Friday, 11 March 2016

WISATA TURKI DAY 2ND Camlica Hill, Hagia Sophia, Kumkapi Fish Restaurant

29 Maret 2015

Ini hari kedua untuk melakukan trip lagi. Setelah makan malam Cansu sudah mengumumkan schedule trip untuk hari ini. Mulai dari membangunkan seluruh peserta dengan morning call jam 5 melalui telepon kamar, selanjutnya sarapan di “hotel restaurant room” jam 7.00. Dan Cansu akan menjemput dengan bis pukul 8 tepat.


TURKISH DELIGHT
Tujuan pertama trip dihari kedua ini adalah ke pusat penjualan oleh-oleh makanan khas Turki. Tidak hanya menjual makanan khas Turki, tetapi disini juga menjual berbagai herbal yang dibuat secara alamiah (Natural). Turki memang sangat terkenal dengan segala sesuatu yang bersifat herbal.

Turkish delight merupakan kudapan yang paling populer di Turki. Rasanya belum ke Turki kalau belum mencoba kudapan yang satu ini. Turkish Delight disebut Lokum oleh orang2 Turki. Bentuknya miriiiip mochi. Bahan dasarnya berupa gula/madu dan kanji. Turkish delight dijual dalam berbagai varian warna dan rasa. Rasa yang paling tradisional adalah rasa mawar (dikasih esens air mawar atau rosewater), bergamot (sejenis jeruk dengan rasa yang asam), lemon, jeruk, mastic (permen yang banyak ada di Arab), kiwi, jahe, kayu manis, mint, dan lainnya. Untuk rasa yang lebih premium biasanya berupa campuran bahan lain seperti potongan kacang pistachio, hazelnut, walnut, almond, kurma, dan banyak lagi.

Berbagai rempah  yang dijual
Herbal
Manisan buah khas Turki
Turkish Delight dalam berbagai variant
Kita masih sempat pose di depan toko, sebelum masuk ke bis. Hari ini makin deket sama Edo temen seide.

Puas mencicipi beberapa variant kami mulai memilih variant apa yang disukai untuk dibeli. 1Kg turkish delight harganya 279 lyra, Bagiku berkunjung ke suatu daerah/negara aku harus bawa pulang apapun hal-hal yang menjadi ciri khas daerah/negara tersebut. Aku membeli 1 botol minyak zaitun untuk kulit dan muka yang berukuran 100cc seharga 25 lyra dan sedikit variant Turkish Delight. Cukup! Aku tetep harus mempertimbangkan koper dan dana bukankah selesai di Turki kita masih harus melaksanakan umroh selama 10 hari?

Keluar dari toko ini perjalanan dilanjutkan menuju ke pelabuhan selat Bosphorus, karena hari ini dan seterusnya kami akan stay di Istambul. Cuaca di pelabuhan fery lebih dingin dari kemaren. Tapi aku tidak begitu merasa kedinginan kok. Aku hanya memakai cardigan yersey, ahaaaa...aku sepertinya cocok nih dengan cuaca Turki. Ademmmm....

Masih seperti kemaren penumpang kapal sangat ramai, dan kali ini aku hanya duduk digeladak sambil foto-foto. Gak berminat untuk masuk kedalam resto kapal. Juga kurang berminat untuk interaksi dengan para turis lain. Mulai agak sedikit lelah ya, karena plus minus sudah 3 kali waktu makan aku hanya makan seadanya. Sepotong roti, dan beberapa potong kentang, masih untung sarapan pagi tadi ada susu. Lumayanlah....agar maag tidak kumat. Cuma memang mulai terasa baju agak longgar.

Sedikit lesu foto-foto di atas kapal
Burung Camar berterbangan diatas geladak Kapal



CAMLICA HILL
Setelah menyebrangi selat Bosphorus kami langsung menuju lokasi kedua yang direncanakan, Çamlica Hill. Terletak berbatasan dengan kabupaten Üsküdar dan di sisi Anatolia dari Istanbul, dekat jembatan gantung pertama. Camlica, tempat dengan dua bukit yang menghadap ke Bosphorus dan Laut Marmara, merupakan salah satu promenade paling disukai di Istanbul, dan juga salah satu tempat tertinggi dan paling menarik di kota. Ini dibagi menjadi dua bagian sebagai "Büyük Çamlica" dan "Kucuk Çamlica", yang berarti "Big" dan "Kecil". Buyuk Camlica adalah 267 meter di atas permukaan laut dan yang lain adalah 228 meter.

Camlica diambil dari nama pohon-pohon pinus di daerah (Cam berarti Pine di Turki). Menurut buku sejarah Turki Ismail Hakki Konyali, di zaman kuno kedua bukit Camlica ditutupi dengan pohon-pohon pinus begitu tebal sehingga tidak ada sinar matahari bisa bersinar melalui mereka. Ada juga bunga liar di semua warna dan bunga poppy.

