitu Le Pigeon dan La Maison des Boulangers....

Grand Place merupakan kawasan kota tua di centrum Brussels yang mulai didirikan pada abad ke-11. Keanggunan gedung-gedung tua yang terawat baik itu berdiri seolah-olah menantang di tengah desakan perkembangan Brussel yang menjadi ibukota Uni Eropa. Alun-alun ini merupakan tujuan wisata paling penting dan juga merupakan tempat paling dikenal di Brussels, bersamaan dengan Atomium dan Manneken Pis. Grand Place berukuran lebar 68 meter dan panjang 110 meter. Selain itu, Grand Place ini telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia (UNESCO World Heritage Site).

Tapi sayangnya kami tidak bisa mengabadikan keindahan gedung-gedung disana. Hujan deras dan hari sudah malam pekat. Itupun kami berlari-lari kecil sembari mencari tempat berteduh di emperan toko-toko souvenir yang berderet disepanjang jalan.

Grand Mark ditengah hujandikejauhan orang-orang menggunakan payung dan saya tidak. Hmmm...anti badai...
Sempat selfie di pinggiran toko
Tetep gak dapet tuh gedung artistik yang menjulang di center of Grand Place

Manneken Pis (dikenal dalam bahasa Prancis sebagai le Petit Julien). Merupakan patung air mancur kecil perunggu yang menggambarkan seorang anak kecil telanjang kencing ke dalam baskom air mancur. Patuh ini dirancang oleh Hieronymus Duquesnoy pada tahun tahun 1618 – 1.619. Menurut cerita legenda Manneken Pis ini cukup banyak versi, seperti bermula dari seorang anak kecil hilang dari ibunya saat berbelanja di pusat kota. Wanita itu, panik karena kehilangan anaknya, dipanggil semua orang, termasuk walikota. Sebuah pencarian seluruh kota yang akhirnya anak itu ditemukan, dia sedang kencing di sudut sebuah jalan kecil. Namun ada juga cerita lain yaitu tentang anak muda yang dibangunkan oleh api dan mampu memadamkan api dengan air kencing nya, membantu menghentikan kebakaran di benteng raja.

Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Brussels sudah pasti akan singgah kesini, karena tempat ini begitu terkenal. Padahal menurut aku lokasi patung Manneken Pis nya tidak terlalu besar, jadi bila didatangi oleh banyak turis menjadi serasa sempit, dan berdesakan karena ingin mengambil foto bersama patung tersebut. Aku dan Atik yang bengong...ohhhh ini toh yang disebut Manneken Pis, gak ada apa-apanya kok. Cuma patung anak kecil dan ukurannya juga kecil, bagi kami tidak menarik sama sekali.

Posisi patung Manneken Pis terletak di sudut tikungan yang letaknya menyempil. Perlu diketahui juga patung asli Manneken Pis disimpan disuatu tempat yang aman, yang terpasang di tempat adalah tiruannya.

Manneken Pis
Aneka varian waffle. Enaknya kebangetan dahhhhh....mantabsss



Manneken Pis sebenarnya hanya berupa patung perunggu biasa. Ukurannya pun sangat mungil, hanya setinggi 61 cm (24 inch). Patung yang dalam Bahasa Perancis disebut Le Petit Julien ini berada di sudut jalan Rue de l'Étuve (Stoofstraat) dan Rue du Chêne (Eikstraat), Brussel. Lokasi ini tak jauh dari Grand Place (Grote Markt), alun-alun utama di Brussel yang selalu ramai dipadati turis. Manneken Pis yg berada di sudut jalan tersebut, hanyalah tiruan/replika yg dibuat oleh Jerome Duquesnoy pada tahun 1619. Manneken Pis yang asli dibuat pada tahun 1388 dan sekarang disimpan di Museum of the City of Brussels, yang berada di Maison du Roi, Grand Place.

Awalnya, Manneken Pis tidak memakai baju. Namun, untuk lebih menarik perhatian turis, pemerintah kota Brussel mendandani dan memberi baju serta aksesori untuk patung ini. Kostum yang dikenakan Manneken Pis berganti beberapa kali tiap bulan. Penggantian kostum ini disesuaikan dengan peristiwa/kejadian yang terjadi di Brussel ataupun di dunia internasional. Misalnya : pada hari Valentine, Manneken Pis akan mengenakan baju mirip Cupid, pada hari Pramuka Internasional, Manneken Pis akan mengenakan baju mirip Robert Baden-Powell (Bapak Pandu Dunia), dan pada hari Natal Manneken Pis akan mengenakan baju Sinterklas.

