Friday, 2 December 2016

WEST EUROPE TRIP, DAY 3RD SEINE RIVER CRUISES EIFFEL, LAFAYETTE

Day 3 rd, 20 November 2016

Seine River Cruises
Usai sarapan, jam 9 pagi kami bergegas berlarian menuju bis yang diparkir di pelataran parkir yang berjarak cukup jauh dari hotel, diiringi hujan rintik dan udara dingin menyergap yang sangat menusuk tulang, meskipun aku sudah memakai jaket tebal, (suhu udara saat itu sekitar 2 - 4 derajat celcius). Lucunya meski hujan kita masih sempat berfoto ria di depan hotel. Hmmmm.......

Hujan bukan halangan mengambil moment ...

Mejeng di depan hotel with mbak iin dan pak Bunyamin
Wisata hari ini dimulai dengan Seine river cruises, yaitu melintasi sungai Seine menggunakan kapal pesiar, wisata ini merupakan optional tour sehingga setiap peserta harus memberikan tambahan biaya sebesar 35 euro per orang (lucu ya ini destinasi wajib untuk Paris kenapa tidak masuk itinerary dan harus dijadikan optional. Bahkan ada 2 tempat wisata lagi yang disebut sebagai optional sehingga setiap peserta masing-masing harus membayar 100 euro lagi. Kami berenam dari Palembang yang bersikukuh hanya ingin ikut 2 destinasi optional tour saja dan kami membayar 70 euro saja. Hal ini pula yang menjadi pemicu ibu Euis selaku tour guide tidak menyukai bahkan sampai menganak tirikan alias men”cuek”in kami. Heheee...siapa takuttt ;D)

Hujan masih rintik yang lebat (rintik tapi lebat itu gimana ya hahaaa... pokoknya rintik tapi kita jadi basahnya cepet gitu loh.. :D) ketika kami sampai di pelabuhan kapal pesiar. Begitu turun beberapa peserta tour yang masih muda berteriak histeris karena dari pelabuhan ini menara Eiffel terlihat cukup jelas di kejauhan. Mereka yang masih remaja itu dan group tour dari China dengan peserta cukup banyak sangat exited dan sibuk mengambil foto, sehingga bagi kami sulit mengambil moment foto yang pas. Kami segera naik kapal dan mengambil tempat di geladak supaya dapat melihat pemandangan dengan jelas.

Nih cuma Kotada yang fotonya bagus di terminal pelabuhan kapal pesiarnya.

Baru naik ke geladak dan penumpang lain belum naik, menara Eiffel di kejauhan

Sungai Seine adalah sungai yang membelah Kota Paris, yang membentang sepanjang 776 km. Seine yang merupakan sungai terpanjang kedua di Prancis setelah sungai Loire. Pada awalnya sungai Seine hanya memenuhi fungsi tradisionalnya, yaitu sebagai sarana transportasi air dan kanal pembuangan. Kemudian oleh pemerintah Prancis ditata dan diperdayakan secara multiguna dan mengimplementasikan potensi kekayaan alam ini untuk kemakmuran warganya. Seandainya saja sungai Musi di Palembang bisa bertransformasi hingga menjadi sejajar dengan Sungai Seine pasti lebih keren deh!

Perjalanan melintasi sungai Seine menyajikan pemandangan yang cukup indah dengan menikmati gedung-gedung dan bangunan bersejarah dengan arsitektur antik yang berjejer di sepanjang pinggiran sungai. Setelah melewati Eiffel, bangunan bersejarah yang menghampar di depan adalah Jembatan Alexander III, yang merupakan simbol persahabatan Rusia dan Perancis serta media penghubung antar zaman. Jembatan itu amat eksotik lantaran bangunan-nya dipenuhi relief indah warna emas yang makin mempesona saat terkena sinar matahari (sayangnya moment pengambilan bentangan jembatan yang cantik ini tidak menghasilkan foto yang bagus, disamping karena penumpang kapal yang sangat padat dan sibuk sendiri, juga disebabkan kecepatan kapal yang cukup tinggi, sehingga belum sempat cameraku “cekrek” si jembatan sudah tertinggal jauh). Di dua ujung jembatan terpancang dua patung terbuat dari emas.

Setelah jembatan Alexander, jembatan yang dilalui selanjutnya adalah Concorde. Jembatan itu dibangun ketika Revolusi Perancis berkobar sehingga mencerminkan semangat demokrasi dan egaliter yang didengungkan saat itu. Sebelum bernama ont de la Concorde, jembatan itu dinamai Jembatan Revolusi. Orang yang melintasi jembatan itu tak banyak yang tahu bahwa batu-batu asli jembatan diambil dari penjara Bastille yang dihancurkan massa.

Di kanan Concorde berdiri bangunan national assembly atau parlemen nasional. Salah satu bangunan kuno dan menjadi kebanggan warga paris. Selanjutnya secara berturut-turut Musee du Louvre dan gereja tua Notre Dame.