Camlica juga memiliki tempat yang penting dalam literatur Turki. Banyak penyair dan penulis Pendayagunaan Aparatur (Tanzhimat) usia, dan juga tokoh-tokoh sastra lainnya yang tinggal di tahun kemudian telah disebutkan Camlica dalam karya-karya mereka

Saat ini Camlica tampil dengan camilan yang tradisional "Gozleme", es krim dan jagung rebus, dengan kios, air mancur, teh dan kopi yang dijual di toko-toko dan restoran yang dioperasikan oleh Kota Metropolitan Istanbul (ABV. IBB), dikelilingi oleh pohon-pohon bersejarah, flora besar , bunga berwarna-warni dan tulip, dan dengan angin sejuk

Dengan kondisi ini Camlica menjadi suatu objek wisata yang paling indah bagiku selama di Turki. Suasana, cuaca dan tatanan taman maupun pepohonan sangat indah (Awesome). Aku rasanya tidak ingin cepat pergi dari tempat ini bila tidak diburu waktu oleh schedule kami. Ini terbukti aku dan Edo sudah sangat terlambat untuk kembali ke bis. Rasanya belum puas berpose ditempat ini, sayang sekali tak bisa duduk sejam saja menikmati indahnya pemandangan, menyantap kudapan yang dijual diresto dan toko-toko sekitar dan cuaca disini. Hmmm...suasananya.romantis sekali dan ini jelas akan banyak menginspirasi aku untuk menulis. Pasti akan hadir beribu-ribu ide karya puisi dan cerpen di kepalaku (dasar author...!)

Turis asal Irak/Iran? Kita adalah saudara seiman
Duhhh...viewnya indah sekali pas pula dengan outfitku yang anggun. Ini tempat paling indah bagiku selama di Turki
Ayo foto gak bosan-bosannya di posisi ini untunglah Edo sabar banget dan malah gantian lagi fotonya. Ahaa cucok bro..!
Taman ditengahnya, lihatlah bunga-bunga yang baru mulai bersemi
Teduh dan Indah aku terpaku gak mau pulang.

Awesome...awesome Masha Allah. Meski yang lain sudah turun ke bis aku dan Edo tetep kekeh disini
Akhirnya dapet kesempatan juga foto di area ini. Dari tadi rame terusss
Bahkan sudah hampir parkiran Edo maksain aku untuk capture disini sebuah resto dindingnya antik kata Edo, eh ternyata memang bagus.


MAKAN SIANG DI RESTO KEBAB
Berhubung hari sudah siang perjalanan selanjutnya adalah ke suatu resto Kebab yang sangat populer di Turki. “King Kebab”. Tapi seperti biasa selera makanku tetep tidak bisa tergugah. Aku hanya menyantap sepotong roti, setengah potong daging panggang dari 3 potong yang disediakan, minum bergelas-gelas dan penutup buah apel, jeruk. Mama Edo yang duduk satu meja merasa iba melihat aku. “Makanlah, dipaksakan, kasian badan” ujarnya. Aku berkilah aku memang gak bisa makan banyak. Aduh...aduh...!

Aku segera menuju toilet dan demi tetep menjaga wudhu aku langsung berwudhu di kamar mandi toilet. Ternyata banyak juga yang mencontoh jejakku. Keluar dari resto kami menuju mesjid yang berada tak jauh dari lokasi resto untuk sholat Dzhuhur dan Ashar sekalian. Lumayan segar setelah sholat.

King Kebab



HAGIA SOPHIA
Hagia Sophia, salah satu keajaiban sejarah arsitektur yang masih tetap berdiri saat ini, memiliki tempat yang penting dalam dunia seni dengan arsitekturnya, kebesaran, ukuran dan fungsi.

Hagia Sophia, gereja terbesar yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi Timur di Istanbul, telah dibangun tiga kali di lokasi yang sama. Ketika pertama kali dibangun, itu bernama Megale Ekklesia (Gereja Big). Namun, setelah abad kelima, itu disebut sebagai Hagia Sophia (Wisdom Kudus). Gereja adalah tempat di mana penguasa dimahkotai, dan itu juga katedral operasional terbesar di kota selama periode Byzantium.

Setelah tahun 1453 Ottoman menaklukkan Konstantinopel, Hagia Sophia diubah menjadi masjid, diketahui bahwa untuk waktu yang lama mosaik tidak terhapus atau tertutup. Dalam penambahan interior yang kecil dan juga dekorasi ubin terbatas pada bagian-bagian kecil dari galeri atas. Lebih banyak perhatian diberikan untuk eksterior dengan penambahan empat menara dan struktur bangunan yang diperkuat dengan penopang tambahan.

Hagia Sophia diubah menjadi museum oleh perintah Mustafa Kemal Atatürk dan telah berfungsi sebagai salah satu tujuan wisata sejak 1 Februari 1935, menyambut baik pengunjung lokal dan asing. Menurut akta tanggal 1936, Hagia Sophia terdaftar sebagai "Ayasofya-i Kebir Camii Şerifi atas nama Fatih Sultan Mehmed Yayasan Moseleum.

