Tuesday, 29 November 2016

WEST EUROPE TRIP, DAY 1ST DEPARTURE AND ARRIVING


DAY 1st, Departure and Arriving  Jum’at 18 November 2016

Jum’at sore tanggal 18 November 2016 perjalanan tour ke Eropah Barat bagi kami bertiga (aku ,Atik dan Kotada) dimulai. Starting point adalah rumah ibu Angga, sedangkan Kotada pergi langsung dari rumahnya karena memang dekat bandara. Diiringi hujan yang lebat kami dijemput oleh “Star Cab” menuju bandara. Sejak awal juga sudah mulai ribet nih, menunggu Kotada yang tidak bisa dihubungi akhirnya kami masuk duluan untuk check in supaya tidak dapat tempat duduk di pesawat yang paling belakang. Namun ternyata Kotada tidak boleh di check in kan karena KTPnya tidak ada. Jadi harus nunggu dia juga. Dari dalam aku melihat Kotada dihalang oleh security bandara, karena gak punya tiket. Terpaksa Atik harus keluar lagi untuk menjemput Kotada.

Akhirnya kami masuk juga ke ruang tunggu bandara SMB 2. Karena hujan lebat pesawat harus delay selama 1 setengah jam. Rencana keberangkatan jam 15.20 harus molor sampai jam 16.55. Duh... sempat bete juga, karena masih ingat tour ke Turki bulan Maret lalu, peristiwa yang sama pesawat delay sejam lebih, hal ini membuat setibanya kami di Jakarta terbirit-birit. Bersyukur masih bisa sholat Maghrib dan Isya di jamak takdim, sedangkan sebagian besar peserta lain tidak sempat sholat karena sudah langsung masuk pesawat. 

Wajah ceria kami menanti keberangkatan di SMB 2
Kali ini pun demikian. Justru lebih morat-marit lagi karena harus pindah terminal dari terminal 3 ke terminal 2D. Waduh harus berlari-lari kecil mengejar Leo (petugas Garuda yang punya jaringan kerjasama dengan Iin) yang jalannya cepat sekali,  sambil menggeret-geret koper mana besar pula. Meskipun sudah lewat jalur khusus tetap saja jauh .....

Sampai di terminal 2D seluruh peserta (75 orang) sudah berkumpul, kulihat Iin melambaikan tangannya. Kami mendekat menyerahkan koper bawaan yang akan diberi label peserta, kulihat para peserta sedang mendengarkan pengarahan, bagiku hal ini tidak begitu penting sekali karena sudah lazim pengarahan tersebut beriisi “DO or DO NOT” yang harus dilakukan selama trip. Aku pamit ke Iin untuk sholat saja. Bersegera kami bertiga sholat Maghrib dan Isya. Selesai sholat kami masih sempat mendengarkan sedikit sisa pengarahan dan bagi-bagi atribut peserta seperti syal dan baju kaos (norak banget atributnya sehingga ogah untuk memakainya) jadi langsung disimpan. Seperti biasa uni Yulimar belum balik-balik dari sholat dan ditelpon juga telponnya tidak aktif, terpaksa jadi nunggu lumayan lama seperempat jam kali. Meskipun disusul 3 orang bergantian dari pihak travel Iin juga belum ketemu. Di menit ke 20 tiba-tiba uni muncul juga. Hmmmmm... sudah tahu mau cepat eh ternyata dia malah ikut sholat berjamaah. Aduhhhhhh.... Iin sempat menegurnya. 


Departure at Soeta Airport
Tiga serangkai
Team Iin dan team Makasar when Deaparturing in Soeta, masih terlihat kompak. Setelah disana semua karakter asli muncul dan kita terbelah belah
Waiting for bagage claim
Akhirnya kita team Palembang dan Makasar check in yang paling akhir, sebagian peserta sudah menuju ruang tunggu keberangkatan di gate D5, resikonyo kita dapat jatah kursi sisa di pesawat sehingga terpisah-pisah satu sama lain. Start awal saja aku sudah menyaksikan kekacauan dan tour guide yang cuek dan tidak simpati. Yah.... akhirnya perjalanan pesawat ditempuh selama 15 jam Jakarta – Istanbul. Setelah proses transit dan pindah pesawat yang memakan waktu sekitar 2 jam, perjalanan dengan pesawat dilanjutkan lagi Istanbul – Paris selama 2 jam perjalanan. 