Pemandangan di sepanjang tepian sungai. Roda putarterlihat di kejauhan. Roda putar itu akan  terlihat dengan jelas saat kami menikmati pusat kota Paris dari atas bis kemaren

Gereja Cathedral termasuk bangunan kuno (abaikan foto saya karena sebenarnya fokusnya ke gereja bukan ke saya ya..)

Jembatan ini kalau diambilnya pas ditengah bagus banget tapi apa boleh buat gak bisa sempurna....:((

Si Bontot yang gayanya iseng aja hmmm...
Aku merasa kurang sempurna untuk menikmati semua keindahan pemandangan itu, disebabkan oleh penumpang kapal yang terlalu exited untuk berfoto-foto tanpa menghiraukan ada hak penumpang lain yang ingin menikati panorama alam di sepanjang sungai. Apesnya pula dalam kapal pesiar tersebut group kami tergabung dengan group tour China yang pesertanya sangaattt banyak. Wisatawan China memang dimanapun berada sangat terkenal hampir tidak punya toleransi terhadap sesama. Seluruh hasil foto yang diambil hasilnya kurang memuaskan. Disamping alasan yang telah kusebutkan diatas cuaca dingin sekitar 2 derajat celcius dan hujan rintik terasa sangat membatasi gerak kami.

Di atas kapal bersama pak Bambang dan isteri saat kapal baru berjalan penumpang belum naik ke geladak

Bangunan-bangunan disepanjang tepian sungai

Nyempil diantara penumpang supaya dapet foto

Langit mendung di atas Seine river

Salah satu foto jembatan yang dapet di foto, tapi bukan jembatan yang keren..((

Sibuk tepuguh ...(((

Sebagian kecil peserta

Semua sok seriusss...hehee

Saat Eiffel terlihat makin dekat ini semua penumpang berdiri dan berebut untuk foto

Eiffel di lihat dari Kapal Pesiar, anak bujang keren actionnya

Duo Sister, yang kedinginan (itu pak Masykur nyempil )
Selama sekitar kurang lebih 1 jam akhirnya kami kembali ke pangkalan pelabuhan dan mengakhiri Seine river cruises ini.


Eiffel Tower
Destinasi selanjutnya adalah Eiffel tower yang merupakan tempat paling dinanti dan merupakan destinasi utama di Paris, bahkan tadi saja sebagian peserta sudah histeris ketika melihat Eiifel tower dari kejauhan.

Eiffel adalah salah satu bangunan paling terkenal di Paris, Prancis. Bahkan sejak dibangun pertama kali pada tahun 1889, menara ini telah dikunjungi setidaknya 200 juta orang dari berbagai belahan dunia. Pada tahun 2006 saja ada lebih dari 6 juta orang rela datang jauh-jauh untuk melihat struktur beton yang memiliki tinggi 325 meter ini.

Eiffel memiliki sejarah yang sangat panjang dalam pembangunannya hingga selesai. Berbagai masalah pernah terjadi di menara yang saat ini digunakan sebagai pemancar radio dan juga pengamatan. Meski demikian, Menara Eiffel justru bertransformasi menjadi ikon romantis dunia. Tak sedikit film, cerita fiksi, dan pagelaran penuh cinta diadakan di sini.

Ide dan Rencana Pembuatan Menara Eiffel
Kita semua mengenal Gustav Eiffel sebagai orang di balik megahnya menara hebat ini. Bahkan nama dari menara pun mencatut nama dari perancangnya ini. Awalnya Gustav justru ingin membangun menara di Barcelona. Sayangnya rencana yang ia tawarkan dianggap sangat aneh dan bangunannya tak sesuai. Selain itu, menara juga dianggap mengeluarkan biaya yang terlalu mahal. Akhirnya ia urung membuat menara jenis apa pun di sekitar Eropa.

Ide pembuatan Menara Eiffel akhirnya muncul dari dua anak buah Gustav bernama Maurice Koechlin dan Emile Nouguier. Ia sama sekali tidak tertarik pada awalnya. Namun begitu melihat rencana itu berjalan dengan lancar, Gustav mulai mengambil alih. Ia pun membeli hak paten dari menara ini hingga sekarang dikenal sebagai Menara Eiffel yang sangat megah dan dikenal banyak orang.

Misi Pembangunan Menara Eiffel
Menara ini awalnya dibangun untuk pameran dunia. Pihak pengembang ingin menjadikan menara ini sebagai tanda seratus tahun Revolusi Prancis. Menara ini adalah simbol kekuatan dari Prancis yang sangat luar biasa. Di tengah keterpurukan Eropa di abad ke-18 mereka mampu berjuang dan membuat sebuah revolusi yang sangat besar. Bahkan berpengaruh ke banyak negara di dunia.

Gustav Eiffel mengatakan jika menara ini juga merupakan simbol ilmu pengetahuan modern. Simbol perkembangan ilmu pengetahuan dunia dari masa ke masa. Menara ini adalah tanda di mana sains hidup bersama manusia. Itulah mengapa di bangunan ini terdapat sekitar 72 nama dari para ilmuwan dan insinyur yang sangat terkenal di Prancis.