Melihat sekeliling interior dalam museum ini sungguh sangat menakjubkan. Desain arsitektur yang begitu kokoh dan megah. Pada langit-langit dan berbagai dindingnya gambar-gambar yang mencirikan gereja (seperti lukisan Maryam menggendong putranya Isa) sama sekali tidak dimusnahkan, berdampingan dengan kaligrafi yang bertuliskan Allah dan Muhammad.

Pengunjung sangat ramai dan sulit sekali mencari kondisi nyaman buat berfoto. Disamping itu pula dibagian dalam museum sedang dalam tahap renovasi untuk tetap menjaga dinding dan cat yang sudah mulai terkelupas. Renovasi dilakukan hanya untuk memperbaiki yang rusak tanpa ada perubahan sedikitpun terhadap desain interior maupun arsitekturnya. Lihatlah hasil foto-fotoku agak kurang memuaskan untuk didalam museum tetapi di luar hmmmm awesome.

Arsitektur langit-langitnya antik sekali
Lukisan Siti Maryam memangku Isa berdampingan dengan kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad
Edo dengan gaya candidnya terpana menyaksikan kemegahan view bagian dalam
Aku, uni Yulimar dan mama Edo sekalian duduk ngaso tetep eksis foto
Lonceng gereja dibagian arah keluar
Tampak samping museum
Kakek asal Inggris yang ujug-ujug menasehati aku tentang kehidupan, ahhh apakah dia Malaikat? Nasehatnya itu loh seperti tertulis dalam Al Qu'ran
Meski tua masih tetep stylist malah ngerokoknya kenceng banget duh...
Tiga serangkai yang selalu kompak
Tampak depan sebelum meninggalkan lokasi
Dari sisi manapun tetep indah
Gantian sama Edo
Bye Hagia Sophia...next time I will come again
Indahnya membuat gak berhenti-henti ekspos posisi ini cantik banget sih


TAKSIM SQUARE
Perjalanan selanjutnya kami diantar oleh Cansu ke suatu tempat yang disebut Taksim Square. Taksim Square adalah suatu tempat yang merupakan area pertokoan yang sangat luas. Lapangan luas yang ditengah-tengah terdapat Tugu dengan patung laki-laki yang gak jelas apa namanya menjadi tempat kongkow-kongkow kawula muda Turki. Lebih mirip alun-alun di Bandung tapi ini lebih luas lagi. Sedangkan disekelilingnya berdiri mall – mall serta resto dan cafe tempat minum teh atau kopi Turki, disini terdapat juga Hard Rock Cafe.

Cansu sengaja membawa kami kesini untuk memberi kesempatan kepada peserta agar dapat belanja keperluan pribadi seperti T-shirt, Dress, Tas dan sepatu. Di depan hotel Marmara, seluruh peserta menyebar dan dijanjikan harus sudah kembali berkumpul ditempat yang sama jam 5 tepat.

Karena sudah merasa lelah (alias lemas karena kurang asupan), dan juga sama sekali tidak berniat belanja aku, ibu Mariyati dan uni Elly hanya menunggu di alun-alun tersebut. Terasa lama memang menunggu waktu 1 jam terutama dengan cuaca yang sangat dingin. Tiap kali angin berhembus kencang gigi dan tulang-tulangku terasa gemeretak. Ini baru yang dinamakan dingin.

Disekitar lapangan banyak anak-anak kecil maupun orang dewasa menawarkan asongan yang berupa makanan kecil seperti kacang, juga sekedar air mineral atau kopi dan teh hangat. Kami bertiga sudah tidak berselera apa-apa lagi. Sebenarnya pengen cepet sampai ke Hotel, tapi ini schedule dan yang lain suka.

Lama menanti ternyata menyenangkan juga, karena alun-alun ini seperti catwalk. Berbagai jenis dan type orang ada disini, sebagian besar adalah kawula muda Turki, tapi tak sedikit pula pendatang yang baru tiba di Istambul itu terlihat dari koper-koper besar yang mereka bawa. Lalu ketika penjemput datang mereka berpelukan dan pergi. Segala macam ala dandanan ada disini. Modis-modis. Layaknya parade pakaian yang pernah kulihat dimajalah dan televisi. Gadis Turki yang cantik-cantik dengan kulit putihnya berdandan ala artis film, dengan lipstick merah merekah. Masya Allah wanita-wanita Turki cantik sekali. Terlihat sekali Turki menganut Islam yang Liberal dan modern.

Aula di Taksim Square (seperti alun-a;un di Bandung)

Lelah menunggu tak lama kemudian satu persatu peserta datang masing-masing membawa perolehan belanja masing masing. Malah sebagian peserta wanita membeli sepatu boot seperti aku. Seperti biasa gak bisa juga tepat waktu karena pasti ada aja peserta yang ketinggalan atau hilang. Hehehee... begini toh kemarin itu aku dan Edo yang selalu tertinggal, tetapi bukan karena nyasar atau belanja melainkan berfoto ria. Hiks...

Pesrta yang sudah pulang belanja, lihat tuh tas belanjaannya



KUMKAPI FISH RESTAURANT
Sebagai penutup perjalanan hari kedua ini adalah makan malam disebuah restuarant terkenal yang terletak berdekatan dengan pelabuhan laut yang khusus menyajikan menu ikan. Memasuki area restaurant ini hari belum gelap tetapi hampir menjelang malam. Area yang kami masuki seperti suatu komplek reastaurant/cafe. Desain penataan bangku dan meja bagi pengunjung sungguh amat menarik.