Jam 9.50 waktu Paris kami mendarat di bandara “Charles de Gaulle”. Menurutku bandara Paris tidak terlalu megah dan biasa-biasa saja. Setara dengan Terminal 3 Soeta. Cuma proses imigrasi dan sensor barang-barang kabin bahkan sampai sepatu kita dilucuti itu sangat ribet dan makan waktu lamaaa. Semua barang bawaan adalah tanggung jawab masing-masing karena tidak ada jasa porter. Kebayangkan geret-geret koper karena ada batas area trolley diperbolehkan. 

“Charles de Gaulle Airport", Paris I m coming
Baggage Claim Area

Thursday, 20 October 2016

WISATA KOTA TUA


Dari serangkaian persiapan rencana tour ke West Europe bulan November 2016 nanti, maka tanggal 18 Oktober 2016 kemaren kami rombongan dari Palembang harus menyelesaikan persyaratan visa Schengen di kedutaan Perancis, untuk melakukan penyerahan dokumen, rekam biometrik data (sidik jari dan foto wajah) dan  wawancara, Sejak awal info mbak Iin kami harus ke Jakarta aku sudah mulai mengatur strategi. Tadinya seorang temen sekantor yang ikut bersama kami  memaksa untuk berangkat dengan pesawat terakhir saja dan selesai urusan langsung pulang, alasannya gak mau ninggalin kantor dan supaya cuma ambil cuti sehari saja. Ahhh...ngapain sih sok penting amat tentang urusan kantor, biar kata kita gak ada juga perusahaan ini tetep jalan kok. 

Kali ini aku gak mau diatur sama dia (seperti rencana liburan ke Malaysia April lalu, hanya karena dia tidak mau ambil cuti sehari dan dia langsung memutuskan kami batal ikut. Ini masalahnya PalTV mengkonfirmasi dengan menelpon dia. Dan kami berlima yang lain yang minat banget bahkan bisa kok ambil cuti sehari jadi batal semua. Hmmmm...kecewa banget aku waktu itu). 

Aku sudah punya rencana sendiri karena aku gak mau rugi (hehehe..), maksudnya karena sudah kepalang mengeluarkan budget untu harga tiket pesawat dan sebagainya yang tidak murah, jelas tidak balance rasanya jika urusan ke Jakarta ini hanya diisi 1 kepentingan saja yaitu urusan visa. Harus bisa “sekali menrangkuh dayung dua tiga pulau terlampaui”. Akhirnya dia gak ngotot...lagi dan manut aja.

Banyak referensi yang sudah aku dapat dari browsing internet via travel blogger tentang lokasi wisata di Jakarta yang bisa dijadikan tempat foto-foto. Memang sudah lama sekali aku berharap bisa mengunjungi lokasi-lokasi menggiurkan di Jakarta yang pernah aku baca via travel blogger. Aku ingin mendapat foto keren untuk di upload ke instagram dan membuat new posting di blog travel aku yang cukup lama gak update, karena gak ada info yang dapat diposting (aku duduk manis dan gak travel kemana-mana sejak pulang dari Turki bulan Maret lalu). Dalam itinerary yang aku schedulekan sendiri, banyak sekali tempat-tempat yang ingin aku datangi dalam 1 hari tersebut, antara lain Kota Tua, Ancol dan Monas. Setelah sampai di Jakarta ternyata sulit sekali meng”arrange” sesuai kemauanku, disebabkan waktu tempuh untuk sampai ke lokasi tidak dapat diprediksi sesuai rencanaku. Maceetttt....... 