Pembangunan Struktur dan Bentuk Menara Eiffel
Pembangunan struktur dari Menara Eiffel dimulai pada tahun awal 1889 dan baru dibuka untuk umum pada 6 Mei 1889. Dalam pembangunannya menara, sekitar 300 pekerja dilibatkan untuk mengatur struktur dengan total berat mencapai 10.000 ton. Para pekerja harus berjuang dengan kuat untuk mengatur 18.038 potongan besi tempa dan sekitar 2,5 juta paku keling. Setelah berkutat selama berbulan-bulan, bangunan ini selesai dengan ketinggian dari tanah mencapai 300 meter. Lalu ditambah dengan antena menjadi 324 meter.

Bentuk Menara Eiffel awalnya mendapatkan banyak kritikan. Terlebih strukturnya disusun dengan bentuk yang tidak memiliki nilai seni. Bahkan mirip struktur jembatan yang berada di sungai. Gustav Eiffel mengatakan jika bentuk ini dibuat sesuai dengan perhitungan matematika. Tiupan angin di udara pun diperhitungkan agar menara tidak akan roboh meski dibuat sangat tinggi menjulang.

Pembukaan Menara Eiffel dan Efeknya Bagi Penduduk
Menara Eiffel dibuka pertama kali pada Mei 1889. Saat itu menara sudah dilengkapi dengan lift yang akan membawa pengunjung dari bawah menuju puncak. Hal ini mengundang banyak sekali wisatawan dari berbagai wilayah Prancis. Bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari negara sekitar hanya untuk melihat Kota Paris dari ketinggian yang fantastis. Di zaman itu berada di ketinggian 300 meter adalah hal yang luar biasa.

Meski menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi sebagian orang, tidak sedikit protes terhadap pembangunan menara. Banyak warga sekitar merasa tidak senang dengan menara ini. Pertama karena takut jika sewaktu-waktu bangunan ini ambruk mereka bisa menjadi korban. Lalu yang kedua karena merusak pemandangan. Struktur megah ini menghalangi banyak hal di udara.

Hal senada juga diungkapkan oleh para seniman lukis di kota ini. Mereka menganggap jika menara ini hanya membuat objek yang mereka gambar jadi hilang. Namun seiring berkembangnya waktu justru Menara Eiffellah yang menjadi objek gambar mereka. Terlebih lagi banyak wisatawan yang datang akan meningkatkan penjualan lukisan mereka.

Fungsi Menara Eiffel di Era Modern
Meski awalnya hanya digunakan untuk peringatan satu abad Revolusi Prancis, menara ini sekarang telah menjelma menjadi salah satu menara paling dikagumi di dunia. Bahkan Eiffel adalah Prancis itu sendiri. Saat ini Menara Eiffel dikenal sebagai objek wisata paling banyak dikunjungi di dunia. Dalam setahun lebih dari 3 juta orang datang ke sini untuk menikmati menara buatan Gustav Eiffel.

Saat ini Menara Eiffel digunakan untuk menara pemancar radio. Banyak sekali stasiun berita lokal menggunakan menara ini untuk bisa menjangkau semua pendengarnya seantero Paris. Selain itu, Menara Eiffel juga digunakan untuk pengamatan, baik cuaca maupun penerbangan yang ada di Prancis. Saat ada even tertentu seperti Natal, tahun baru, atau olimpiade, menara ini akan dihiasi dengan banyak sekali lampu. Saat malam hari menara ini akan bersinar dengan indah.

Menara Eiffel begitu dicintai oleh masyarakat Prancis. Mereka menganggap menara ini adalah menara keberuntungan. Jika tidak ada Menara Eiffel mungkin tak banyak wisatawan akan datang ke negeri ini.

Ketika kami di drop di pelataran parkir, menara Eiffel terlihat dengan sangat jelas, saat melihat secara langsung menara ini sungguh di luar expektasi, area sekitar menara sangat-sangat tidak menarik sama sekali. Jauhhhh lebih bagus Monas bahkan Monpera di Palembang. Pelataran dan tamannya sama sekali tidak tertata dengan baik, terlebih ditengah hujan terlihat becek. Kami hanya diberikan estimasi waktu selama 1 1/2 jam untuk mengabadikan dan menikmati lokasi ini. Aku nanar menatap sekitar tampaknya tak ada lokasi yang pas untuk dapat mendapatkan view yang menarik dan mengabadikan menara Eiffel dari posisi kita dilepas (hehee...anak ayam kali). Kotada menyarankan untuk mengambil posisi di seberang jalan dekat Patung kuda ini berarti harus memutar cukup jauh ke arah 180 derajat.

Kami menunggu dulu untuk mengikuti moment foto group dan selanjutnya kami meminta izin pada tour guide, bahwa kami ingin menyebrangi jalan dan melintas ke arah berlawanan 180 derajat. Diizinkan dan kami bergegas menuju kesana. Untungnya udara sangat dingin kalau tidak kita pasti berkeringat. Alhamdulillah kami dapat moment foto yang diinginkan meskipun mendung membuat gelap hasil foto. Rasanya tidak begitu banyak ekspos foto yang bisa diambil sehingga kami cepat sekali merasa puas dan bosan. Kami segera kembali ke bis. 