Menanti agak lama sebelum penyajian menu utama, kami sempat saling bercanda ketika menyantap hidangan pembuka seperti biasa, salada sayur dan roti. Namun kali ini tanpa kuah kari. Aku berharap menu utama yang disajikan akan sesuai selera. Setelah menunggu agak lama menu utama yang dinanti datang. Aha...sebagian besar dari kami terpesona alias syok! Dalam suatu piring disesiakan satu potong ikan tenggiri yang dipanggang oven dengan ukuran sedang, dihiasi dengan beberapa potong irisan lemon dan bawang bombay. Titik! Kami masih menanti nanti semoga aja ada piring lain yang bakal jadi pelengkap untuk menemani makan ikan tadi. Ternyata tidak! Oh....cuma ikan.

Aku sempat berpikir andaikata ada cabe rawit dan kecap manis pasti maknyuss. Aku tetap memasukkan menu utama itu kedalam perut, biar dikit asal makan. Cuma seperempat yang bisa aku telan dengan bantuan dorongan air putih pula. Aneh rasa ikannya sangat gurihhhh sehingga cepat mendatangkan rasa kenyang dan mual, seperti itulah ciri taste Turki. Cansu menjelaskan kenapa rasa ikan di Turki seperti itu adalah karena ikan tersebut hidup di perairan Turki yang sangat dingin, sehingga kandungan lemak didalam tubuh ikan tersebut padat dan banyak. Hmmmm....

Gerutuan dan komentar tentang menu yang disajikan kubuat sebagai bahan candaan menyejukkan hati. Tetapi ada hal lain yang lebih membuat aku bersuka cita. Ketika keluar dari resto yang kami pilih suasana area yang tadi kami lewati menjelang Maghrib hanyalah berupa susunan meja kursi yang desainnya menarik karena telah gelap menjadi penampilan yang luar biasa indah. Kerlap kerlip lampu membuat area ini menjadi menakjubkan. Masha Allah indahnya. Seperti biasa instink aku dan Edo cukup klik. Kami berdua gak berhenti mengabadikan susana ini dan selalu menjadi peserta yang paling lambat kembali ke bis. Tetapi pas udah jadi hasil fotnya kurang bagusss, terutama yang Edo ngeshoot. Bergetar jadi agak blurr (agak goyang pas Edo ngeklik cameranya, semua diambil dengan camera supaya hasilnya bagus untuk suasanan malem). Tapi gak apalah yang penting dapet nuansa romantisnya.
Patung Ikan yang terdapat dibagian tengah area ini
Edo in action
Masih ditempat yang sama dan gemerlap
Atas saran Edo untuk capture di posisi ini, awalnya aku gak mau, tapi setelah lihat hasilnya lumaya bagus juga
Edo mulai gemar gaya candid
Gantian sama Edo, suka banget aku disini sayang fotonya agak blurr

Pulang ke hotel hari sudah sangat larut, mungkin sudah hampir setengah sepuluh malam. Mana harus check in dan bagi kamar pula. Kali ini Hotel kami berada agak jauh diluar kota tapi hotel bintang 5 kali ya kalau dilihat dari fasilitasnya. Karena lokasinya di luar kota jadi jangan ngarep untuk bisa jalan-jalan lagi shopping window malem hari. Tapi tidak pernah merasa lelah kok. Senangg...!

WIISATA TURKI DAY 1 Yesil Cami, Yesil Turbe, Silk Market

28 Maret 2015


Mimpi...   Jangan pernah berhenti dan lelah untuk bermimpi. Karena dengan mimpi kita akan memiliki suatu kekuatan luar biasa untuk menggapainya. Itulah yang terjadi. Ketika aku mengikuti serial sinetron Kupinang Kau dengan Bismillah yang ditayangkan di SCTV, aku mulai bermimpi.

Sinetron ini menceritakan rangkaian kejadian mempertemukan dua anak manusia Amar (Dimas Anggara dan Nirvana (Natasha Rizki) di Negara 1001 Masjid, Turki. Persamaan mereka hanya satu: Warga Negara Indonesia. Amar adalah santri soleh asal Situbondo yang mendapatkan beasiswa untuk memperdalam agama Islam di kota Istanbul. Sedangkan Nirvana seorang fashion designer glamor yang sedang berlibur di Turki. Sikap dan nilai hidup yang berlawanan ini kerap mendatangkan konflik di antara mereka berdua. Masalah makin keruh dengan munculnya Nordin (Ramzi) teman sekamar Amar yang menafsirkan Islam secara sempit, agama disikapinya dengan cara yang sangat fundamental. Namun perlahan-lahan, Nirvana mulai simpati melihat kerendahan hati dan ketaatan Amar beragama. Keyakinan Amar bahwa Nirvana merupakan jodohnya semakin menguat dan memberikan dirinya keberanian untuk segera meminang Nirvana.