Kami berangkat dari Palembang menumpang pesawat City Link dengan jam keberangkatan 8.20, dan mendarat di Halim Perdana Kusumah tepat jam 9.15. Kami dijemput mbak Iin dan Kang Tisna pemilik travel menuju hotel. Sampai hotel sekitar jam 10-an. Tapi harus menunggu dulu untuk bisa check in, karena jam 14.00 kita baru bisa check-in. Hmmm...dari pada nunggu jam 2 siang kami menyebrang ke sebrang hotel ke Ambasador Mall ITC Kuningan untuk makan (perut sudah terasa perih karena pagi tadi tidak sempat sarapan) sekalian cari studio foto untuk afdruk foto Kotada yang salah dan tidak sesuai dengan persyaratan yaitu harus terlihat 7/8 muka. Setelah makan dan cetak foto untuk menunggu jam 2 siang, kami masih berkeliling Ambasador Mall melihat-lihat, akhirnya aku terperangkap berbelanja juga. Hadehhh...padahal harus hemat untuk bekal ke Eropah. 

Akhirnya pas jam 2 kami kembali lagi ke hotel check-in dan sholat. Sempat menunggu karena mbak Iin berjanji akan mengantar kami untuk jalan ke Kota Tua. Tunggu punya tunggu hampir jam 3 belum ada konfirmasi kapan akan dijemput. Selama ini memang sudah sangat sering Iin janjinya tak tepat. Aku berpikir daripada menunggu dan molor-molor takutnya nanti malah gak jadi pergi karena sudah kemalaman. Aku berinisiatif lebih baik pergi sendiri saja. Kutelpon Iin agar tak perlu dijemput biar kami pergi sendiri saja. Kotada segera menghubungi Grab Taxi. Dan pas jam 3 kami meluncur. Jakarta itu maceetttnya luar biasa, meskipun sopir grab taxi sudah mengambil alternatif jalan yang lancar dengan ambil jalur masuk tol dan resikonya kami harus nambah biaya tol sebesar 9 ribu rupiah akhirnya kami sampai di Kota Tua sekitar jam 5 lewat. Sampai disana agak kaget juga rasanya tak ada yang bisa dilihat karena dengan lokasi sekecil itu pengunjungnya banyak sekali, diantaranya orang yang pacaran, asongan dan sebagainya. 

Sangat sayang sekali karena hari ini hari Senin beberapa lokasi ditutup seperti museum Fatahillah, museum wayang, pelabuhan Sunda Kelapa dsb. Hmmmm... Tetapi jangan panggil Esi deh kalau gampang menyerah, dan kamipun masih bisa ambil beberapa moment foto yang cukup bagus menurutku meskipun untuk target foto hanya diseputaran pelataran museum. Jadilah.... Kota Tua merupakan kawasan penting di masa penjajahan dahulu. Kawasan ini mencakup sebagian wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara dan, mulai dari Pelabuhan Sunda Kelapa sampai Museum Bank Indonesia.

MUSEUM BANK INDONESIA
Museum ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara, tepatnya di seberang Stasiun Jakarta Kota. Bangunannya menempati area gedung Bank Indonesia yang merupakan peninggalan De Javasche Bank dengan arsitektur neo-klasikal yang dipadukan dengan budaya lokal. Museum ini dibangun pada 1828 dan menyajikan informasi tentang peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa. Kisahnya dimulai sebelum kedatangan bangsa barat, hingga terbentuknya Bank Indonesia beserta kebijakan-kebijakannya. Wisatawan tidak akan bosan mengelilingi museum ini sebab tempat tersebut sudah memanfaatkan teknologi modern dan multimedia. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional, serta tidak dipungut biaya.

Di depan museum Bank Indonesia
Kantor Pos dekat museum Bank Indonesia dan sebelah gedung museum wayang
Sewaan sepeda ontel, sayangnya kita semua pakai dress jadi gak bisa nyobain sepeda


Sulit sekali untuk bisa ambil foto di meriam ini. Selain rame yang antri juga ada sepasang remaja (itu tuh yang pake baju strip merah kabur karena kita nekad foto) duduk disini serasa tempat ini milik mereka

MUSEUM BANK MANDIRI
Posisinya tepat di sebelah Museum Bank Indonesia yang menempati gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda dan berkembang menjadi perusahaan bidang perbankan. Museum ini menampilkan koleksi terkait aktivitas perbankan tempo dulu dan perkembangannya, termasuk perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno dan brankas.