First sight

Eiffel di posisi pertama kita di drop

Berusaha gimana caranya supaya dapet top Eiffel dan tak juga dapat

Ini dari sisi yang berlawanan menyebrang jalan

Dapet seutuhnya meski mendung dan rintik

Tepian Seine River di sisi jalan berbeda

Taman di sepanjang jalan arah kita kembali ke meeting point

Dari taman

Saudara seiman selalu bersaudara ketika bertemu, keluarga Pakistan yang ramah
Disini terjadi insiden tegang urat leher karena kami harus menunggu selama extra waktu 1 jam lebih. Peserta yang kembali ke bis belum lengkap. 6 orang peserta dari Palu tidak kelihatan batang hidungnya. Selidik punya selidik ternyata mereka ikut antri untuk bisa naik ke puncak menara Eiffel. Waduh ...antri tiketnya saja mengular dan bisa memakan waktu 2 jam lebih. Tadinya ibu Euis masih ingin menunggu, tetapi peserta lain protes dan meminta mereka dikasih pelajaran dengan ditinggal saja, karena bukan kali ini saja mereka telat (dan selama 9 hari perjalanan , mereka ber-6 memang biang kerok yang mebuat waktu molor dan schedule berantakan). Kesepakatan bersama akhirnya mereka ditinggal.

Meninggalkan menara Eiffel kami melanjutkan perjalanan menuju Grande Mosquée de Paris untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar juga makan siang, memang sudah sangat telat karena banyak waktu terbuang untuk menunggu rombongan Palu itu. Setelah sholat dan makan siang diatas bis perjalanan hari ini dilanjutkan kembali untuk shopping ke sebuah pusat perbelanjaan sangat terkenal di Paris Galery Lafayette di Champ Eleyses


GALERY LAFAYETTE
Toko serba ada di boulevard Haussmann ini merupakan tempat kedua yang paling sering dikunjungi, setelah Menara Eiffel. Toko ini juga menjadi singgahan favorit tokoh-tokoh besar dunia. Telah mampir di tempat itu Duchess of Windsor, Nyonya Begum Aga Khan, dan pada bulan Maret tahun 1960, di tengah-tengah berlangsungnya Perang Dingin, Nyonya Khrushchev. Ketika melihat eskalator, konon Nyonya Khrushchev berseru: “Wah, seperti di stasiun kereta bawah tanah di Moskow !” Pada era yang lebih baru, toko ini telah dikunjungi Bill Clinton, dan Pangeran Charles yang datang meresmikan pameran tentang London.

Kami bertujuh (Aku, Atik, Kotada, Indah, Yulimar, Edo dan Marwa) sempat bareng mengitari pusat perbelanjaan ini sampai Lantai paling atas lt.7, tapi cuma muter-muter dan cuci mata saja. Kantong kita gak kukuh cinnn... meskipun katanya diskon sampai 70% harga sebuah tas masih sekitar 497 euro. Mehong boooo.... Ada produk yang lumayan murah untuk ukuran kantongku tas merk Long champ setelah diskon 70% seharga 297 euro, tapi rasanya aku belum butuh tas. Akhirnya puas berkeliling di lantai 7 yang merupakan tempat penjualan souvenir. Aku tertarik karena kualitas souvenirnya bagus dan cantik-cantik. Mehonggg sih ... tapi prinsipku untuk ngasih orang lain harus yang bagus. Harga sebuah gantungan kunci 5 – 10 euro 1buah. Edo ngotot kemahalan karena dia sudah membeli di lokasi menara Eiffel harga gantungan kunci hanya 1 euro dapat 5 buah. Dia ngotot sama kok...tapi mata dan alat perabaku gak bisa dibohongi...ya jelas beda kok. Puas membeli beberapa souvenir ... tidak bisa beli banyak karena budgetku sangaatttt terbatas (kalau ikut kata Indah...saling tahu ya yuk... gak kukuh kita kan satu mata pencaharian...hahaaa.). Faktanya tidak juga bisa sedikit 1 atau 2 atau 3. Saudara kandungku yang perempuan aja 5 orang belum keponakan dan beberapa teman kantor yang paling dekat saja.

Puas belanja souvenir kami turun ke lantai dasar dan menunggu di pintu masuk pertokoan berjejer rapih di tangga, padahal udara sangat dingin sekitar 2 derajat celcius. Gak kuat banget rasanya.... untuk menghilangkan rasa dingin kami berfoto-foto di sepanjang jalan pertokoan. Kebayangkan harus menunggu selama 1 jam dalam cuaca beku begitu (Kondisi dan situasi seperti ini dimana kami harus duduk-duduk ditangga depan pintu masuk/keluar pertokoan dengan badan, kaki, tangan dingin membeku, membuat aku teringat dongeng masa kecil yang bercerita tentang gadis korek api yang meninggal karena kedinginan dan kelaparan). Setelah kelihatan bis jemputan alangkah girangnya kami karena bebas dingin di bis ada heater. Dalam bis pun kami harus menunggu selama setengah jam lagi. Hmmmm....seperti itu!