Lokasi screenplay berlangsung sungguh menyentuh hatiku. Maa sya Allah begitu indah : pelabuhan tempat penyebrangan laut Marmara di selat Bosphorus, Background Blue Mosque, Hagia Sophia, dan berbagai tempat lainnya yang tidak kukenal namanya. Aku terpesona dan sungguh takjub, scenery yang sangat indah (awesome). Maka sejak itu aku bermimpi “suatu saat aku harus kesana!”.

Biaya punya.. tetapi bertahun mimpiku belum dapat terealisasi. Mulai dari begitu sulitnya mencari travel agent, lalu juga mencari teman yang mau diajak bergabung. Sebagian travel agent yang menginginkan batas minimal jumlah peserta yang harus mencukupi untuk 1 group travelling. Atik, Ita, Acep, Ade, Tami, Bunga aku tawari, dan semua menolak meskipun hanya menyediakan badan saja, tanpa harus memikirkan biaya. Aku menyanggupi untuk menanggung semua. Ahhhhh... aku hampir putus asa!

Bahkan akhir tahun kemaren harapanku seolah muncul kembali ketika O'im menawari ikut group travelling mbak Wenny ke Turki. Aku sudah mendaftar. Namun akhirnya tidak ada kabar berita lagi tentang rencana travelling ini dari mbak Wenny. Mungkin saja jumlah minimal pesertanya kurang (20 orang). Lalu masih ada lagi harapan yang kujalin. Travel umroh Tazkia menawari travelling umroh plus Turki di bulan Februari 2015 dengan biaya 3950 US$. Aku gembira (karena di Palembang memang jarang ada umroh plus seperti ini), tapi kembali batal dengan alasan tidak ada kawan. Hmmm... aku pasrah. Pikirku kalau belum rezeki tentunya gak akan terjadi.

Namun bila Allah telah menulis dalam kitab kehidupanku semua tetap akan terjadi. Tanpa diduga suatu hari (Selasa) diakhir bulan Januari uni Yulimar menelpon bercerita bahwa dia habis berbelanja di toko peralatan umroh dan haji “Arofah”, katanya dia membaca pamplet penawaran umroh plus Turki yang direncanakan tanggal 27 Maret 2015, biaya 2900 US$. Hmmm... belum selesai bicara aku langsung memotong, “Kita daftar yuk uni!” Kata-kataku keluar begitu saja, tanpa memikirkan panjang. Uni mau tetapi masih mau mencari kalau-kalau ada travel agent yang biayanya lebih murah. Setengah ngotot aku menjelaskan bahwa aku sudah puas mencari dan inilah yang termurah. Tanpa butuh waktu lama hari Jum'at kami langsung mendaftar.

Masih ada sedikit keraguan apakah umroh plus ini akan jadi berangkat (mengingat aku juga pernah mendaftar di travel agent Ar-Rohmah umroh plus Turki, persyaratannya peserta minimal harus 30 orang, karena tidak mencukupi tak ada kabar berita lagi).
“Din ada batasan minimal jumlah peserta gak?”, tanyaku pada Dina petugas administrasi Arofah Travel
“Gak ada bu, 10 orangpun kita tetep berangkat, karena bagi travel Arofah ini untuk pertama kalinya mengadakan menyelenggarakan umroh plus. Insha Allah yang punya travel suami isteri juga akan ikut” balasnya.
“Sampai sekarang sudah berapa orang yang mendaftar?”, tanyaku lagi dengan rasa khawatir.
“ 7 orang”
Ahaaaaaa.....Hmmmmm... aku tersenyum pasti. Akhirnya..... mimpi ini akan jadi nyata!

TURKI SUDAH DIDEPAN MATA
Begitu yakin keberangkatan travel ini sudah hampir pasti, aku menyiapkan segala sesuatunya dengan suka cita. Mulai dari browsing seluruh tata cara, regulasi, dan tips-tips berwisata ke Turki, sampai mempersiapkan busana yang tepat selama travelling, karena pada hari-hari kami disana cuaca di Turki masih dalam musim dingin menuju musim semi. Sampai regulasi aturan pesawat Turkish Airline mengenai bagasi, muatan dan ukuran koper yang boleh dibawa ke kabin. Lengkap sekali! Clinnnng... senyumku merekah.

DEPARTURE
Aku start keberangkatan dari rumah ibu Angga, karena sebagai kakak tertua dia adalah perwakilan orang tuaku sejak mama meninggal, pamit pada papa telah aku lakukan seminggu yang lalu. Kamis 27 Maret 2015 jam 15.30 WIB menumpang pesawat Garuda rombongan mulai meninggalkan Palembang. Sekitar jam     16. 45 kami istirahat sejenak sekalian makan malam di “Solaria Resto dan Cafe” terminal 2D bandara Soeta. Bergantian dan berburu waktu melakukan sholat maghrib dijamak Isya. Akhirnya tepat pukul 21.30 WIB melalui Boarding Gate D6 pesawat Turkish Airline TK-0067 membawa kami meninggalkan Indonesia menuju negeri impianku. Di kursi No-19F aku tersenyum manis...”Turki I will come...it is real. My dream comes true” Hmmmm...Hmmm.