Jalan di depan museum bank Mandiri

MUSEUM FATAHILLAH
Museum ini dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia yang berdiri di atas tanah seluas 1.300 meter persegi. Dulunya gedung ini adalah Balai Kota (Stadhus dalam bahasa Belanda) yang meyerupai Istana Dam di Amsterdam. Terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat, serta bangunan sanding sebagai kantor, ruang pengadilan dan ruang bawah tanah sebagai penjara. Pengunjung yang datang akan disuguhi berbagai koleksi di Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung dan Ruang MH Thamrin.

Area pelataran museum Fatahillah
Pelataran museum Fatahillah best picture yang kusukai

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK
Lokasinya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta. Museum ini memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari era Majapahit abad ke-14 hingga berbagai negara. Awalnya gedung ini dibangun untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia, hingga asrama militer TNI. Namum, baru pada 1990 bangunan ini digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Berbagai koleksi seniman Indonesia sejak 1800-an hingga saat ini ada di museum ini. Di museum ini, seni lukis Indonesia dibagi dalam beberapa kategori sesuai periodisasi. Selain itu, koleksi keramik juga terdapat di tempat ini, baik dari daerah maupun mancanegara.

Patung manusia yang atret di samping museum keramik, sempat kaget ketika tahu ini bukan patung beneran tapi manusia yang merubah diri jadi patung. Patung ini yang paling atraktif
Salah satu expresi drama dari patung manusia ini
Karena museum keramiknya tutup kita ambil foto di depannya saja sambil ngobrol manjahhhh

MUSEUM WAYANG
Gedung ini cukup unik dan menarik meski telah mengalami perombakan beberapa kali. Koleksi yang ditampilkan pada museum wayang tidak terlepas dari jenis dan bentuk wayang di Indonesia. Baik dari bahan kayu dan kulit yang totalnya mencapai lebih dari 4.000 buah wayang. Tak hanya itu, wayang-wayang luar negeri juga diabadikan di tempat ini, di antaranya dari Republik Rakyat Tiongkok dan Kamboja. Kami gak sempet ambil foto disini karena penuh dengan pedagang dan beberapa anak muda yang berkelompok.

Ini juga depan gedung museum wayang
Depan museum wayang tapi backgroundnya museum Fatahillah

PELABUHAN SUNDA KELAPA
Pada masanya, Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk yang digunakan untuk kegiatan jual beli dalam perdagangan internasional. Sedangkan kawasan sekitar Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahilah adalah salah satu pusat pemerintahan kolonial. 

Apa menariknya Pelabuhan Sunda Kelapa? Pelabuhan kuno yang pernah menjadi pelabuhan utama perdagangan internasional ini menjadi saksi kejayaan Jakarta atau Batavia di masanya. Dahulu, pelabuhan ini ramai sekali dengan pedagang dari Cina, Arab dan India yang sibuk menjual barang dagangan yang dibawanya untuk ditukar dengan uang atau rempah-rempah. 

Saking tuanya, Pelabuhan Sunda Kelapa bahkan diklaim telah beroperasi sejak Jakarta didirikan. Tempat ini telah menjadi saksi kejayaan Kerajaan Pajajaran, kedatangan bangsa Portugal, kehidupan makmur Kerajaan Demak, hingga masa-masa dimulainya kekuasaan Belanda di Indonesia. 

Lain dahulu, lain sekarang. Saat ini, pelabuhan ini dijadikan tempat ‘parkir’ kapal nelayan setempat. Tapi bukan berarti hal ini membuat Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi kurang menarik. Waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat wisata ini adalah pada sore hari menjelang senja. Siluet kapal-kapal nelayan berpadu dengan cahaya jingga akan menjadi objek foto yang cantik untuk dikenang. Untuk kuliner di sekitar tempat wisata ini terdapat banyak warung makan yang menyajikan aneka olahan seafood lezat. Sayangnya lokasi ini ditutup pada hari Senin, padahal sudah terbayang ambil foto sunset di pelabuhan ini pasti keren sekali.