Di sepanjang jalan pertokoan Galery Lafeyette

Kota sok sibuk jalan ya...

Daripada kedinginan di tangga toko mendingan selfie selfie

Malam ini kita sampai hotel belum terlalu larut, masih sekitar jam setengah sepuluh tidak seperti malam kemaren hampir jam setengah duabelas malem kita baru dapat pembagian kamar. Malam ini harus kemas-kemas koper karena besok jam 9 kami akan meninggalkan kota Paris menuju Amsterdam tetapi singgah dulu di Brussels.

Oh iya .... sebelum tidur aku mau berbagi-bagi tips aman selama di Paris, karena meskipun negara maju lingkungannya sangat tidak aman. Yang namanya copet itu trick nya luar biasa canggih. Bahkan teknik pemerasannya luar biasa kasar. Di area dekat menara Eiffel atau di berbagai sektor pariwisatanya banyak teknik pemerasan yang dilakukan. Misalnya saja mereka menjatuhkan benda apapun termasuk cincin mahal yang mereka miliki, nah orang Indonesia sebagian besar memilik nilai sosialsangat tinggi melihat cincin jatuh di depan kita pastinya secara naluri bantuin mungut dong. Nanti tepat saat kita bantu memungut si pemeras akan berteriak kita maling. Ya udah deh kita dipaksa buat bayar duit dengan ancaman agar tidak dilaporkan ke polisi.

Di area menara Eiffel ada teman satus bis kami yang berasal dari Palu kecopetan HP. Marwa teman satu bis yang juga berasal dari Palembang terperangkap aksi pemerasan. Dia disuruh membubuhkan tanda tangan di sebidang kain putih yang memang sudah banyak tanda tangannya. Eh...gak tahunya setelah bubuhkan tanda tangan dipaksa membayar uang sekitar 100 euro. Kalau tak mau akan di hajar... hmmmmm. Aku sempat mendengar Marwa curhat dengan kawan sebangku di bis, dia gak bisa minta bantuan saat itu karena mereka cuma berdua dan pisah dari yang lainnya. So...selama di Paris jaga hati (alias gak mudah terpengaruh alias mudah kasihan), jaga tas dan barang berharga lainnya, jadilah orang dengan ego yang sangat tinggi (seperti pola perilaku warga Paris) supaya tidak terperangkap kejahatan mereka. Ihhhh...sadis ya...:D

Sungguh bagiku kota Paris ini gak banget. Warga negaranya yang cuek dan kasar terhadap wisatawan seakan mereka itu tidak membutuhkan wisatawan yang nyata-nyata membawa devisa ke negaranya. Contohnya saja reseptionis hotelnya gak ada "welcome" nya ke kami, ngomel-ngomel lobbynya penuh oleh koper kami yang sedang menanti pembagian kamar. Astaghfirullah...! Beda sekali dengan hotel-hotel di Indonesia atau negara Asia dan negara muslim seperti Turki. Baik penduduk apalagi petugas hotelnya yang ramah menyapa "Selamat datang, selamat pagi, ada yang bisa dibantu? dsb".  Jeraaa....! Aku sendiri tidak mau lagi berkunjung ke negara ini untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali ini saja. Okay saya istirahat dulu ya. Good night.... see you tomorow.

Wednesday, 30 November 2016

WEST EUROPE TRIP, DAY 2nd PARIS CITY TOUR

Day 2nd, 19 November 2016

Setelah seluruh barang bawaan masuk bis dan seluruh peserta lengkap, perjalanan hari pertama wisata Paris City Tour dimulai. Tanpa diajak makan/sarapan dulu (seperti Turki tour kita dibawa ke Warung Nusantara) entahlah karena mungkin dianggap sudah siang dan jamuan snack di pesawat itu sudah dianggap sarapan, kita memulai perjalanan. Tujuan pertama adalah menuju Masjid Agung di Paris.

Grande Mosquée de Paris
Grande Mosquée de Paris (Paris Grand Mosque) terletak di 2bis Place du Puits del'Ermite. Bangunannya kental dengan gaya Muslim Spanyol. Ditambah, dekorasinya yang berwarna cerah, membuat masjid ini terlihat makin indah. Bukan tanpa alasan masjid ini disebut masjid raya. Karena tak hanya di Paris, bahkan masjid ini merupakan masjid terbesar di Eropa barat.

Grande Mosquée de Paris

Bagian tengah Masjid dengan keramik Biru mirip Eyup Cami di Turki (dokumen Turki Feb 2016)

Aroma wangi khas hajar aswad menyeruak saat pertama kali masuk ke dalam bagian dalam masjid. Jamaah pria dan wanita bisa nyaman dan khusyuk salat karena ruangannya pun dipisah dan masing-masing memiliki area yang luas. Hanya saja menurutku penataan ruangnya masih kurang pas. Tempat wudhu wanita jauh di depan di bagian underground padahal tempat sholatnya di sisi kanan luar bangunan. Sedangkan tempat wudhu pria justru di luar yaitu satu gedung dengan tempat sholat wanita (alias sebelahan), padahal tempat sholat laki-laki ada di gedung utama bagian atas yang letaknya lebih dekat dengan tempat wudhu wanita.