Start meninggalkan rumah
Perkenalan pertama dengan seluruh peserta di bandara SMB 2 Palembang
Just arriving di bandara SOETA
Secara seorang pengamat dan penulis banyak yang aku catat dalam hati mengamati pelayanan Turkish Airline ini. “Stewards and stewardesses” nya agak kurang ramah bila dibandingkan Garuda. Senyum saat welcome dan menawarkan makanan sangat hambar dan terpaksa. Ahaaa... Indonesia is my lovely country for sure! Bahkan sejak dalam pesawatpun aku sudah mulai belajar merasakan  hidangan masakan ala Turki. Hmmmm...

Menu makan malam ala Turki yang disajikan di pesawat
Pramugari Turkish Airline
Sempat transit di 'Changi Airport “ selama 1 jam. Hahaaa... setengah kesal wong cuma turun dan muter pindah masuk pintu doang, bagasi kabin harus diturunkan. Dan di X-ray check in juga yang sungguh ribet dan kembali dinaikkan ke kabin. Resek....! Tapi itulah regulasi dan harus diikuti.

Kesibukan dipesawat saat harus transit di Changi
Sebelum antri di X-ray control masih sempet mejeng dulu kita
Setelah menempuh penerbangan 16 jam sekitar jam 5.00 waktu Istambul pesawat kami mendarat di Ataturk Airport. Udara dingin menyergap ketika aku keluar dari pesawat melalui belalai gajah. Semua dinding berlapis kaca. Terasa megah, aku berhenti sejenak dijembatan belalai gajah tersebut mengambil foto pemandangan dibawah area landas Ataturk Airport, sembari menunggu rombongan yang belum terlihat. Melewati pasport control tibalah di area arrival. Tidak juga terlalu indah sih, bagiku agak mirip dengan arrival/departure area bandara Juanda Surabaya. Tapi tetep foto-foto.


Area landasan pesawat di bandara Ataturk diambil dari atas sesaat keluar dari badan pesawat
Arrival area
Sebagian rombongan ada yang mengurus bagage claim, ke toilet dan yang pasti banyak yang foto-foto juga. Setelah semua urusan selesai mulai keluar menunggu di area luar tempat penumpang menunggu jemputan. Disini para peserta mulai agak rame, soal money changer. Kasian juga ternyata mereka belum tahu informasi kalau di Turki uang rupiah itu tidak diterima alias tidak laku. Ketika aku menjelaskan banyak peserta yang sulit percaya keteranganku, termasuk perwakilan travel agent yang dari Jakarta (mbak Iin). Gimana sih kok travel agentnya sendiri gak paham aturan negara yang akan dikunjungi. Hadehhhh....Yach... terserahlah mau percaya atau tidak itukan informasi yang kudapat dari google ujarku. Perwakilan travel agent dari Jakarta sepertinya juga belum pernah terbang keluar negeri, karena sejak dari Soeta dia salah antri pada saat Pasport Control (antri di tempat foreigner). Aku diam saja, dengan cibiran seolah tak percaya. Akhirnya setelah ditolak oleh money changer barulah mereka percaya. Beruntung mereka masih bisa menarik uang di ATM counter.
Sementara peserta lain sibuk menukar uang dan menarik uang dengan mata uang Turki, kita yang sudah prepare sebelum berangkat foto-foto dulu
Cukup lama menunggu, tiba-tiba seseorang menepuk pundak dan menyapaku,
“Ini group dari travel mana”, sedikit menoleh aku melihat seorang wanita Turki mengenakan jeans dengan style busana sportif.
“Arofah”, jawabku.
“Ohhhh... ini rombongan saya, saya tourist guidenya” ujarnya lagi

Setengah tidak percaya melihat wanita itu bisa berbahasa Indonesia dengan sangat fasih. Cansu seorang wanita Turki berusia 27 tahun, sangat mencintai Indonesia. Orangnya ramah dan sangat bersahabat.

WISATA DIMULAI
Tanpa harus check in hotel, perjalanan untuk hari pertama langsung dimulai. Diawali dengan sarapan di “Warung Nusantara” sebuah resto kecil milik seorang wanita Indonesia bernama Mely yang menikah dengan laki-laki Turki. “Taste” makanannya biasa-biasa saja, cukuplah mengisi perut yang lapar. Menurut Cansu hanya sekali inilah kami menemukan masakan Indonesia. Selanjutnya sampai hari terakhir kami harus mau dan bisa makan masakan ala Turki. Hmmmmm....kebayang deh!

Perjalanan pertama kami menuju ke pelabuhan ferry yang akan menyebrangi laut Marmara melintasi selat Bosphorus, karena schedule hari pertama kami akan menginap di bagian Asia kota Turki yaitu Bursa City. Selat Bosphorus adalah selat yang membelah Turki menjadi dua bagian, yaitu negara yang berada disisi Asia dan sisi Eropah. Udara dingin sangat menyengat sudah terasa meski kami berada didalam bis sejak kami mulai memasuki area pelabuhan. Dingin semakin terasa menggigit begitu kami turun dari bis untuk naik keatas geladak kapal. Dari monitor yang didisplay di kapal temperature udara sekitar 5 derajat Celcius.