TOKO MERAH
Destinasi lain yang juga tak boleh dilupakan kala berkunjung ke Kota Tua Jakarta adalah Toko Merah. Baron Van Imhoff, gubernur jendral VOC dan penggagas bangunan Istana Bogor, merupakan sosok yang mendirikan tempat unik ini. Begitu masuk ke dalam, Anda akan mendapati suasana dan perabotan zaman kolonial yang masih begitu terjaga orisinalitasnya hingga saat ini. Sungguh menarik bukan? 

Namun sayang, memasuki tempat satu ini tak mudah. Statusnya yang tidak terbuka untuk publik, membuat Anda harus mengantongi izin khusus dari pihak berwajib untuk bisa menikmati warisan peninggalan kolonial di Toko Merah. Tapi jika hanya ingin sekedar berfoto dan menikmati suasana kuno yang ada di sekitarnya, Anda bisa berkeliling di kawasan sekitar bangunan ini. 

Itu dia beberapa tempat menarik yang bisa Anda kunjungi di kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Disarankan tak datang di akhir pekan, karena tempat ini biasanya amat ramai dengan pengunjung, baik mereka yang tinggal di dalam, maupun berasal dari luar kota. Kawasan ini juga kerap jadi tempat favorit berbagai macam klub fotografi di ibu kota untuk berburu foto-foto menarik guna menambah portofolio mereka.

Wednesday, 19 October 2016

PROSES MENGAJUKAN SCHENGHEN VISA DI KEDUTAAN PERANCIS


Bulan November 2016 ini aku punya rencana ikut tour ke “West Europe”. Sudah mendaftar di travel miliknya mbak Iin, travel Andamas Mabrur Wisata yang sudah berulangkali aku ikut. Sudah percayalah sama mbak Iin, yang paling penting tidak akan tertipu, karena di kota Palembang jarang travel wisata ke luar negeri, jadi terpaksa harus ikut yang di Jakarta. Dari informasi via telivisi atau media massa lain sering diberitakan para calon wisata sering ditipu pihak travel, sudah membayar lunas dan persiapan segalanya, eh... pas hari keberangkatan malah terdampar di bandara karena telah tertipu oleh travel wisata bodong. Itulah jadi ngeri untuk mencoba-coba travel yang lain. 

Pada awalnya sih aku nyantai karena biasanya kalau ikut travel wisata itu gak begitu ribet. Kita tinggal daftar, bayar dan mengirim beberapa dokumen yang dibutuhkan. Karena tidak mau pusing mikir biaya, maka seluruh pembayaran sudah aku lunasi sekalian, beberapa dokumen yang diminta mbak Iin juga sudah rampung aku kirim via email. Aku tinggal tenang-tenang saja nih pikirku. Ehhh...tiba-tiba suatu hari mbak Iin nge-chat via bbm, dia bilang kami harus ke Jakarta untuk wawancara dan sidik jari, tentang schedule pastinya akan diinformasikan kemudian. 

Hmmmm... seperti biasa aku komplain dulu nih pas diinfokan oleh mbak Iin, kok Cuma buat sidik jari doang harus ke Jakarta bener sih? Kok gak ikut link KTP elektronik saja. Bla...bla ...  Disamping itu dapat dibayangkan disaat harus berhemat uang untuk bekal ke Eropah masih harus ke Jakarta pula. Untuk 3 orang tanggunganku paling minim 5 juta hanya untuk biaya tiket. Mbak Iin menjelaskan visa “Schengen” itu harus datang sendiri dan tidak bisa diwakilkan ke pihak travel. Tapi yah.... apaboleh buat! Ada hikmahnya juga kok, siapa tahu aku dan Atik jadi travelling ke Kuwait tanpa ikut travel dan visanya harus diurus sendiri aku sudah punya pengalaman.