Masjid Agung Paris ini terbuka untuk umum karena itu boleh dikunjungi juga oleh non muslim. Berwisata ke masjid ini gratis untuk umat Muslim, sedang bagi non muslim diarahkan untuk memasukkan uang ke sebuah guci yang digunakan untuk keperluan masjid

Sejarah awal dibangunnya masjid ini adalah untuk menghormati masyarakat Arab-Prancis yang bertempur pada perang dunia I, terutama bagi mereka yang tewas dalam peperangan Verdun tahun 1916. Masjid yang terbuat dari beton dengan mozaik ajaib ini dibangun pada tahun 1920 dan diresmikan pada tanggal 15 Juli 1926 oleh Presiden Gaston Doumergue, kemudian dipimpin doa bersama sebagai tanda peresmian oleh Ahmad al-Alawi (1869-1934), seorang pendiri Aljazair.

Selama Perang Dunia II, masjid ini menjadi tempat persembunyian rahasia bagi korban aniaya. Dahulu masjid ini disediakan untuk tempat tinggal, tempat yang aman untuk anak-anak Muslim dan Yahudi. Masjid ini memiliki peran sosial penting bagi umat Islam Eropa.Namun demikian, menurut Institut Registri Dunia Arab, dari 4 juta warga muslim yang tinggal di Prancis, dan sekitar 121 masjid yang ada, banyak masjid yang tidak lebih hanya dijadikan tempat parkir dan bangunan kosong saja. Masjid inilah yang kaya akan sejarah keislaman dan sering digunakan untuk beribadah.

Ada satu yang menjadi daya tarik dari masjid ini selain menikmati arsitektur yang unik dan belajar banyak tentang sejarah Islam, yakni selama musim dingin ada pemandian Turki marmer (Mirip sekali dengan Eyup Cami di Turki). Jadwalnya bagi laki-laki pada hari selasa dan minggu, sedangkan waktu kosong selain itu untuk wanita.

Bagian samping tengah masjid keramik biru khas Turki
Dinding keramik biru Eyup Cami di Turki

Selama di Eropa ini aku sangat bahagia sekali bila bertemu masjid, alasannya adalah kita bisa istinja’ dengan sempurna alias kencingnya bisa cebok. Setelah menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar peserta diharapkan naik kembali ke bis untuk makan siang. Makan siang dibagikan diatas bis dan dimakan di bis yang sedang stand by itu. Makan siang untuk kami dibuat oleh seorang warga negara Indonesia yang telah menetap di Belanda selama 23 tahun lebih. Uni Rita yang menikah dengan Alex seorang laki-laki bekewarganegaraan Belanda.

Awalnya kami mengira bahwa makan siang seperti ini hanya akan berlaku untuk hari ini saja (menu makannya mirip sekali dengan catering haji, terdiri dari nasi, sayur tumis tanpa rasa, ditambah lauk ayam atau daging yang disuir-suir dengan rasa yang gak jelas). Kelak kami baru tahu bahwa konsumsi selama trip adalah menu makanan serupa. Belum lagi makanan kami selalu datang terlambat yaitu jam 15.20 untuk makan siang dan jam 10 malam keatas untuk makan malam. Makanan yang sudah hampir basi pada saat sampai ke tangan kita.

Benar-benar salah setting kalau begini, aku menduga kalau makanan yang akan kami santap hampir sama seperti waktu tour ke Turki bulan Februari 2016 lalu. Dimana kami selalu makan di retoran lokal setempat, makanya aku hanya membawa bekal saos sambal ABC yang banyak untuk menambah cita rasa masakan saja (pada umumnya masakan asing itu kurang punya cita rasa alias kurang bumbu alias hambar). Kalau tahu menu makanan ada nasi mungkin aku akan bawa sambal terasi ABC, sambal kering tempe teri dan rendang. Yah... apa boleh buat. Untungnya aku bawa persediaan milk shake yang banyak. Hitung-hitung diet dan menurunkan berat badan.


Arc De Triomphe
Usai sholat dan makan siang perjalanan dilanjutkan untuk mengitari pusat kota Paris yang disebut Gerbang Kemenangan atau Arc de Triomphe. Kami diturunkan di tempat ini dan diberi waktu sekitar setengah jam. Waktu yang sangat sempit kami pergunakan hanya untuk foto-foto. Sangat sulit mengambil moment foto yang baik dan sempurna, karena ribuan orang memadati Arc De Triomphe. Autumn adalah periode high season untuk wisatawan. Arc De Triomphe mirip seperti alun-alun kota.

Arc de Triomphe merupakan gapura yang berdiri di tengah kawasan Place de Concorde dan di ujung barat kawasan Champ Elysees. Arc de Triomphe atau yang berarti Gerbang Kemenangan ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte. Alasan pembangunan monumen ini untuk merayakan kemenangan tentara Perancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte dalam perang di Austria.