Dari geladak kapal pemandangan kota Istanbul sisi Eropa dan sisi Asia yang berselimut kabut tipis, masih saja tampak indah, dengan ditingkahi sejumlah burung camar yang berterbangan di sekitar kapal. Sekali-sekali angin berhembus kencang menghembuskan udara yang sangat dingin, beruntung aku memang sudah sangat siap untuk mengatasi kondisi ini. Sweater wool tebal dan sarung tangan wool tebal juga, sehingga aku sangat menikmati hembusan angin.

Udara dingin semakin terasa ketika Fery mulai berjalan
Anak laki-laki dua beradik yang menggemaskan
Putri cantik dari Pakistan yang berwisata ke Turki hanya berdua dengan bapaknya
Bayi imut yang lucu
Penumpang kapal cukup ramai, mereka adalah turis-turis yang datang dari berbagai negara. Aku sempat berkenalan dengan anak-anak wisatawan yang tiba-tiba saja merasa dekat dengan aku. Hmmm... Bahkan ada rasa haru disaat kapal mulai merapat untuk sandar, kami harus turun lagi kebawah masuk ke bis. Baru saja akan mencari bis, tiba-tiba ada yang berteriak “Beautiful mom, please take a picture for the last”. Aku menoleh dan kulihat 2 orang ABG yang berasal dari Aljazair yang tadi kutemui di resto kapal tersenyum dan melambai kearahku. Aku menghampiri mereka mengambil foto.
ABG asal Aljazair yang juga kakak dari bayi imut tadi, mencariku untuk foto bareng. Bahasa Inggris mereka lumayan bisa dipahami
Ada rasa yang tak bisa kuungkapkan, aku bahagia...karena sepanjang perjalanan ini banyak sekali orang asing baik anak-anak maupun cukup dewasa begitu tertarik dan bersikap ramah mendekatiku. Ya Allah aku hampir kehilangan kepercayaan diri bahwa aku adalah orang baik-baik. Sejak “terrible case” yang dihembuskan oleh M dan A itu aku bahkan hampir menghukum diriku sendiri. Tapi kini didepan mata manusia aku menjadi sosok yang “adoreable”.

Bahkan ada kenangan indah yang terjadi selama perjalanan ini. Tanpa sengaja aku menemukan sosok teman perjalanan yang menyenangkan. Ronaldo (Edo), seorang mahasiswa semester 6. Aku tidak ingat darimana asalnya sehingga kami tiba-tiba menjadi “couple” yang seia sekata bahkan dimana ada aku disitu ada Edo. Aku sama sekali tidak ingat! Tapi yang menjadikan kami selalu bersama hanyalah kesamaan ide, kesukaan dan pandangan. Aku suka fotografi dia juga. Ternyata teknik cara kami mengambil view selalu satu pendapat. Lantas tentang kesigapan dan sebagainya sebagainya semua sama. Alhamdulillah karena sebelum berangkat aku sudah khawatir tidak menemukan teman perjalanan yang seide, terutama dalam pengambilan moment foto untuk dokumentasi.

Sebelum memasuki Green Mosque, karena hari sudah cukup siang kami masuk kedalam restaurant yang tak jauh lokasinya dari Green Mosque. Ini hari pertama kami menyantap makanan full ala Turki, karena makan malam tadi masih ada nasi dan selera Indonesia, sedangkan sarapan paginya masih bisa memilih sesuai selera.

Memasuki restaurant aku terpesona penataan design interiornya. Gua banget... Jati, feminin dan juga keramik. Hmmmm...sukaaa...

Kursi jati warna kayu, piring keramij dan desain gorden yang feminin selera gua bangets
Desain gordennya feminin sekali
Lantai keramiknya cukup unik
Menu pembuka soup dan salad
Menu utamanya, masih belum fasih lidahku menelannya tapi berusaha dimakan biar dikit
Expressi kedinginan karena sehabis sholat tapi belum sempat pake sarung tangan karena sudah dipanggil buat kumpul

GREEN MOSQUE (= Yeşil Camii)
Yeşil Camii dibangun pada 1421 oleh Sultan Mehmed I, yang telah bersatu kembali dengan kekaisaran Ottoman setelah perang saudara sebelas tahun. Yesil dalam bahasa Turki berarti hijau. Lingkungan masjid ini terpisah dari pusat kota di tepi sungai Gok Dere. Disebut Yeşil Camii (Masjid Hijau) diambil dari ciri khas interiornya yang terbuat dari keramik berwarna hijau-biru (turqoise). Turqoise identik dengan kota Bursa.