Wilayah Schengen 
Wilayah Schengen meliputi 26 negara di Eropa yang telah menghapuskan pemeriksaan paspor di perbatasannya. Kalau kita memiliki visa Schengen, kita bisa bebas keluar masuk 26 negara tersebut tanpa pemeriksaan paspor lagi. Dengan kata lain, ketika kita mengajukan visa (izin berkunjung) ke salah satu negara yang termasuk di wilayah Schengen, kita mendapat bonus visa ke 25 negara lainnya. Karena itulah biasanya travelling ke Eropah itu kita tidak hanya mengunjungi 1 negara saja. 

Negara-negara di Eropa yang termasuk di wilayah Schengen adalah : Austria, Belgia. Czech Republic, Denmark, Estonia, Finlandia, France (Perancis), Germany (Jerman), Greece (Yunani), Hungaria, Iceland, Italia, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxembourg, Malta, Netherland (Belanda), Norwegia, Polandia, Portugis, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Swiss. Sedangkan Inggris dan Irlandia tidak termasuk di wilayah Schengen. 

Via Kedutaan Mana?
Aplikasi visa Schengen bisa diajukan ke kantor salah satu kedutaan dari 26 negara di atas. Tentu saja kita wajib memilih kedutaan negara yang akan kita kunjungi. Kalau kita mengunjungi lebih dari satu negara, cara memilih kedutaannya yaitu:

Aturan 1: ke kedutaan negara yg paling lama ditinggali
Aturan 2: kalau lama kunjungannya sama antar negara, ajukan visa ke kedutaan negara pertama yang akan disinggahi

Untuk rencana tour kami berencana mengunjungi lima negara: Perancis, Belgia, Jerman, Belanda dan Milan (Italia). Untuk jumlah hari tinggal tidak ada yang lebih lama jatah untuk tiap masing-masing negara yang disinggahi, average 2 hari, jadi kami apply visa via kedutaan Perancis, karena Paris adalah negara paling pertama yang dikunjungi.  

Menurut beberapa informasi yang sempat kubaca, mengurus visa Schengen paling gampang di Kedutaan Belanda. Dari beberapa blog yang saya baca, kalau semua dokumen lengkap, visa Schengen bisa langsung jadi dalam satu hari. 

Dokumen
Semua informasi tentang pengajuan visa Schengen via kedubes Perancis ada di www.tlscontact.com. Persyaratan dokumen yang diperlukan adalah :
1. Hal yang pertama kali dilakukan adalah mendaftar di website TLS Contact. Cukup kepala keluarga saja yang mendaftar, nanti tinggal melengkapi data anggota keluarganya. Setelah mempunyai akun di TLS Contact dan tahu jenis visa yang akan kita ajukan. 

2. Paspor yang masih berlaku (asli & fotocopy). Fotocopy yang diminta bagian depan (biodata) dan bagian belakang paspor (biodata). Di dalam paspor harus ada bukti cap visa bahwa kita sudah pernah bepergian ke luar negeri. Kebetulan di paspor punyaku sudah ada modal beberapa visa dan cap paspor perjalanan-perjalanan sebelumnya. Bila paspor baru belum ada cap visa perjalanan maka paspor lama harus disertakan. Bagaimana seandainya kita belum pernah bepergian ke luar negeri sama sekali yah? Wah aku belum tahu jawabannya nih?

3. Kartu Keluarga (fotocopy, asli sebaiknya dibawa).
4. Dua pas foto berwarna ukuran 3,5 cm x 4,5 cm, latar belakang putih. Boleh berjilbab, pipi dan dahi harus terlihat penuh, tidak tertutup. 

5. Bukti keuangan (Bukti Rekening 3 bulan terakhir dan surat rekomendasi dari Bank). 
Diwajibkan menyertakan bukti rekening bank atas nama pribadi 3 bulan terakhir. Bisa diminta ke Bank masing-masing. Untuk surat rekomendasi bank tidak wajib, tapi kalau disertakan akan memberikan nilai plus. Surat rekomendasi bank bisa diminta langsung ke Bank masing-masing dengan membawa buku tabungan, slip deposito, dan KTP. Untuk suami istri dengan satu rekening bersama bisa menyertakan Kartu Keluarga dan buku nikah untuk membuat 2 surat rekomendasi bank atas nama masing-masing.