Monumen yang tingginya 51 meter dan lebar 45 meter ini disamping sebagai pintu gerbang kota Paris, juga sebagai tempat untuk meletakkan prasasti para pejuang yang tidak dikenal dan sering dijadikan sebagai tempat berziarah dan peletakan karangan bunga. Sebenarnya arc de triomphe adalah sebuah monumen yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk mengenang jasa-jasa tentara kebesarannya.

Selain untuk merayakan kemenangan Perancis, pembangunan monumen inipun untuk menghormati jasa tentara yang tewas di medan perang. Untuk tentara Perancis yang meninggal dalam perang, namanya diabadikan di Monumen Arc de Triomphe.

Sebagai tempat yang menawarkan wisata sejarah, Arc de Triomphe telah menjadikan ikon sejarah Perancis. Pembangunan monumen ini telah direncanakan sejak 1806. Proses penyelesaian konstruksi pondasi dasar dari Arc de Triomphe ini selesai dalam waktu 2 tahun.

Namun sayang sang pemrakarsa monumen ini, Napoleon Bonaparte, tidak dapat melihat monumen ini selesai dibangun karena panglima perang terkenal dari Perancis ini meninggal dunia. Untuk menghormati jasa Napoleon Bonaparte, jenazah Napoleon dibawa melewati Gerbang Kemenangan ini pada Desember 1840, sebelum dimakamkan di Invalides. Di bawah Arc de Triomphe ini terdapat makam prajurit tak dikenal. Hal itu untuk mengenang korban Perang Dunia I.

Setiap wisatawan yang datang berkunjung ke kota paris, pastilah tidak akan pernah lupa untuk singgah di monumen ‘charles de gaulle’ ini. Letaknya yang strategis di tengah-tengah kota dan dekat dengan pusat perbelanjaan yang sangat terkenal yang ada di Avenue des champs elysees, seperti Louis vuitton dan Lancer. sungguh pemandangan yang nyaman dan patut untuk dinikmati.



Gerbang Kemenangan (Arc De Triomphe)

Arc De Triomphe
Jalan Raya di depan Arc De Triomphe

Aku merasa sedih sekali karena untuk tempat-tempat lain seperti Place de la Concorde dan Notre Dame Cathedral tidak kami kunjungi, hanya melihat dari atas bis. Padahal tepat ini adalah destinasi wajib untuk disinggahi saat ke Paris. Semua dengan alasan waktu yang terbatas. Untuk tempat penting selalu terbatas waktu tetapi untuk shopping tak terbatas waktu. Bete banget...!

Paris city tour by bus... Seine river .lumayan dapet lihat aja

Place de la Concorde

Pusat kota Paris

Para pedagang souvenir alias kaki limanya yang dikoordinir oleh pemerintah

Arc De Triomphe

Arc De Triomphe rame sangat



Louvre Museum
Salah satu tempat wajib yang ingin saya kunjungi selama di Paris, Perancis adalah Museum Louvre (Musée du Louvre), yang merupakan tempat lukisan Monalisa asli disimpan. Di tengah halaman Museum Louvre, terdapat bangunan bentuk piramida kaca yang besar dan piramida kecil. Bangunan piramida inilah yang disebut dengan piramida Louvre.

Memang piramida kaca sebagai bangunan futuristik tersebut begitu kontras di antara bangunan abad pertengahan. Pembangunan piramida dan lobby bawah tanahnya sebenarnya untuk mengatasi jumlah pengunjung Museum Louvre yang banyak setiap harinya. Piramida yang besar berfungsi sebagai pintu utama.

Keterangan diatas adalah informasi awal yang aku browsing sebelum keberangkatan tour Eropa, dan aku sangat penasaran untuk mengunjungi tempat ini makanya aku sangat exited ketika tour guide mengatakan destinasi selanjutnya ada Louvre Museum. Saat bis berhenti dan kami disuruh turun aku masih bertanya-tanya dimana bangunan kaca berbentuk piramida terbalik yang merupakan pintu gerbang masuk museum? Kami diturunkan dan diperingatkan tentang estimasi waktu tanpa pengarahan apa-apa.

Begitu masuk gedung kami langsung menemukan deretan foto-foto sejarah perjuangan Perancis dalam ruang yang remang-remang. Semua tidak kelihatan menarik, padahal isi kepalaku masih mencari-cari bangunan kaca piramida terbalik. Akhirnya setelah sempat melihat beberapa foto dan patung kami keluar ke arah tempat yang lebih terang, kulihat tempat yang pencahayaanya lebih terang ini seperti pusat perbelanjaan. Dari browsing di internet baru aku ketahui bahwa gedung ini adalah Carrousel du Louvre shopping mall, yang terletak di bagian bawah bangunan depan.

Aku agak girang ketika melihat bangunan piramida kaca tapi tidak terbalik di pelataran shopping mall tersebut. Hatiku masih bertanya-tanya kok tidak seperti yang aku lihat di internet ya? Rupanya itu hanya penampakan sebagian dari piramida kaca yang menjorok di bagian underground, bagian besar piramida kaca yang merupakan gerbang masuk ke Louvre museum ada diatasnya (ini aku ketahui setelah pulang aku browsing di internet untuk memuaskan rasa penasaranku).