Selanjutnya kami dibawa pak Irwan ke sebuah toko cokelat yang sudah menjadi rekanan mereka, dimana nanti pasti mereka akan dapat fee 20% dari total pembelian. Senang melihat gaya/atraksi customer servicenya mempromosikan produk mereka. Dengan berapi-api wanita cantik itu memberikan informasi varian produk, discount dan sebagainya. Kami berkeliling melihat-lihat tetapi tidak tertarik sama sekali untuk membeli. Pertama karena barangnya dikemas dalam kotak yang sizenya besar. Kami mikir mau ditarok dimana lagi, berat sudah pasti (saat berangkat saja pindah dari terminal 3 ke terminal 2 kita sudah termehek-mehek mengangkat koper, bukankah saat pulang nanti akan seperti itu lagi. Huft...). Kedua kami masih ragu dengan kehalalan produknya. Ketiga dulu pernah Arik adik kandungku dinas ke Jerman dan membawa oleh oleh cokelat yang lumer karena suhu udaranya kan berbeda jauh. Meskipun ditawari akan dikemas dalam kantong plastik yang bisa mempertahankan wujud cokelat namun kami gak yakin bisa mempetahankan wujud cokelat itu. Keempat mahal...ini alasan yang paling masuk akal.

Di saat yang lain antusias membeli kami keluar toko. Mampir ke kedai sebelah yang menjual sebuah kuliner khas kota Brussel ini sangat nikmat yaitu waffle, ada yang ditaburi gula halus, coklat, es krim dan berbagai varian rasa sesuai selera kita dengan harga yang beragam sesuai rasanya. Kami memilih waffle yang bertabur strawbery saus cokelat susu dan taburan serbuk gula putih. . Untuk varian yang kami pilih harganya 11,5 euro, ukurannya cukup besar kami bertiga saja berat untuk menghabiskannya. Rasanya legit, manis dan enak... .

Sembari menuju ke meeting point kami sempat masuk beberapa toko souvenir tapi tidak membeli satupun karena harganya jauh lebih mahal dibanding ketika di Paris dengan kualitas yang tidak sebagus yang sudah kami beli. Di sepanjang pertokoan souvenir ini para pelayan toko berteriak-teriak "Swadikap" mempersilahkan kami masuk. Swadikap ucapan selamat datang dalm bahasa Thailand....aha rupanya mereka menebak kami orang Thailand. Lumayanlah dijalan pulang punya kesempatan mengambil foto bangunan tinggi mirip gereja yang terletak di tengah alun-alun. Persiapan Natal sudah sangat terlihat karena gedung-gedung bahkan area tengah itu sedang dihias menggunakan ornamen Natal, antara lain pohon natal, bola-bola lampu berkelap-kelip dsb.

Seperti kemarin-kemarin kita harus molor lagi di dalam bis karena rombongan Palu dan kelompok Edo-Marwa (kelompok biang kerok nih) telat lagi bahkan jejaknya tak terbaca. Aku cuma bisa istighfar di dalam hati, ya Allah... masih sempatnya belanja lagi padahal kemaren di Paris kan sudah cukup banyak tempat dan waktu yang diberikan buat belanja. Banyak banget duit tuh orang...!

Grand Mark....mobil putih yang nampak itu bukanlah ambulance melainkan mobil pernak-pernik untuk menyajikan ornamen Natal.
Pertokoan di Grand Place desain interior tokonya cantik-cantik sekali.
Pertokoan Grand Place
Berteduh dari hujan deras

Penumpang sudah sebagian besar emosi dan ngomel, masalahnya hari sudah lewat isya’ dan perjalanan ke Amnsterdam itu masih lumayan jauh.... yah apa boleh buat.... tour ngaco begini. Kebanyakan peserta sih jadi susah ngaturnya. Lagipula tour guide nya “enyek-enyek” alias gak tegas. Apalagi terhadap group Palu (biangkerok) itu si “Euis” sangat sayang karena mereka royal uang ke dia. Hampir tengah malam kita baru check in di hotel MERCURE AMSTERDAM SLOTEDIJK STATION. Suka melihat reseptionist dan petugas hotelnya sangat ramah mirip standar pelayanan hotel di Indonesia.Karena sangat lelah kami langsung mandi dan tidur tanpa menyantap makan malam yang dibagikan. Selamat malam sampai besok....