Berdasarkan pengalamanku di Bank Mandiri untuk membuat surat rekomendasi Bank bisa diminta langsung dibagian CS, tanpa perlu membawa buku tabungan (karena buku tabunganku sudah tak tahu entah disimpan dimana?) yang paling penting tahu nomor rekening dan bawa ATM. Bila tidak membawa buku tabungan kita akan diminta mengisi formulir diantaranya data yang diminta adalah nama ibu kandung dsb.  Biaya surat rekomendasi dan rekening koran Bank di Mandiri adalah sebesar 2500 rupiah per-lembar Didalamnya berisikan pernyataan bahwa benar kita nasabah bank tersebut sejak kapan dengan rekening koran dari buku tabungan kita. 

6. Surat Keterangan Kerja dari perusahaan, bila kia seorang karyawan 
7. Slip gaji 3 bulan terakhir berbahasa Inggris (asli & fotocopy). 
8. Tiket pesawat dari Indonesia ke negara tujuan pp, salinan. 
9. Asuransi perjalanan asli dan salinan. 
10. Booking hotel, harus sudah dibayar atau digaransi dengan kartu kredit.

Semua dokumen diatas mesti memakai kertas ukuran A4. Setelah semua dokumen lengkap, susun sesuai urutan yang ditentukan oleh pihak TLS. Bawa semua dokumen tersebut beserta konfirmasi jadwal pertemuan yang sudah diprint saat janji temu ke kantor TLS contact (Menara Anugrah Lingkar Kuningan). Jika semuanya sudah lengkap dan sesuai, dokumen kita diterima oleh pihak TLS contact dan nantinya akan diserahkan ke kedutaan Perancis. Lalu kita diminta untuk membayar biaya pembuatan visa (mengenai jumlah pastinya aku gak tahu pasti, tetapi kalau kami peserta tour dibebani biaya visa sebesar 600 ribu rupiah). Semua biaya bisa dibayar dengan rupiah mengikuti kurs dari pihak TLS. 

Setelah membayar, kita akan diminta untuk masuk ke ruangan pengambilan foto dan sidik jari. Rekam data foto dan sidik jari kita akan disimpan dalam Sistem Informasi Visa (VIS) selama 5 tahun. Jadi jika visa schengen kita diapprove, untuk pembuatan visa schengen berikutnya kita dapat mewakilkannya, selama itu masih dalam waktu 5 tahun. Setelah rekam foto & sidik jari, kita diberikan bukti penyerahan dokumen aplikasi visa, nanti bukti ini yang mesti kita bawa saat pengambilan paspor dan visa di kantor TLS. 

Visa Schengen memang mensyaratkan kita sudah punya itinerary yang jelas: kota mana saja yang akan dikunjungi dan berapa lama untuk masing-masing kota. 

Visa schengen bisa diajukan paling awal 3 bulan sebelum keberangkatan dan paling telat 2 minggu sebelum keberangkatan. Untuk pengurusan visa schengen, kedutaan Perancis telah bekerjasama dengan TLS contact. Jadi kita apply visanya melalui kantor TLS contact. Untuk syarat dan ketentuan apply visa schengen bisa dilihat di website resmi www.tlscontact.com.

Untuk rencana tour aku sendiri sebenarnya sih diurus dan diapply oleh pihak travel. Kami tinggal datang pada saat schedule wawancara dan sidik jari saja. Itu kata mbak Iin pemilik travelnya, tapi kenyataannya amat sangat ribet pas kami datang 18 Oktober 2016 kemaren ke TLS contact. Terlalu dan amat sangat “strict”. Contohnya mengenai foto, keponakanku Kotada harus bolak-balik cetak foto karena ukuran penampakan yang masih kurang besar, bahkan kami sampai harus keliling ITC Kuningan untuk cari yang bisa afdruk foto, saat baru saja tiba di Jakarta. Belum lagi ukuran fotonya yang kurang lazim 3,5 x 4,5 cm. Beruntung di lantai 1 ITC kuningan ada studio foto Fuji filmyang memang berbisnis untuk keperluan orang-orang yang apply visa. Kami sempat adu urat juga sama petugas tokonya ketika dia bilang cukup untuk ukuran penampakannya. Kami ngotot belum besar karena dia cukup memotong sampai leher, aku ngotot minta diperbesar lagi diambil mulai dagu saja. Akhirnya urusan foto Kotada selesai. 4 lembar 10 ribu rupiah saja.