Patung-patung yang membuat aku serem n bergidik
Ruang pertama yang kami temui begitu masuk gedung

Ketemu juga dengan piramida kaca, yang ternyata bagian piramida kaca yang menjorok di underground

Carrousel du Louvre shopping mall
Carrousel du Louvre shopping mall

Mengobati rasa kecewa kami sempat mengambil foto di area ini. Belakangan dari internet aku ketahui bahwa untuk memasuki museum ini kita harus merogok kocek untuk membeli tiket seharga 250 ribu rupiah, mungkin alasan mahalnya harga tiket ini pulalah yang menyebabkan tour guide membawa kami ke Museum Louvre dengan tidak melewati gerbang utamanya. Keterlaluan sekali ya penipuan terselubung begini! Sejak awal aku merasa ada yang kurang terhadap service para tour guide (karena dalam trip ini pihak IHT = Indonesia Halal Tour tidak menggunakan local guide), dari beberapa kali trip yang aku ikuti pada saat kita mengunjungi suatu lokasi tour guide akan mengumpulkan para peserta lalu memberikan cerita singkat tentang lokasi dan do or don’t nya lokasi ini. Kali ini tidak sama sekali sejak turun di masjid raya tadi siang tour guide hanya memberi tahukan meeting point serta estimasi waktu, lalu kami ditebar seperti melepas anak ayam dari kandang.

Merasa jenuh dan agak kecewa selanjutnya kami mencari toilet dan kembali ke “meeting point” yang dijanjikan. Kami kembali ke bis dan sempat menunggu hampir sejam karena Edo dan Marwa belum kembali bahkan baru kembali setelah disusul oleh tour guide juga mbak Iin. Sejak di bandara Soeta aku memang sudah melihat gelagat Marwa yang kurang sopan dan agak liar, sepertinya Edo terpengaruh dan ikut dia. Yah...aku sudah menganggap mereka bukanlah team lagi, kami hanya bertiga.


Paris Look 

Setelah meninggalkan Louvre museum perjalanan dilanjutkan ke “Paris Look”, sebuah toko yang disebutkan oleh tour guide sebagai tempat belanja murah. Paris Look lebih terkenal sebagai toko parfum murah. Meski toko itu juga menjajakan barang lain, seperti kosmetika, pakaian dan jam tangan. Letaknya di Boulevard Haussman, tak jauh dari Galeri Lafayette. Bila naik metro turun saja di Stasiun Lafayette dan ambil jalan ke arah kiri stasiun. Paris Look tak jauh dari stasiun.

Salah satu keistimewaan toko ini adalah pelayan ekstra kepada pembeli. Toko ini menyediakan pelayan dari berbagai kebangsaan. Pembeli pun tidak kesulitan mencari barang. Toko ini juga menjajakan barang dengan “tax refund” alias bebas pajak. Jadi harga yang dibandrol sudah dipotong sekitar 10-12 persen pajak. Di pusat perbelanjaan lain, turis juga diberikan tax refund, tetapi kita baru bisa mendapatkan dengan menukarkan slip pembayaran di bandara. Prosesnya agak ribet. Di Paris Look, kita tidak perlu repot-repot mengurus penukaran tax refund di bandara. Tax refund langsung dapat diambil disini. Tax refund hanya diberikan kepada pembeli yang membeli barang seharga 176 euro keatas.


Seperti biasa aku selalu duduk duduk diluar toko ketika yang lain sibuk belanja. Berhubung dingin akhirnya masuk toko juga dan bercanda ria dengan Indah di muka pintu keluar
 
Ketika masuk aku tidak begitu tertarik dengan alasan, barang yang dijual yang disebut murah ternyata masih tidak murah bagi ukuran kantongku. Selain itu kualitas barang yang dijual bukanlah barang branded melainkan produk China. Kami berlima termasuk Indah dan uni Yulimar hanya melihat sekilas dan akhirnya menunggu di pintu toko sambil bercanda. Untuk estimasi waktu yang diberikan di sini sangat lama 2 jam lebih. Nampaknya memang tour kali ini boleh disebut shopping tour bukannya wisata. Alamak....ketipu banget ikut tour kali ini.

Jam setengah belas malam kami baru memulai proses check in di hotel Ibis, seperti biasa harus geret-geret koper dari parkiran bis yang sangat jauh. Sakitnya tuh pihak resepsionis hotelnya sangat tidak welcome banget. Acuh dan kasar, mereka menegur melihat koper kami memenuhi lobby hotel. Lho...memang koper ini mau tarok dimana kalau gak di lobby, toh kita masih menunggu pembagian kamar. Ya Allah...begini ya negara yang tidak ada sifat humanis dan sangat materialistis. Setelah proses pembagian kamar hampir menjelang lewat tengah malam aku baru bisa merebahkan badan. Gila ya 2 hari 2 malam belum merebahkan diri.