Area entrance Green Mosque
Tampak samping sebelum area entrance
With Fika isteri pemilik travel Arofah
View inside yang sebagian besar terbuat dari keramik Turqoise
Men prayer area
Dinding di Women prayer area
View bagian dalam diambil dari pintu masuk
Bangku taman dihalaman depan mesjid dengan pohon gundul merupakan kombinasi view yang menarik
Hujan rintik dan langit gelap gak jadi halangan untuk tetap mengabadikan lokasi ini

With Cansu , tourist guide yang ramah dan tegas
Di depan pintu masuk mesjid
Tugce, cocok ya jadi anakku karena mukanya sama-sama lebar. Mirip...kata ibu-ibu lain.
Pemandangan dari sisi yang berbeda di depan mesjid
Yesil Camii dan Yesi Turbe adalah tempat wisata yang paling terkenal di Bursa yang terlihat jelas dari seluruh Bursa, makam duduk di atas bukit dan tercakup dalam ubin monokrom warna terang-hijau yang unik. Kompleks masjid paling terkenal inipun didekorasi dengan keramik turqoise. Seluruh lingkungan bernama "Hijau". Untuk menambah keindahan alam sekitar ada sejumlah dermawan taman dan pohon-pohon, dan kota ini dikelilingi oleh pemandangan hijau di kaki Gunung Uludag.

Tepat di belakang masjid dan lanjut ke atas bukit, adalah Yesil Türbe. Makam segi delapan ini memegang sisa-sisa kejayaan Mehmed II, dan mungkin bahkan lebih mencolok daripada masjid itu sendiri. Didalam masjid ini aku sempat melakukan sholat Dzuhur sekalian jamak Ashar. Setelah sholat aku masih berkeliling diruang dalam masjid menyaksikan keindahan interiornya, setalah itu menghabiskan waktu dengan berpose di tengah keindahan area sekitar masjid. Halaman dan rumah teh sekitarnya, juga indah, dan memiliki pemandangan menghadap ke lembah. Viewnya sungguh “awesome” Masya Allah! Meski hujan rintik dan cuaca dingin tidak membuat aku surut untuk berpose mengambil sudut-sudut terindah view sekitar masjid ini.

Makam Sultan Mehmed I
Keramik Turqoise yang menjadi desain interior di dalam makam
View di depan makam
Pemandangan area sekitar mesjid dan makam
Menuju pintu keluar komplek mesjid dan makam kulihat deretan bunga Tulip yang mulai muncul kuncupnya. Suka!

SILK MARKET
Setelah puas menikmati keindahan pemandangan di area Masjid hijau, kami melanjutkan schedule perjalanan kedua yaitu Silk Market, suatu area pertokoan yang menjual “handicraft” khas Turki. Karena menghemat waktu kami tidak berkeliling di area pertokoan disini. Cansu langsung mengantar kami kesuatu toko yang sudah punya hubungan dengannya. Menurut Cansu jika ingin membeli sovenir/oleh-oleh handicraft lebih baik membeli disini karena semua produk adalah asli produk Turki dan semuanya handmade.

Memasuki toko ini aku sangat takjub pernak-pernik hiasan untuk melengkapi interiuor rumah sungguh sangat cantik dan indah (hobbyku mengumpulkan/mengkoleksi pernik-pernik interior rumah). Aku berkeliling toko hingga lantai 3 yang merupakan area menjual produk busana. Sebelum berangkat ke Turki aku  sudah punya target harus membeli oleh-oleh khas Turki meski cuma 1.  Tidak terlalu banyak aku hanya  membeli 2 buah piring keramik, 1 ukuran besar seharga 79 lyra, dan 1 ukuran kecil seharga 20 lyra dan beberapa keramik seperti guci. Kalau gak bisa menahan emosi pingin dibawa pulang semua, karena semuanya indah dan keren.
Pelayan tokonya cantik dan ramah, bahasa Inggrisnya bagus
Pelayan tokonya suka cita diajak foto bareng. Nice!
Awal deket sama Edo ya disini..
Lihatlah handycraftnya cantik semua...bagaimana aku dapat membawa pulang semua ini. Koperku ohhh tidak!
Cantik...cantik...gak bisa beli cukup difotoin buat dikenang
Area pertokoan di Silk Market
Selesai berbelanja dan window shopping di silk market kita langsung menuju hotel, cukup lelah karena sejak dari keberangkatan di Indonesia kita belum sempat istirahat sempurna. Hotelnya agak jauh tetapi berlokasi di pusat kota Bursa. Sayangnya hujan cukup deras sehingga kita gak bisa window shopping di toko-toko sekitar hotel. Padahal yuk Galuh dan uni Elly berniat untuk mencari coat, mereka yang memang tidak punya alias gak siap membawa.

Tapi daripada kecewa karena udah dandan untuk JJM (Jalan jalan Malam), kita obati dengan action lagi, ditengah hujan yang lumayan deras bukan halangan untuk foto di pinggiran jalan raya yang sangaaat indah dimalam hari. Kerlap kerlip lampunya indahhhh....
Teman sekamar uni Yulimar dan yuk Galuh (orang PLN)
Tetap senyum meski tanpa coat dan kedinginan
Di depan hotel
Setelah foto-foto kita langsung naik lagi kekamar, bersihin make-up dan tidur persiapan packing untuk hari kedua besok, karena kita akan pindah ke Istambul yang merupakan sisi Eropa nya Turki.