Keesokan harinya tepat jam 8 pagi kita sudah mulai antri di Menara Anugrah. Ternyata prosesnya tidak segampang yang dibilang Iin ke kami, "paling 1 jam selesai". Antriannya cukup panjang dan sebelum masuk ke dalam ruang antri sensornya sangat ketat, barang bawaan berupa tas dan lainnya dibuka dan isinya diperiksa satu persatu. Bahkan handphonepun harus diserahkan dan disimpan di dalam loker yang sudah ditentukan. Antri untuk proses kelengkapan dokumen diwakili oleh Dewi selaku pegawai administrasi Andamas Mabrur Wisata, cukup lama hampir 2 jam. Itupun beberapa peserta masih ada yang belum lengkap, hal yang paling jadi masalah adalah ukuran foto, Kartu Keluarga, bahkan adekku Atik masih harus dilakukan klarifikasi lebih lanjut karena tidak punya rekening bank, meskipun sudah ada surat pernyataan dia sepenuhnya adalah tanggungan aku. 

Selanjutnya untuk wawancara dan sidik jari masih antri lagi, hmmm jam 12 siang proses itu kelar, kita harus segera meninggalkan ruangan itu (segera! Hahaaa kalau tidak diusir Satpam, soalnya kalau tidak segera keluar ruangan itu akan numplek dan berjubel). Kami menunggu Dewi yang masih menyelesaikan entah apa di sana. Akhirnya sepakat dibubarkan saja. Aku, Atik, Kotada, Edo dan Marwah yang dokumennya sudah benar dan lengkap balik ke hotel untuk ambil koper, sedang 5 orang lagi peserta dari Makasar termasuk uni Yulimar teman kami harus mampir ke ITC kuning buat foto dan cetak foto sesuai aturan. Untuk pengajuan visa itu sendiri pernyataan diapprove atau tidak harus menunggu seminggu lagi. Hmmmm....ribet ya (sebenarnya tidak ribet andai saja seluruh dokumen yang mereka minta dapat dipenuhi sesuai aturan. Yang mmbuat ribet adalah pihak travel yang memang belum berpengalaman dan sedikit gaptek, sehingga informasi yang diberikan kepada para peserta yang nota bene dari berbagai daerah tidak fix). Sebagai contoh soal foto dan slip gaji aku sudah bertanya berkali-kali pada pihak travel apakah ukuran foto yang diminta sudah benar? Apakah slip gaji tidak diperlukan? Kenapa aku bertanya demikian karena aku sendiri sudah browsing mencari tahu persyaratan visa schenghen di Kedutaan Perancis yang dari googling kudapat info memang strict . Tetapi travel bilang sudah cukup.

Itu saja Jum'at sore jam 4 aku sempat ngomel ke pihak travel karena tiba-tiba minta slip gaji. Waduh...! Jam 4 untung saja belum pulang kantor buru-buru aku ngacir ke kantor depan SDM untuk minta slip gaji yang diapprove. Kalau tidak ? Padahal Seninnya aku sudah akan terbang ke Jakarta. Yah pengalaman ini berharga....

Dan setelah deg deg an  menunggu selama kurang lebih 10 hari akhirnya pihak TSL contact menghubungi via sms menyatakan bahwa visa sudah selesai dan bisa diambil dalam schedule waktu yang telah ditentukan. Alhamdulillah...akhirnya. Europe I am coming...!


Wajah lelah dan lapar dengan proses yang panjang...